Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Dia Istri Mudaku!


__ADS_3

Dengan langkah tergesa-gesa, Raja berjalan menghampiri Farra dan Ivan yang masih duduk di kursi taman tersebut.


"Ehem!" Raja berdehem dan membuat Farra dan Ivan sontak menoleh kepadanya.


Ivan segera bangkit dari posisi duduknya kemudian membungkuk hormat kepada lelaki itu sambil tersenyum hangat. Begitupula Farra, ia bangkit kemudian menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Ivan.


"Sebaiknya kita berangkat, Ivan! Apa kamu lupa sudah pukul berapa sekarang?!" ketus Raja.


Raja memang bicara dengan asistennya itu, tetapi mata tajam tetap tertuju pada Farra yang masih berdiri dengan kepala tertunduk menatap tanah.


"Maafkan saya, Tuan."


Raja membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menuju mobil dan diikuti Ivan dari belakang. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu, Ivan sempat menatap Farra yang sedang ketakutan. Ia takut Tuan Raja kembali menghinanya seperti tadi. Setelah Tuan Raja dan Ivan pergi, Farra pun kembali ke pekerjaannya.


Di perjalanan.


"Apa yang kalian lakukan di tempat itu?" Raja menatap punggung Ivan yang sedang menyetir mobilnya dengan tatapan tajam. Dan terlihat jelas di raut wajah lelaki itu bahwa ia sedang kesal.


"Maksud Tuan, saya dan Nona Farra? Kami hanya bicara biasa saja, Tuan Raja."


Dengan begitu tenang, Ivan menjawab pertanyaan Tuan Raja karena ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Namun, tidak bagi Tuan Raja. Ia begitu kesal dan saking kesalnya, Raja ingin sekali menggetok kepala Ivan dengan sepatu yang sedang ia kenakan.


"Apa yang kalian bicarakan?!"

__ADS_1


"Hanya obrolan biasa saja, Tuan. Kami membicarakan masalah kaki Nona Farra yang membengkak akibat terjatuh."


Raja menautkan kedua alisnya heran. "Terjatuh? Kapan dia terjatuh? Lalu, bagaimana keadaan kakinya sekarang?" tanya Raja yang begitu penasaran.


"Nona Farra bilang, dia terjatuh saat mengikuti langkah Tuan dari belakang. Saya sudah memeriksa kakinya dan saya rasa Nona Farra harus segera dibawa berobat. Ehm, Tuan ... bolehkah saya memanggilkan Dokter untuk Nona Farra?"


Raja sempat berpikir sejenak dan mencoba mengingat-ngingat kapan dan dimana Farra terjatuh. Setelah beberapa saat, akhirnya Raja pun ingat kejadian itu. Farra terjatuh saat ia menunjukkan kamar baru untuk gadis itu.


"Sebentar, sebentar! Kamu bilang, kamu memeriksa kakinya yang bengkak? Apa itu artinya kamu sudah menyentuh kaki Farra?!" pekik Raja setelah mencerna dengan baik ucapan asistennya itu.


"Ehm, ya ...." Ivan pun mulai bingung kemana arah pertanyaan majikannya itu.


Raja menendang jok depan yang sedang diduduki oleh Ivan dengan cukup keras. Wajahnya terlihat benar-benar kesal.


"Ingat ya, Ivan! Farra adalah istri mudaku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun berani menyentuhnya. Termasuk kamu, apa kamu dengar itu?! Dan soal Dokter itu, Farra tidak butuh bantuanmu, jadi lupakan saja!" ketus Raja sambil menyilangkan tangannya ke dada.


"Baguslah kalau begitu! Dan ingat sekali lagi, kalau kamu berani menyentuh gadis itu maka aku tidak akan segan-segan memecatmu," tegas Raja.


Sementara itu di kediaman Raja.


Bu Eni yang masih penasaran dengan sosok Farra, perlahan menghampiri gadis itu. Farra yang sedang asik membersihkan rumah megah itu, terkejut saat Bu Eni mendekatinya.


Farra cemas, ia yakin wanita itu pasti ingin memarahinya lagi. Walaupun sebenarnya Farra sendiri tidak merasa melakukan kesalahan.


"Farra, ikutlah denganku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Bu Eni sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia memantau keadaan sekitar karena takut ketahuan Nona Vania.

__ADS_1


"Baik, Bu."


Farra mengikuti langkah kaki Bu Eni yang menggiringnya ke suatu tempat. Tempat yang aman dsn nyaman untuk mereka bicara. Dengan susah payah, Farra mengikuti Bu Eni hingga wanita itu menghentikan langkahnya.


"Duduklah, Farra."


Bu Eni mempersilakan Farra untuk duduk di sebuah kursi dan setelah gadis itu duduk, Bu Eni pun ikut duduk di sampingnya.


"Farra, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? Aku ingin tahu sebenarnya apa hubunganmu dengan Tuan Raja yang sebenarnya?" Tanpa menunggu jawaban dari Farra, Bu Eni sudah melemparkan pertanyaan itu kepada Farra.


Farra tersenyum kecut sembari menundukkan kepalanya menghadap lantai. "Aku berkata jujurpun, Bu Eni pasti tidak akan mempercayainya," sahut Farra.


"Jangan bilang seperti itu, Farra. Aku hanya ingin tahu lebih jelas lagi agar aku tidak melakukan kesalahan."


Farra menghembuskan napas berat, masih dengan senyuman yang terlihat hampa di wajahnya. "Aku adalah istri muda Tuan Raja. Aku dan Tuan Raja baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Namun, sayangnya aku tidak tahu apa alasan lelaki itu menikahiku. Aku bahkan tidak tahu bahwa Tuan Raja sudah memiliki istri," tutur Farra.


Farra menoleh kepada Bu Eni yang kini menatapnya dengan mata membulat sempurna. "Pasti Bu Eni tidak percaya, bukan? Ibu pasti mengganggapku sedang berkhayal saat ini. Namun, sayangnya aku tidak sedang berkhayal."


"Ja-jadi itu benar? Kamu adalah Istri kedua dari Tuan Raja?" tanya Bu Eni lagi.


"Ya. Tapi, lebih baik Ibu diam saja. Mereka yang tidak percaya pasti akan menganggap itu sebuah lelucon besar dan akan jadi bahan tertawaan mereka."


Bu Eni menatap lekat wajah kusut Farra dan ia sadar bahwa gadis itu tidak sedang berbohong padanya.


"Maafkan Ibu ya, Nak Farra. Karena perlakuanku terhadapmu selama ini kurang menggenakkan," ucap Bu Eni.

__ADS_1


...***...


__ADS_2