
Sementara itu.
Tok ... tok ... tok ....
"Itu pasti mereka! Tidak, tidak, mereka tidak boleh mengusirku dari rumah ini! Rumah ini milikku, hanya milikku!" gumam Nurmala dengan wajah cemas.
Suara ketukan itu semakin keras saja karena Nurmala tidak juga membuka pintu rumah tersebut. Bukan hanya suara ketukan, sekarang orang-orang suruhan Ivan sudah mulai emosi dan meneriaki nama Nurmala.
"Buka, Nyonya Nurmala. Jika Anda tidak juga membukanya, maka jangan salahkan kami jika kami mendobrak pintunya!" ancam mereka.
Namun, Nurmala tidak juga beranjak dari posisinya. Ia tetap kekeh pada pendiriannya untuk mempertahankan rumah tersebut. Hingga kesabaran para lelaki bertubuh tinggi besar itupun habis dan akhirnya memilih mendobrak pintu rumah tersebut.
Dalam beberapa kali mendobrak, akhirnya pintu rumah itupun terbuka dan nampaklah Nurmala yang sedang berdiri dengan tubuh bergetar karena ketakutan.
"Anda benar-benar sudah menyusahkan kami!"
Salah seorang lelaki sangar itu menghampiri Nurmala kemudian menarik tangannya dengan kasar. Sama seperti ia memperlakukan Aksa, ia pun mendapatkan perlakuan yang sama dari lelaki itu.
Lelaki itu menyeretnya hingga ke halaman depan kemudian mendorongnya dengan keras hingga wanita paruh baya itu tersungkur di tanah. Sementara yang lainnya, mengeluarkan barang-barang milik Nurmala.
"Sialan kalian!" umpat Nurmala.
Lelaki sangar itu malah tersenyum sinis saat Nurmala menghardiknya. Nurmala mengangkat tubuhnya dan kini ia berdiri di depan lelaki itu.
"Katakan pada Raja sialan itu, jika ia bisa mengambil kembali harta yang sudah ia berikan kepadaku. Sekarang aku minta kembalikan kenikmatan yang ia rasakan dari tubuh keponakanku! Apa dia bisa, ha?!" teriak Nurmala kesal.
__ADS_1
"Jika ia tidak bisa mengembalikan keponakanku dengan keadaan seperti semula, seharusnya dia malu mengambil rumah ini dariku!" hardik Nurmala sambil meludah ke samping dengan kasar.
"Kami hanya menjalan perintah kami saja, Nyonya. Itu urusan Anda dan Tuan Raja," sahut lelaki itu.
Selang beberapa saat, semua barang-barang pribadi milik Nurmala berhasil dikeluarkan dan Nurmala pun segera pergi dari tempat itu sambil menangis dan mulutnya terus mengumpat kasar.
"Ingat kamu, Raja. Setelah ini hidupmu tidak akan pernah tenang karena sudah memperlakukan kami seperti ini!"
Nurmala bingung harus ke mana, karena saat ia mendapatkan rumah baru tersebut, ia sudah menjual rumahnya yang dulu dan uangnya sudah ia gunakan untuk berfoya-foya bersama teman-temannya.
"Ya, Tuhan! Sekarang aku harus ke mana? Aku memang bodoh, seharusnya aku biarkan Farra ikut denganku. Paling tidak gadis itu masih bisa di andalkan untuk mencari uang untuk kami bertiga," gumamnya.
Sementara Farra, Aksa dan Nurmala menderita akibat keputusan Raja, berbeda dengan Vania. Wanita itu sedang menikmati puncak kebahagiaannya.
"Akh, aku puas, Tania! Akhirnya aku bisa menyingkirkan duri dalam pernikahanku," ujar Vania bicara bersama Tania, sahabatnya via telepon.
"Syukurlah kalau begitu. Itu artinya kamu tidak perlu mengeluh lagi dan nikmati kebahagiaanmu," sahut Tania.
"Kamu benar, Tania. Aku benar-benar bahagia ...."
"Tapi ... jangan lupakan masalahmu yang sebenarnya, Vania. Apa kamu sudah lupa masalah utama yang akan kamu hadapi ke depannya nanti?" sahut Tania, mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
"Apa maksudmu?"
Vania bangkit dari posisinya kemudian duduk di tepian tempat tidur dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Bagaimana jika suatu saat nanti Raja meminta keturunan darimu? Ok, tidak masalah jika Raja memang menerima dirimu apa adanya, tetapi jika ia tidak bisa menerimanya? Kamu akan bernasib lebih tragis dari pada gadis itu dan bisa-bisa Raja malah memilih kembali kepadanya karena dia memiliki sesuatu yang tidak bisa kamu miliki."
"Jangan mencoba menakutiku, Tania!" kesal Vania.
"Aku tidak sedang menakutimu, Vania. Aku mengatakan apa yang ada di dalam kepalaku saja. Sebaiknya kamu jujur dan ajak Raja bicara dari hati ke hati. Temukan jalan keluarnya, mungkin ajak dia adopsi anak, cari rahim pengganti, atau--"
"Sudah cukup, Tania! Kamu itu kebanyakan mengkhayal yang tidak-tidak," sahut Vania dengan kesal seraya memutuskan panggilannya.
"Dasar! Apa dia pikir aku sebodoh itu!" gerutunya.
Setelah meletakkan ponselnya ke atas nakas, Vania bangkit dari posisinya kemudian melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia berniat menemui Raja dan menemani lelaki itu.
Namun, ternyata di dalam kamar Raja sedang ada tamu. Ivan, lelaki itu berkunjung ke kediaman mereka. Vania mengurungkan niatnya membuka pintu kamar Raja dan mencoba mendengarkan apa yang sedang kedua lelaki itu bicarakan.
"Ada apa, Van?" tanya Raja yang masih duduk bersandar di tepian tempat tidurnya.
"Ehm, begini Tuan Raja. Saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaan saya," ucap Ivan tiba-tiba-tiba.
Bagaikan petir di siang bolong, tidak ada hujan, tidak ada badai, tiba-tiba saja Ivan mengajukan pengunduran diri. Hal itu benar-benar membuat Raja bingung.
"Ta-tapi kenapa, Van? Apakah selama ini gajimu kurang besar? Jika itu benar, aku bisa menaikkannya bahkan jika perlu dua kali lipat," ucap"sahut Raja yang nampak panik.
"Maafkan saya, Tuan. Gaji yang Anda berikan bahkan lebih dari cukup. Hanya saja ...." Ivan menghembuskan napas berat.
Alasan Ivan ingin pergi dari Raja adalah karena ia sudah mulai merasa tidak nyaman ketika bekerja bersama lelaki itu. Apalagi rasa bersalah yang terus menghantui pikirannya.
__ADS_1
...***...