Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Vania Minta Rujuk


__ADS_3

"Di saat Raja masih merasa kesal setelah kepergian Leo, tiba-tiba saja seorang pelayan datang menghampirinya. Tubuh pelayan itu nampak bergetar karena ketakutan. Sebenarnya ia takut saat harus menghampiri Tuan Raja yang emosinya sedang tidak terkontrol tersebut.


"Tu-tuan ...." Bibir pelayan itu bahkan ikut bergetar karena saking takutnya melihat wajah Tuan Raja yang masih memerah.


"Apa lagi?!" teriak Raja.


"Ehm, Nona Vania--" Belum selesai pelayan itu berkata-kata, Vania sudah berdiri di belakangnya sambil menyunggingkan sebuah semyuman untuk Raja.


Pelayan segera pamit, ia tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu. Apalagi setelah melihat ekspresi yang di tampakkan oleh Raja ketika Vania berada di hadapannya.


"Mau apa lagi kamu ke sini, Vania?" tanya Raja seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mencoba membersihkan sisa air mata yang sempat jatuh dari sudut kedua matanya.


"Raja," lirih Vania seraya berjalan menghampiri Raja yang terlihat sangat kacau.


Di saat Vania berjalan menghampirinya, Raja malah memilih mundur dan menjaga jarak dari wanita itu. Ia masih merasakan pusing yang amat sangat saat wanita itu berada di dekatnya.


"Raja, maafkan aku," lirih Vania seraya menjatuhkan tubuhnya dan bersimpuh di lantai ruangan itu sambil menitikkan air mata.


Raja terdiam dan memperhatikan Vania yang sedang terisak dengan seksama. Lelaki itu menghembuskan napas panjang, ia bingung sebenarnya apa yang diinginkan oleh wanita itu sekarang. Tangisan Vania bahkan terdengar semakin jelas di telinga Raja.

__ADS_1


"Sandiwara apa lagi yang ingin kamu ciptakan, Vania? Bukankah kamu sudah bahagia dengan keputusanmu hari itu?" Raja menjatuhkan dirinya di sofa dan tatapannya tetap tertuju pada wanita itu.


"Maafkan aku, Raja! Aku menyesal ... sekarang, bolehkah aku meminta kesempatan kedua darimu? Aku berjanji akan menjadi istri yang baik dan menuruti semua perintahmu. Aku juga berjanji akan mengundurkan diri dari pekerjaanku dan bersedia menjadi istrimu sepenuhnya, Raja."


Vania menangkupkan kedua tangannya di hadapan lelaki itu sambil menghiba. Berharap Raja bersedia memberikan kesempatan kedua untuknya. Sekarang ia sudah tidak punya pilihan lagi selain kambali kepada Raja.


Lelaki yang ia harapkan bisa menjadi sosok pengganti Raja, malah menolaknya mentah-mentah. Sedangkan pekerjaannya sebagai seorang model, gajinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang belanja yang selalu diberikan oleh Raja kepadanya.


Raja tergelak di ruangan itu dengan suara yang cukup keras sehingga suara tawa lelaki itu menggema di seluruh ruangan. Raja boleh tertawa, tetapi hatinya saat itu hancur dan menagis lirih.


"Kesempatan kedua katamu, Vania?" Raja menghentikan tawanya kemudian menatap Vania yang masih bersimpuh di lantai dengan tatapan sinis.


Vania menganggukkan kepala dan ia sangat berharap Raja bersedia memberinya kesempatan itu sekali lagi. "Ya, Raja."


Vania membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka ternyata Raja benar-benar ingin kembali bersama Farra. "Jadi ... kamu benar-benar ingin kembali bersama gadis kampung itu, Raja?"


"Ya, tentu saja, Vania. Ada bayiku bersamanya. Sedangkan kamu? Kamu tidak akan pernah bisa memberiku keturunan bahkan sampai kiamat melanda dunia ini," sahut Raja yang kemudian kembali tertawa lepas di ruangan itu.


Vania sangat kesal mendengar kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut lelaki itu. Gigi-giginya bahkan sampai bergeretak karena saking dongkolnya setelah mendengar penuturan lelaki itu.

__ADS_1


"Bagaimana? Kamu pasti tidak sanggup 'kan?"


Vania masih berpikir dengan keras, apakah ia sanggup kembali bersama Raja. Sebab lelaki itu malah ingin kembali bersama Farra dengan alasan bayi yang dikandung oleh gadis kampung itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Vania pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Raja. Aku bersedia. Aku rela hidup di antara kalian asalkan kamu masih bersedia menerimaku kembali," jawab Vania.


Perlahan Raja melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu walaupun sebenarnya kepalanya masih terasa sakit. "Sebenarnya apa alasanmu ingin kembali padaku, Vania? Jangan pernah katakan bahwa alasanmu karena cinta, karena aku rasa itu tidak mungkin."


"Serius, Raja. Aku masih mencintaimu," lirih Vania sekali lagi.


Vania bangkit dari posisinya dan sekarang ia berdiri di hadapan Raja seraya menatap mata lelaki itu lekat. Untuk beberapa detik, baik Vania maupun Raja terdiam dengan mata yang masih saling bertaut.


Namun, Raja segera mengalihkan tatapannya kemudian berjalan menuju meja kerja yang terlihat sangat berantakan. Lelaki itu meraih sebuah berkas dari dalam laci dan membawanya ke hadapan Vania.


"Tanda tanganilah. Ini adalah surat perceraian kita dan soal harta gono-gini, kamu tidak usah khawatir, kamu pasti akan mendapatkannya."


Raja menyerahkan surat perceraian itu kepada Vania kemudian disambut oleh wanita itu dengan tangan gemetar. "Tapi, Raja ... bulankah kamu bilang ingin menerimaku kembali? Lalu kenapa malah jadi seperti ini?!"


"Tanda tangani saja, Vania. Karena aku tahu apa sebenarnya tujuanmu ingin kembali padaku."

__ADS_1


Raja kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa kemudian bersandar dengan kepala menghadap langit-langit ruangan itu.


Vania kembali menitikkan air mata sembari menatap berkas yang sekarang sedang berada di tangannya.


__ADS_2