Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Bertamu Ke Rumah Baru Aksa


__ADS_3

"Kita sudah sampai, Nak Farra." Pak Sopir menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar. Farra memperhatikannya dengan seksama sambil tersenyum tipis.


"Jadi ... ini rumah baru yang diberikan oleh Tuan Raja untuk Tante dan Adikku, Pak?" tanya Farra kepada Pak Sopir itu.


"Ya, Nak. Ini rumah baru yang diberikan oleh Tuan Raja kepada Tantenya Nak Farra," jawab lelaki paruh baya itu.


Tepat di saat itu Aksa keluar dari dalam rumah sambil berlari kecil ke arah Farra.


"Kak Farra!" teriak Aksa dengan deraian air mata menghambur ke pelukan Farra.  Bocah tampan itu terisak sambil mempererat pelukannya ke tubuh Farra. Seolah-olah ia tidak ingin Kakaknya itu pergi lagi darinya.


"Aksa, Kakak merindukanmu."


Farra membalas pelukan Aksa sembari menciumi wajah bocah tampan itu berulang kali.


"Aksa juga, Kak. Aksa sangat merindukan Kak Farra lebih dari apapun. Oh iya, kak. Coba lihat Aksa, Aksa sudah sembuh dan bisa berjalan lagi sama seperti dulu," ucap Aksa dengan wajah semringah melerai pelukannya bersama Farra. Setelah itu ia pun mulai meloncat-loncat di hadapan Kakak perempuannya itu.


"Eh, eh ... jangan lompat-lompat seperti itu, Dek. Kakak ngeri lihatnya," ucap Farra seraya menahan tubuh kecil Aksa agar menghentikan aksinya. Ia kembali teringat dimana Aksa dibawa ke Rumah Sakit dan hal itu membuat Farra sedikit trauma.


"Akhirnya kamu datang juga, Farra."


Nurmala yang baru saja keluar dari rumah itu, segera menghampiri Aksa dan Farra yang masih berpelukan di halaman depan rumah barunya. Ia tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilan Farra sekarang.


"Kenapa kamu terlihat lebih kurus dari sebelumnya, Farra? Apa kamu tidak dikasih makan sama suamimu?" ucap Nurmala sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


Aksa ikut memperhatikan penampilan Farra dengan seksama. Raut wajah bocah tampan itu nampak sedih karena apa yang dikatakan oleh Tante Nurmala adalah benar. Farra memang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


"Iya, Tante Mala benar, Kak Farra terlihat lebih kurus. Apa Kakak belum makan? Jika itu benar, mari kita masuk. Aksa punya banyak makanan buat Kak Farra."


Farra terkekeh pelan mendengar ucapan adiknya itu. "Sebenarnya Kakak juga bawa makanan untuk kita, Dek."


"Benarkah? Wah, pasti enak!" seru Aksa.


Farra memperlihatkan makanan yang ia bawa kepada Aksa dan Aksa pun nampak senang menerimanya. Dengan penuh semangat Aksa menarik tangan Farra agar gadis itu mengikutinya masuk ke dalam rumah baru mereka.


Farra pun tersenyum dan mengikuti Aksa yang menuntunnya masuk ke dalam rumah itu. Sedangkan Nurmala kembali mengikuti mereka dari belakang.


"Lihatlah, Kak. Rumah baru kita bagus 'kan? Sekarang Kakak tinggal di sini saja bersama kami. Tidak usah ikut Tuan Raja lagi," lirih Aksa.


Aksa menekuk wajahnya. Terlihat jelas kekecewaan dari raut wajah bocah itu.


"Kamu lihat, Farra. Aksa nampak gendutan 'kan sekarang. Itu semua karena kebutuhan Aksa benar-benar diperhatikan oleh Tuan Raja," ucap Nurmala.


"Dan satu lagi, Aksa sudah di daftarkan ke sekolah terbaik di kota ini, Farra. Sekarang kamu bangga 'kan, punya suami seperti Tuan Raja?" lanjut Nurmala dengan sangat antusias menceritakan hal itu kepada Farra.


Farra kembali memperhatikan adik kecilnya itu. Memang benar, sekarang tubuh Aksa terlihat lebih berisi.


Berbanding terbalik dengan dirinya yang semakin hari, semakin kurus. Selain karena nafsu makan Farra yang mula berkurang, perlakuan buruk Raja pun turut mempengaruhinya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, Tante. Itu artinya Tuan Raja menepati janjinya."


"Oleh sebab itu bersikap baiklah kepada Tuan Raja. Apapun yang dia inginkan, lakukan saja. Ini 'kan demi adikmu juga," ucap Nurmala sambil menyeringai kepada Farra.


Farra menghembuskan napas berat kemudian menganggukkan kepalanya. "Sekarang aku memang sudah tidak punya pilihan lain, Tante."


Sementara Farra masih berada di kediaman baru Tante Mala dan Aksa, Raja sengaja tidak masuk kerja demi menemani Vania ke Rumah Sakit untuk menemui Dokter yang akan menangani operasi Vania nanti. Mereka ingin memastikan kapan operasi Vania dilaksanakan.


"Dokter, bolehkah kita bicara sebentar?" ucap Vania kepada Dokter.


"Tentu saja," sahut Dokter.


Kebetulan saat itu Raja masih berada di luar ruangan dan Vania bisa bicara empat mata dengan Dokter tersebut.


"Dokter, suamiku tidak tahu bahwa aku akan melakukan operasi pengangkatan rahim. Dia hanya tahu kalau aku akan melakukan operasi pengangkatan kista saja. Jadi, kumohon dengan sangat! Jangan pernah singgung apapun yang berhubungan dengan operasiku nanti," lirih Vania sambil menangkupkan kedua tangannya di hadapan Dokter.


"Loh, bagaimana bisa begitu, Nona. Biar bagaimanapun Suami Anda harus mengetahuinya."


"Tidak, Dok! Aku tidak mau! Aku tidak ingin suamiku tahu bahwa setelah ini aku tidak akan bisa memberinya keturunan. Bisa-bisa dia menceraikan aku detik ini juga, Dok!"


Dokter menghela napas berat dan akhirnya Dokter itupun setuju untuk tidak memberitahu Raja yang sebenarnya atas permintaan Vania.


...***...

__ADS_1


__ADS_2