Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Zian. Di mana ia akan mengesahkan Farra menjadi istrinya. Zian sudah terlihat sangat keren dengan setelan jas berwarna silver.


Zian duduk tepat di hadapan seorang laki-laki paruh baya yang kini menatapnya sambil tersenyum hangat. "Kamu tidak sedang gugup 'kan, Nak?" goda lelaki tua tersebut.


Zian tersenyum kecut. Lelaki tua itu tahu saja apa yang dirasakan oleh Zian saat ini. Ya, sebenarnya Zian sangat lah gugup. Ia takut salah ketika mengucapkan ijab kabul nanti. Apalagi tamu yang menghadiri acara pernikahannya, tidaklah sedikit.


Dari keluarga besar, kerabat-kerabat, sahabat, teman-teman dan tidak lupa para rekan bisnisnya. Banyak bos-bos besar yang sudah berkumpul di tempat itu hanya untuk menunggu Zian yang akan mengubah statusnya. Dari seorang lelaki single menjadi pria beristri.


"Sedikit, Pak." Zian melebarkan senyumnya, mencoba meyakinkan Pak Penghulu bahwa dia baik-baik saja.


Pernikahan Zian dan Farra saat ini menggunakan tema Outdoor Wedding. Di mana Zian sengaja menyewa sebuah taman yang akan menjadi saksi pernikahannya bersama Farra. Taman tersebut di sulap sedemikian rupa oleh para petugas WO hingga terlihat sangat cantik dan menjadi tempat favorit para tamu undangan untuk berselfie ria.


Hidangan pun sudah tersedia dengan barbagai macam menu. Mulai dari tradisional, hingga international dan yang paling mendominasi dari semuanya adalah menu khas negara tetangga, di mana kelaurga besar Zian berasal.


Para tamu undangan sudah berkumpul. Mereka duduk di kursi tamu yang tersusun rapi di depan pelaminan megah nan indah. Tidak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun hadir juga.


Farra melangkah dengan anggun menuju pelaminan bersama para Bridesmaid yang mengikutinya dari belakang. Kini seluruh pasang mata tertuju padanya, apalagi saat ini Farra menjadi wanita tercantik di antara seluruh wanita yang berada di tempat itu. (Ya, iyalah. Masa pengantin wanitanya kalah cantik sama tamu undangan, hehe ... )


Farra terlihat cantik dengan gaun pengantin yang melekat erat di tubuh indahnya. Warna gaun tersebut selaras sengan setelan jas yang sedang di kenakan oleh Zian. Make up natural yang menghiasi wajahnya, membuat penampilan Farra menjadi semakin sempurna.


Zian bahkan terpesona, lelaki itu tidak dapat mengedipkan matanya barang sekalipun. Keindahan yang tidak pernah ia lihat dan sadari sebelumnya.


Setibanya di pelaminan, Farra pun duduk di samping Zian sedangkan para Bridesmaid yang tadi menuntunnya kembali ke tempat mereka.

__ADS_1


"Ya, Tuhan! Kamu siapa? Bidadari? Boleh kita kenalan?" bisik Zian.


"Ish, Kakak apaan sih?!" Farra mencubit pelan paha lelaki itu, yang kebetulan berdekatan dengan pahanya.


"Aku sedang menetralkan rasa gugupku, Farra sayang! Tolong aku," sahutnya seraya menggenggam tangan Farra.


Farra terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. Tangan lelaki itu terasa sangat dingin, sedingin es. Sebenarnya bukan hanya Zian yang gugup, Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa jauh lebih gugup dari anak lelakinya itu.


Mereka takut Zian salah ucap, apalagi kalau sampai berulang-ulang. "Semoga Zian lancar ketika mengucap ijab kabul nanti ya, Bu. Rasanya Ayah lebih gugup ketika melihat Zian melakukannya dari pada Ayah sendiri yang duduk di sana."


"Ya, Ayah. Semoga saja," sahut Nyonya Khalifa sambil menggenggam tangan Tuan Ameer dengan erat.


Serangkaian acara sudah mereka lalui, hingga kini tiba saatnya di mana Zian harus mengucapkan ijab kabul dan mengesahkan Farra menjadi istrinya.


Pak Penghulu tersenyum kemudian mengulurkan tangannya kepada Zian. Setelah Zian menyambut uluran tangan Pak Penghulu, lelaki paruh baya itu pun memulainya.


Pak Penghulu menghentakkan tangannya dan getarannya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh bagian tubuh lelaki itu. Zian semakin gugup, tetapi ia masih bisa mengontrol dirinya. Zian membuka mulutnya kemudian menjawab ucapan dari Pak Penghulu.


"Saya terima nikahnya Zhafarra Maidha binti Arman dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" 


"Bagaimana, Saksi? Sah?"


"SAH!" jawab para saksi serempak, termasuk Tuan Ameer.

__ADS_1


"Fiuhhh!"


Zian menyeka keringat yang jatuh di antara pelipisnya. Ia lega karena akhirnya saat-saat mendebarkan itu terlewati. Kini Farra sudah sah menjadi miliknya dan sekarang tak akan ada yang bisa menggangu hubungannya lagi bersama wanita itu.


Bukan hanya Zian yang lega, tetapi kedua orang tuanya pun sama. Mereka bahkan sampai berpelukan ketika Zian berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan lancar.


"Akhirnya, Ayah! Cucu ... otw!" ucap Nyonya Khalifa kegirangan.


Setelah selesai mengucapkan ijab kabul, kini saatnya pemasangan cincin ke jari manis masing-masing. Cincin kawin yang diberikan oleh Zian kepada Farra adalah cincin kawin spesial.


Nyonya Khalifa sengaja memesannya di toko perhiasan terkenal di negara asal Sang Suami bahkan dengan design yang spesial pula, hanya satu dan satu-satunya.


Setelah selesai acara ijab kabul, kini pasangan yang tengah berbahagia itu menyambut para tamu yang ingin bersalaman dengan mereka. Salah satunya adalah pasangan Raja dan Sameera yang kini berada di hadapan mereka.


"Selamat ya, Zian. Akhirnya kalian sah juga." Raja mengulurkan tangannya kepada Zian dan Farra.


"Terima kasih, Raja. Lalu kapan giliran kalian?" tanya Zian.


"Sebentar lagi. Benar 'kan, Sameera," sahut Raja seraya merengkuh pundak wanita itu.


"Wah, selamat kalau begitu."


"Oh ya, di mana Raffa?" tanya Raja yang sejak tadi mencari keberadaan sosok mungil itu.

__ADS_1


"Di sana." Farra menunjuk ke arah Nyonya Khalifa yang sedang menggendong si kecil Raffa bersamanya.


"Baiklah, aku permisi dulu. Aku ingin menemui Raffa, aku sudah merindukannya." Raja dan Sameera pun segera menghampiri Nyonya Khalifa kemudian menemani bayi mungil itu.


__ADS_2