
Raja menarik sebuah kursi kemudian duduk tepat di hadapan Farra yang masih mematung di tempatnya berdiri. Pikiran gadis itu berkecamuk. Ia benar-benar merindukan Adiknya dan ingin bertemu dengan bocah tampan itu. Namun, syarat yang diberikan oleh Raja terasa begitu berat dan membuat Farra harus berpikir ulang.
"Bagaimana, Farra?" Raja kembali menyeringai sambil terus memperhatikan raut wajah gadis itu.
Farra masih diam, bibirnya pun masih tertutup rapat.
"Semua terserah padamu, Farra. Aku tidak memaksamu, kok! Lagipula apa yang kamu khawatirkan tentang hubungan kita? Kamu tidak akan berdosa karena melayaniku, malah sebaliknya. Kamu akan mendapatkan pahala yang besar karena melayani keinginan suamimu ini," ucap Raja lagi.
Farra mengangkat kepalanya dan sekarang ia membalas tatapan lelaki itu. "Baiklah, tapi kumohon padamu, Tuan. Jangan perlakukan aku dengan kasar," sahut Farra, walaupun sebenarnya ia masih ragu dengan jawabannya.
Raja tersenyum puas dan sekarang ia bangkit dari tempat duduknya. "Bagus, kamu memang istri yang penurut. Sekarang ikutlah denganku," ucapnya.
Raja melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Farra mengikutinya dari belakang. Dengan wajah semringah, Raja menuntun Farra menuju sebuah kamar kosong yang biasanya di gunakan untuk tamu yang ingin menginap.
Ia membuka pintu ruangan itu dan mempersilakan Farra untuk masuk ke dalam. Raja tersenyum puas kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Sekarang lakukanlah tugasmu," ucap Raja seraya melepaskan piyama tidurnya dan melemparkannya ke samping tempat tidur.
Farra masih terdiam sambil memperhatikan Raja yang masih menyeringai menatapnya. Lelaki itu duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
Gadis itu benar-benar sedih, hanya demi bertemu dengan sang adik, dia harus melakukan hal yang sama sekali tidak ia inginkan.
Farra menanggalkan pakaiannya satu-persatu dan hanya menyisakan pakaian dallamnya. Raja menepuk ruang kosong di samping tubuhnya sambil tersenyum hangat.
"Kemarilah, Farra."
Perlahan Farra menghampiri lelaki itu dan duduk di sampingnya. Raja meraih tangan gadis itu dan menariknya pelan agar ia berada lebih dekat dengannya.
"Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik malam ini. Maka dari itu tersenyumlah, Farra. Tersenyum seperti saat kamu bersama Ivan, tersenyum lepas dan tanpa beban." Raja membelai bibir Farra dan mulai menyerang bibir mungil tersebut.
__ADS_1
***
Selesai menuntaskan hasratnya, Raja kembali meraih piyama miliknya yang ia letakkan di samping tempat tidur kemudian mengenakannya. Begitupula Farra, perlahan ia mengenakan satu-persatu pakaiannya dengan kepala tertunduk.
"Besok, aku akan mempersiapkan seorang sopir untuk mengantarkanmu ke rumah baru Aksa. Dan ingat, kembalilah sebelum aku pulang. Jika kamu terlambat sedikit saja, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk bertemu dengan adikmu lagi, mengerti?" ucap Raja seusai mengenakan pakaiannya.
Farra mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. "Terima kasih, Tuan."
"Ya."
Raja pun segera kembali ke kamarnya. Begitupula Farra, ia kembali ke kamarnya dan bersiap untuk beristirahat.
Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 dini hari. Farra terbangun setelah mendengar suara berisik dari kamar pelayan di depan. Perlahan ia bangkit dan keluar dari kamarnya.
Ternyata benar, para pelayan sudah bangun dan mulai menyerang kamar mandi untuk melakukan ritual mandi mereka.
Walaupun begitu, tidak satupun dari pelayan itu yang berani protes. Mereka menurut saja dan mengikuti perintah dari Bu Eni.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapih, para pelayan itu berkumpul di dapur dan mulai bersiap-siap dengan tugas mereka masing-masing.
Sementara Farra hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan. Farra tidak ingin bergabung bersama mereka karena ia sudah di peringatkan untuk tidak ikut campur soal urusan dapur dan juga mempersiapkan hidangan untuk Tuan Raja dan Nona Vania.
Tidak terasa, pagi pun menjelang. Berbagai hidangan mewah tertata rapi di atas meja makan. Para pelayan pun memasaknya dengan porsi lebih dari biasanya untuk dibagi-bagi ke seluruh penghuni rumah megah milik Tuan Raja.
Di dalam kamar utama,
Raja mencoba membangunkan Vania yang masih terlelap. Sedangkan lelaki itu sudah siap dengan penampilan rapi sama seperti biasanya.
"Vania, bagunlah. Aku punya kejutan untukmu," ucapnya
__ADS_1
Vania menggeliatkan tubuhnya kemudian membuka mata dengan perlahan.
"Raja? Maafkan aku, aku kesiangan, ya?" Vania mengucek matanya kemudian menatap sebuah jam besar yang ada di dalam ruangan itu.
"Tidak apa-apa. Aku memang sengaja tidak membangunkanmu. Tapi sekarang aku terpaksa melakukannya karena aku punya kejutan untukmu," ucap Raja seraya menutup mata Vania dengan sebuah kain.
"Ra-Raja ... ada apa ini? Kenapa kamu menutup mataku?" pekik Vania cemas.
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu, jadi ikuti saja kemana aku menuntunmu," sahut Raja.
"Ta-tapi ...."
Raja tidak menghiraukan ucapan Vania. Ia terus melangkahkan kakinya menuntun wanita itu hingga ke ruang makan. Setibanya disana, Raja segera membuka penutup mata Vania sambil tersenyum lebar.
"Kejutan!!!"
Vania membulatkan matanya setelah melihat kejutan yang diberikan oleh Raja. Apalagi di tengah-tengah meja makan tersebut terdapat kue tart dengan hiasan seorang bayi mungil di atasnya.
Vania tahu bahwa ini adalah kejutan untuk menyambut kehamilan palsunya. Tubuh Vania bergetar dan wajahnya semakin memucat. Raja pun kebingungan saat melihat ekspresi Vania yang seperti itu.
"Kamu kenapa, Vania? Apa kamu tidak suka dengan kejutan ini? Ini adalah acara syukuran untuk menyambut kehamilanmu. Apa menurutmu acara ini terlalu sederhana?" ucap Raja sambil memperhatikan raut wajah Vania yang panik.
"Bu-bukan! Bukan itu," sahut Vania sambil memundurkan langkahnya ke belakang.
"Lalu kenapa?"
"Aku tidak sedang hamil, Raja!" ucapnya sambil menitikkan air mata.
...***...
__ADS_1