Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Ivan Dan Zian


__ADS_3

"Kalian saling kenal?" tanya Farra sambil membulatkan matanya menatap Zian dan Ivan secara bergantian.


Ivan pun tidak kalah kaget setelah mengetahui bahwa lelaki yang mambawa Farra dan Aksa adalah Zian.


"Tu--" Belum sempat Ivan menyapa lelaki itu, Zian malah memeluk Ivan dan menepuk punggungnya.


"Zian," sela Zian sambil tersenyum menatap Ivan yang masih memasang wajah heran.


"Ya, kami saling kenal, Farra. Ivan adalah temanku saat aku masih tinggal di kota. Benar 'kan, Van?!" Zian lagi-lagi tersenyum menatap Ivan.


"I-iya, Farra," sahut Ivan yang masih terlihat shok dengan pertemuan mereka.


"Sebaiknya kita bicara di dalam. Mari, masuk," ajak Zian seraya menuntun Ivan dan Farra yang sedang menggendong Aksa yang masih tertidur nyenyak.


Setelah membuka pintu rumahnya, Zian segera menuntun Farra menuju sebuah kamar dan mempersilakan gadis itu untuk beristirahat di sana bersama Aksa. Sedangkan Ivan duduk di kursi depan sambil menunggu Zian yang masih mengurus Farra dan adiknya.


"Istirahatlah, Farra. Aku ingin bicara sebentar bersama Ivan. Sudah lama aku dan dia tidak bertemu," ucap Zian.


Farra pun menganggukkan kepalanya. "Baik, terima kasih, Kak Zian," sahut Farra.


"Ya, sama-sama."


Setelah Zian pergi menemui Ivan, Farra meletakkan tubuh Aksa yang masih tertidur nyenyak di gendongannya ke atas tempat tidur yang ada di dalam kamar tersebut. Kamar itu memang kecil, tetapi tertata dengan sangat rapi.


Bukan hanya kamar itu, tetapi seluruh ruangan yang ada di dalam rumah sederhana tersebut terlihat begitu rapi. Farra mencari kamar mandi dan ia menemukan tempat itu di samping dapur.


Farra menumpang mandi di sana kemudian mengganti pakaiannya. Seharian berjalan tanpa tujuan membuat tubuhnya lelah dan yang pasti terasa lengket dan tidak nyaman.

__ADS_1


Sementara itu.


"Van, sebenarnya apa hubunganmu dengan Farra dan Aksa? Apa kalian sudah kenal lama?" tanya Zian dengan tatapan serius menatap Ivan.


"Tu--"


"Zian, panggil saja aku Zian," sela Zian.


"Baiklah."


Ivan menghembuskan napas panjang kemudian melanjutkan ucapannya. Ivan menceritakan semua tentang Farra. Siapa Farra dan Aksa yang sebenarnya. Kemudian bagaimana hubungan gadis itu dengan tantenya yang jahat.


Ivan juga menceritakan saat Farra dipaksa menikah dengan Tuan Hendrik dan sekarang berakhir menjadi istri dari seorang Raja karena dendam salah paham.


Tidak lupa, Ivan pun menceritakan bagaimana penyesalan dirinya yang begitu dalam, karena sudah menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab atas nasib malang Farra.


Berbagai macam ekspresi ditampakkan oleh Zian. Dari kesal, marah, benci hingga rasa iba yang begitu mendalam akan nasib Farra dan Aksa yang begitu mengenaskan.


"Terima kasih banyak, Zian. Saya percaya Anda pasti bisa menjaga mereka dengan baik."


"Ya, tentu saja!" sahut Zian.


"Ehm, bolehkah saya bertanya? Bagaimana Anda bisa berada di sini? Dan apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Ivan sambil menautkan kedua alisnya menatap Zian yang kini sedang melempar senyum kepadanya.


Bukan hanya pertanyaan itu, tetapi masih ada banyak lagi pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Zian.


"Nanti, aku pasti akan menceritakannya kepadamu. Namun, tidak sekarang. Biarkan aku menikmati kehidupanku, Van. Dan aku harap kamu tidak akan pernah memberitahu siapapun, tentangku dan keberadaanku di sini. Kamu mengerti 'kan?"

__ADS_1


Ivan menganggukkan kepalanya. "Ya, saya mengerti," sahut Ivan.


Zian mengerutkan alisnya saat menatap Ivan dan sepertinya ia sedang berpikir keras.


"Jadi ... kamu sudah tidak bekerja untuk lelaki itu lagi?" tanya Zian.


Ivan menggelengkan kepalanya. "Ya, saya sudah mengundurkan diri."


Tersungging sebuah senyuman hangat di wajah Zian. "Apa kamu ingin membantuku, Ivan?"


"Ya, tentu saja."


Zian dan Ivan pun kembali berbincang dengan serius. Sedangkan Farra yang baru saja selesai mandi dan berpakaian, kembali menghampiri kedua lelaki itu.


Farra masih penasaran kenapa Ivan bisa berada di tempat ini. Farra takut Ivan mengikutinya atas perintah dari Tuan Raja.


Perlahan ia berjalan menghampiri keduanya dan kedatangan Farra saat itu membuat Ivan dan Zian terkejut. Namun, setelah beberapa saat kemudian kedua lelaki itupun menyunggingkan senyuman hangat mereka.


"Farra? Duduklah," ucap Zian sembari mempersilakan Farra duduk disalah satu kursi kosong.


Zian lagi-lagi memperhatikan Farra tanpa berkedip sedikitpun. Apalagi penampilan polos Farra sehabis mandi yang terlihat lebih segar dan pastinya lebih cantik.


"Farra, aku terus menghubungi nomor ponselmu. Tetapi, nomor ponselmu sama sekali tidak aktif," ucap Ivan.


Farra tersenyum kecut sambil memilin ujung pakaiannya.


"Ehm, sebenarnya ponsel Tuan Ivan sengaja aku tinggalkan di dalam lemari pakaian. Mungkin ponselnya mati karena tidak di-charge. Aku pikir, aku akan kembali bersama Aksa dan aku sudah tidak membutuhkan ponsel itu lagi," sahut Farra.

__ADS_1


"Ya, ampun, Farra!" pekik Ivan seraya menepuk jidatnya.


...***...


__ADS_2