Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pak Anton Kecewa


__ADS_3

"Hei, kalian! Aku bawa kue lagi, siapa mau beli?" ucap Zian yang berjalan menghampiri para buruh yang sedang berkumpul sebelum pekerjaan mereka di mulai.


"Bolehlah," sahut mereka.


Zian meletakkan keranjang kue milik Farra di tengah-tengah perkumpulan para buruh tersebut dan para buruh pun mulai memilih kemudian mengambil kue tersebut.


Di saat para buruh sedang asik menikmati kue buatan Farra, Pak Anton tiba di sana dan segera ikut berkumpul bersama Zian dan para buruh perkebunan.


"Ini kue buatan Farra, bukan? Ehm, dia memang benar-benar seorang istri impian. benar 'kan, Zian?" Pak Anton meraih satu buah kue dari keranjang kue milik Farra kemudian memakannya dengan lahap.


Zian tidak menjawab pertanyaan leletus itu, ia hanya tersenyum sambil terus memperhatikannya dengan seksama.


"Oh ya, Zian ... bagaimana lamaranku? Apa dia bersedia menerima lamaranku?" tanya Pak Anton lagi.


Kali ini lelaki itu mulai serius. Setelah menghabiskan satu buah kue milik Farra, perhatiannya pun fokus kepada Zian. Zian menghembuskan napas berat kemudian mulai memasang wajah sedih ketika bersitatap mata dengan lelaki tua yang ganjen itu.


"Maafkan Adik saya, Pak Anton. Farra bilang, dia masih ingin sendiri. Saat ini dia belum siap untuk menikah, dia masih ingin menikmati masa mudanya," sahut Zian.


Pak Anton mengerutkan alisnya heran. Ia tidak pernah di tolak sebelumnya, apalagi kalau sudah diiming-imingi dengan uang banyak seperti ia mengiming-imingi Farra.


"Yang benar saja kamu, Zian. Mana mungkin dia menolak lamaranku, apa jangan-jangan kamu belum menceritakan apa saja yang akan dia dapatkan jika menjadi Istriku?!" Wajah lelaki itu nampak kesal saat menatap Zian.

__ADS_1


"Tentu saja sudah, Pak. Saya sudah memberitahu Farra semua yang ingin Anda berikan kepadanya. Mulai dari mahar yang fantastis hingga rumah mewah yang melebihi dari rumah mewah milik keempat istri Anda yang lainnya. Namun, ia tetap menolak, Pak. Ya, dengan alasan yang sama seperti yang saya ucapkan barusan," sahut Zian.


Lelaki tua itu mendengus kesal. "Seharusnya kamu berusaha lebih keras lagi merayunya, Zian! Apa kamu tidak ingin mendapatkan bonus mobil mewah sama seperti mobilku? Bahkan gajimu pun akan naik dua kali lipat!"


Pak Anton melenggang pergi sambil terus menggerutu dan meninggalkan Zian dan para buruh. Zian hanya bisa tersenyum saat melihat tinggal konyol lelaki tua yang benar-benar 'ngebet' ingin menikahi Farra tersebut.


"Siapa lagi incaran lelaki itu?" tanya salah seorang buruh perkebunan kepada Zian.


Zian terkekeh pelan. "Adik sepupuku, yang membuat kue ini," sahut Zian.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya sambil bergumam. "Dasar ganjen! Sudah tua, bau tanah juga masih saja ingin daun muda."


"Hush! Hati-hati kalau ngomong, nanti kedengaran oleh bandot tua itu kamu bisa dipecat," sahut buruh lainnya sambil tertawa pelan.


Di saat Zian memulai pekerjaannya, tiba-tiba saja hati dan pikirannya terus tertuju pada Farra. Hatinya berdebar-debar tak karuan dan semakin ia mencoba untuk tenang dan berpikiran positif bahwa Farra baik-baik saja, hati Zian semakin merasa tak nyaman.


Karena perasaannya semakin tak karuan, Zian pun memutuskan untuk pulang sebentar. Ia ingin memastikan bahwa Farra dan Aksa baik-baik saja.


"Hai, teman-teman! Aku izin pulang sebentar, nanti aku kembali lagi!" teriak Zian kepada para buruh yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Ya!" jawab mereka.

__ADS_1


Zian melangkah dengan cepat menuju tempat ia memarkirkan mobil Pick Up kesayangannya. Setibanya di sana, mata Zian terbelalak saat mendapati mobil milik Pak Anton yang biasanya juga terparkir di tempat itu, sudah tidak ada di sana.


"Astaga! Kemana lelaki tua itu? Jangan-jangan firasatku benar," gumam Zian.


Lelaki itu bergegas memasuki mobil Pick Up kesayangannya kemudian segera melajukan benda tersebut menuju rumahnya.


"Semoga ini tidak benar! Semoga ini hanya perasaanku saja!" gumam Zian dengan wajah panik sambil melajukan mobilnya.


Sementara itu di kediaman Zian.


Farra masih berada di kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Farra merasa tubuhnya begitu lengket setelah selesai bersih-bersih halaman tadi pagi. Sementara Aksa masih asik bermain mobil-mobilan di ruang depan.


Tepat di saat itu, terdengar suara deru mobil yang terparkir di halaman depan rumah Zian. Aksa tersenyum lebar, ia menyangka bahwa yang datang pada saat itu adalah Om Zian.


Dengan wajah semringah, Aksa membuka pintu depan. Namun, senyum bocah tampan itu sirna saat ia tahu bahwa orang yang saat itu berdiri di hadapannya bukanlah Om Zian, melainkan lelaki tua yang kemarin datang bersama Om-nya itu.


"Di mana Kakakmu, Bocah? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Pak Anton yang masih penasaran akan sosok Farra.


"Kakakku sedang mandi, Om! Om tidak boleh masuk!"


Aksa merentangkan tangannya mencoba menghalangi langkah lelaki tua itu. Namun apalah daya seorang anak kecil seperti Aksa, ia tidak mampu menahan tubuh besar lelaki tua yang menerobos masuk ke dalam rumah tersebut untuk mencari keberadaan Farra.

__ADS_1


"Mandi? Wah, kebetulan sekali!" ucapnya sambil menyeringai licik.


...***...


__ADS_2