Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Vania Mabuk


__ADS_3

"Ayo, Vania! Sebaiknya kita pulang, kamu sudah kebanyakan minum," ucap Tania sembari menarik tubuh Vania yang mulai sempoyongan.


"Sebentar lagi, Tania. Aku masih ingin bersenang-senang bersama dia. Benar 'kan, Sayang?!" sahut Vania sambil tertawa lepas kemudian memeluk seorang gigolo tampan yang sejak tadi menemaninya.


"Tapi, aku harus pulang, Vania! Dan kamu harus ikut aku pulang, suka ataupun tidak!" Tania tidak peduli bagaimana reaksi Vania. Ia terus menarik tubuh wanita itu untuk mengikutinya.


Vania yang sudah mulai mabuk itupun hanya bisa pasrah, ia bahkan tidak sanggup untuk menolaknya. Setibanya di tempat parkir, Tania segera memasukkan tubuh Vania yang sempoyongan itu ke dalam mobilnya.


"Masuklah, Vania." Setelah berhasil memasukkan Vania ke dalam mobilnya, Tania pun segera menyusul wanita itu memasuki mobil tersebut.


"Kamu ini di ajak bersenang-senang malah mabuk. Bagaimana, sih?!" gerutu Tania yang kesal.


Vania kembali tertawa lepas. "Ya, ya, maafkan aku!" jawabnya.


Tania memutarkan kedua bola matanya kemudian segera melajukan mobil tersebut menuju kediaman sahabatnya itu.


"Aku akan mengantarkanmu pulang."


"Terserah, lagipula Raja pun sudah tidak peduli denganku," jawab Vania sambil tersenyum sinis.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh Tania tiba di depan kediaman Raja. Para petugas keamanan segera membukakan pintu gerbang dan membantu menuntun Vania masuk ke dalam rumah mewahnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tania sayang!" racau Vania seraya melambaikan tangan kepada Tania yang sudah bersiap meninggalkan tempat itu.


"Ya, sama-sama." Tania pun segera melajukan mobil tersebut menuju kediamannya.


"Lepaskan aku, aku bisa sendiri!" Vania menepis tangan salah seorang petugas keamanan yang mencoba membantunya.


"Baik, Nona." Petugas keamanan tersebut membungkuk hormat kemudian kembali ke depan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dengan tertatih-tatih, Vania melangkahkan kakinya menelusuri kediaman mewah milik Raja. Hingga akhirnya ia tiba di depan kamar utama dengan penuh perjuangan.


Perlahan Vania mendorong pintu kamar tersebut dan ternyata kamar itu tidak dikunci. Vania mengerutkan kedua alisnya ketika ia tidak mendapati sosok tampan yang menjadi penghuni kamar itu.


"Kemana dia?!" gumam Vania sambil tersenyum sinis.


"Entah mengapa feeling-ku mengatakan bahwa Raja sedang berada di kamar gadis kampung itu," racau Vania seraya menuntun kakinya menuju ruangan tersebut.


Ternyata apa yang dipikirkan oleh Vania adalah benar. Raja sedang tertidur nyenyak di tempat tidur lusuh milik Farra. Wajahnya nampak tenang dan seolah tidak memiliki beban sedikitpun.


"Benar 'kan apa yang ku katakan? Dia pasti tidur di sini," gumam Vania seraya menghampiri Raja yang masih tidak mengetahui adanya Vania di ruangan sempit itu .


Vania berjongkok di depan Raja yang masih tertidur pulas. Ia menatap wajah tampan yang masih terpejam itu sambil tersenyum kecut. Dari raur wajah Vania, nampak jelas bahwa ia benar-benar kecewa kepada Raja, terutama pada sikapnya yang tiba-tiba berubah akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Kenapa kamu menjadi seperti ini, Raja? Bukankah kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis itu. Tapi, sekarang ... kamu malah bersikap seperti orang gila setelah kepergian gadis itu," gumam Vania sambil membelai wajah suaminya itu.


Tiba-tiba tubuh Raja menggeliat. Ia mencium aroma tidak menyenangkan di indera penciumannya. Aroma yang membuat kepala dan perutnya kembali bergejolak.


Perlahan Raja membuka matanya dan ia begitu terkejut ketika mendapati Vania yang sedang berjongkok di hadapannya dengan wajah kusut.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ketus Raja seraya menutup hidungnya dengan bantal milik Farra.


Vania tersenyum sinis. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, Raja. Sedang apa kamu di sini? Mencoba mengingat bagaimana aroma tubuh Farra? Atau ... membayangkan percintaan panas kalian, iya?!"


Raja masih saja menutup separuh wajahnya dengan menggunakan bantal milik Farra yang masih tercium dengan jelas aroma rambut gadis itu.


"Kamu minum?" tanya Raja sembari memperhatikan wajah Vania dengan seksama.


Vania tertawa lepas. "Heh, bukan urusanmu. Sebaiknya urus saja dirimu sendiri, Raja!" sahut Vania dengan penuh penekanan.


Vania bangkit kemudian kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan sempit itu, sedangkan Raja hanya diam dan memperhatikan Vania dengan seksama tanpa berkeinginan membantu istrinya itu.


Raja terus menatap Vania yang berjalan tergopoh-gopoh hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.


"Entah mengapa indera penciumanku begitu sensitif. Aku mencium aroma maskulin di tubuh Vania dan aku yakin sekali itu bukanlah aroma tubuhku. Lagipula aku dan Vania sudah tidak saling bersentuhan. Aku yakin sekali bahwa aroma maskulin itu adalah milik orang lain. Tetapi anehnya kenapa perasaanku biasa-biasa saja? Aku sama sekali tidak merasa sakit hati apalagi kecewa kepada Vania," batin Raja dengan sejuta tanya di kepalanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2