
"Kamu tahu di mana letak pintunya 'kan, Farra?" ucap Vania seraya menunjuk ke arah pintu kamar.
"Oh ya, kamu tenang saja. Surat perceraian kalian akan segera menyusul, Ivan akan mengurus semuanya dan kamu hanya tinggal menunggu kemudian tanda tangani, gampang 'kan?!" lanjut Vania.
Farra kembali melemparkan senyumnya untuk Raja dan Vania sebelum ia membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu. Vania tersenyum puas karena akhirnya ia menjadi pemenangnya.
Sedangkan Raja hanya bisa menghembuskan napas berat kemudian menundukkan kepalanya. Sedangkan Vania mengikuti langkah kaki Farra dari belakang sambil terus menyunggingkan senyumannya.
Hari ini Farra pulang hanya dengan membawa tas lusuh berisi pakaian miliknya, sama seperti saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah ini. Tak satu rupiah pun ia pegang, begitupula hari ini.
Vania memerintahkan seorang sopir untuk mengantarkan Farra ke kediaman baru Aksa dan Tante Nurmala. Wanita itu dengan semangat membukakan pintu mobil untuk Farra sambil menyeringai.
"Selamat tinggal, Farra. Aku harap setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Oh ya, ngomong-ngomong aku akan mengabulkan permintaanmu. Aku pastikan tidak akan ada bantuan sedikitpun dari Raja untuk kalian. Jadi, nikmatilah setiap kesengsaraan yang akan datang menghampirimu," ucap Vania sambil tergelak.
Farra sempat terdiam untuk sesaat, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia kembali tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.
"Terima kasih, Nona Vania. Sampaikan juga terima kasihku untuk Tuan Raja. Dan semoga kalian selalu bahagia," sahut Farra.
Vania menekuk wajahnya kesal. Bukannya bersedih, Vania malah merasa bahwa gadis itu sedang menantang ucapannya.
"Baiklah, Farra! Mari kita lihat, sekuat apa dirimu!" ucap Vania sembari menutup pintu mobil dengan sangat keras.
Bugkh!
Farra sempat terkejut dan mengelus dadanya. Ia menghembuskan napas panjang dan memperhatikan Vania yang sedang menggerutu di samping mobil.
Setelah Farra masuk ke dalam mobil, Pak Sopir pun segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mewah itu. Sesaat setelah mobil yang membawa Farra pergi, Vania segera menghubungi nomor ponsel Ivan.
Vania meminta Ivan untuk segera memerintahkan Nurmala beserta Aksa agar segera meninggalkan rumah yang sedang mereka tinggali. Karena saat ini Farra dan Raja sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi.
__ADS_1
Ivan begitu shok mendengar ucapan Vania. Ia tidak percaya bahwa akhirnya Tuan Raja melepaskan gadis itu.
"Tapi, apa Tuan Raja menyetujuinya, Nona Vania?" tanya Ivan.
"Aku adalah istri sahnya, Ivan! Perintahku adalah perintah Raja, jadi lakukan saja perintahku sebelum aku turun tangan dan melakukannya sendiri!" kesal Vania.
"Baik, Nona Vania."
Mau tidak mau, Ivan pun menuruti keinginan Vania. Namun, sebelum melakukan tugasnya, Ivan sempat memberitahu Raja soal perintah Vania tersebut.
"Aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan Farra maupun keluarganya, Van. Biarkan Vania melakukan apapun yang ingin ia lakukan," ucap Raja.
Ivan hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari lelaki itu. Ia merasa kecewa karena Raja benar-benar melepaskan tanggung jawabnya terhadap gadis itu.
"Tuan Raja sudah keterlaluan."
Nurmala terkejut bukan main. Ia marah sekaligus kesal dengan keputusan Raja yang secara tiba-tiba meminta mereka pergi meninggalkan rumah itu.
"Tidak bisa, aku tidak mau!" kesal Nurmala sambil bertolak pinggang.
"Maafkan saya, Nyonya Nurmala. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Raja dan Nona Vania, dan perintahnya tidak bisa diganggu gugat."
"Sialan kalian! Mentang-mentang kalian kaya raya, sesuka hati memperlakukan kami!" gerutu Nurmala.
"Maafkan saya, Nyonya."
Setelah memutuskan panggilannya bersama Nurmala, Ivan segera memerintahkan anak buahnya untuk menuju kediaman Nurmala.
Sementara Nurmala masih saja menggerutu, ia tidak menyangka bahwa Raja dan Farra akan bercerai secepat ini. Bahkan pernikahan mereka hanya seumur jagung.
__ADS_1
"Farra juga aneh, kenapa mau-maunya dicerai?!" kesalnya.
Setelah beberapa saat, mobil yang membawa Farra pun tiba di halaman depan rumah Nurmala. Setelah keluar dari mobil tersebut, Pak Sopir pun segera pamit kepada Farra kemudian melaju kembali ke kediaman Tuan Raja.
Perlahan Farra berjalan menghampiri rumah tersebut. Namun, alangkah terkejutnya Farra karena tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dengan keras. Dan nampaklah Nurmala sedang menarik paksa tangan si kecil Aksa keluar dari rumah tersebut.
"Lepas, Tante. Tangan Aksa sakit," lirih Aksa sambil terisak.
"Apa yang Tante lakukan!" kesal Farra seraya menghampiri mereka.
Nurmala yang sedang di puncak rasa kekecewaan nya, mendorong tubuh Aksa ke arah Farra dan Farra pun segera menyambut tubuh adik kecilnya itu ke dalam pelukannya.
"Bawa adikmu pergi bersamamu! Aku sudah muak dengan kalian semua!" kesalnya sembari melemparkan tas berisi pakaian Aksa.
"Kenapa Tante melakukan ini? Lalu, kami harus kemana sekarang?" tanya Farra dengan mata berkaca-kaca.
"Ini semua karena kamu begitu bodoh menerima perceraian itu begitu saja! Sekarang rumah ini diambil lagi sama Tuan Raja, itu artinya aku harus kembali ke tempat kumuh itu lagi. Dan itu semua gara-gara kamu!" hardil Tante Nurmala sambil menitikkan air matanya karena saking kesalnya.
"Sekarang kamu pergi dari sini dan bawa bocah nakal ini bersamamu! Aku sudah tidak ingin melihat wajah kalian lagi," sambungnya seraya mendorong tubuh Farra dan Aksa untuk segera menjauh dari rumah itu.
Setelah puas mengusir kedua kakak beradik itu, Nurmala kembali masuk ke dalam rumah tersebut seraya menutup pintunya dengan keras.
Aksa terisak dan kini ia menatap sedih kepada Farra yang masih terdiam sambil memperhatikan rumah itu. "Sekarang kita kemana, Kak?" lirih Aksa di sela isak tangisnya.
"Ke suatu tempat di mana kita akan lebih dihargai, Dek."
Farra meraih jari-jari mungil Aksa kemudian menuntun Adik kecilnya itu bersamanya.
...***...
__ADS_1