
Pagi-pagi sekali Farra terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum ketika menatap wajah Aksa yang masih tertidur nyenyak di sampingnya.
"Terima kasih, Tuhan. Karena sudah memberikan aku kesempatan ini sekali lagi. Di mana aku dan Adikku bisa kembali bersatu."
Farra melabuhkan ciuman hangat di kening Aksa kemudian segera bangkit dari tempat tidur tersebut. Farra sudah terbiasa bangun pagi, bahkan sebelum ia menjadi Istri berkedok Pelayan di rumah mewah Tuan Raja.
Setelah melakukan ritual mandi, berpakaian serta merapikan rambutnya, Farra bergegas menuju dapur. Di mana ia akan memasak untuk pertama kalinya di tempat itu, walaupun Farra sempat kebingungan karena ia belum pernah menjamah tempat itu sebelumnya.
Zian yang sedang asik tertidur di kursi ruang tamu, terbangun karena aroma wangi yang menghambur dari dapurnya dan membuat perutnya menjadi lapar.
"Hmm, bau apa ini? Wangi sekali, bikin aku lapar saja," gumam Zian seraya mengucek matanya yang masih terasa berat.
Zian memperhatikan jam dinding yang menggantung sambil menautkan kedua alisnya. "Farra? Rajin sekali dia," lanjut Zian.
Lelaki itu bangkit dari kursi tersebut kemudian melangkah menuju dapur di mana aroma wangi itu berasal. Aroma yang membuatnya lapar sepagi ini.
Kehadiran Zian di tempat itu membuat Farra menjerit karena terkejut. Ia tidak sadar bahwa lelaki itu sudah berada di belakang sambil memperhatikan dirinya memasak.
"Astaga, Kak Zian! Aku kaget, untung aku tidak jantungan," celetuk Farra dengan mata membulat menatap lelaki itu.
"Maaf, mengagetkanmu. Aku penasaran sebenarnya apa yang kamu masak, sampai-sampai aku terbangun karena aroma wanginya melilit perutku pagi-pagi begini," sahut Zian tersenyum sembari melirik wajan berisi nasi goreng yang baru saja Farra buat.
"Oh, maafkan aku, Kak Zian! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," sahut Farra dengan wajah sendu. Ia merasa bersalah karena sudah membangunkan Zian dari tidur nyenyaknya.
"Eh, bukan begitu maksudku, Farra. Wangi masakanmu benar-benar menggugah selera hingga aku yang tertidur nyenyak saja terbangun karena aromanya yang benar-benar hmmm ... aku sudah tidak tahan lagi, sebaiknya aku cuci muka dulu biar mencicipi masakanmu," sahut Zian yang bergegas memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.
__ADS_1
Ternyata bukan hanya Zian saja, Aksa pun terbangun dari tidurnya kemudian menyusul Farra di dapur sambil mengucek mata.
"Aksa?" Farra menghampiri Aksa kemudian mengusap wajah adik kecilnya itu dengan lembut.
"Kak, Aksa lapar," ucap Aksa dengan mata yang masih terpejam.
Terdengar gelak tawa Zian dari dalam kamar mandi. "Benar 'kan apa kataku, Farra! Bahkan Aksa pun ikut terbangun karena mencium aroma masakanmu," ucap Zian dengan setengah berteriak.
Farra pun tersenyum mendengar ucapan Zian. Ia menuntun Aksa ke kamar mandi kemudian membantu si kecil itu mencuci muka.
Selesai mencuci muka, kedua lelaki berbeda generasi tersebut segera menghampiri meja makan kemudian duduk di sana. Dengan sabar Zian dan Aksa menunggu Farra mempersiapkan nasi goreng spesial itu untuk mereka.
"Nasi goreng ala Nona Farra sudah tiba, taa daa!" seru Zian sambil tersenyum lebar ketika Farra tiba dengan membawa dua buah piring berisi nasi goreng buatannya.
"Apa Tuan Ivan sudah bangun?" tanya Farra kepada Zian yang mulutnya sudah penuh dengan nasi goreng buatan Farra.
"Coba saja kamu lihat, siapa tahu dia sudah bangun," sahut Zian dengan mulut penuh.
"Om Zian, kata Bu Guru gak boleh ngomong kalau mulutnya penuh," ucapnya sambil meniru gaya bicara Bu Gurunya saat di sekolah.
Zian tersenyum kecut sambil mengusap puncak kepala Aksa dengan lembut. "Siap, Boss kecil!"
Farra melangkahkan kakinya menuju ruang depan dan ternyata Ivan pun sudah bangun. Hanya saja ia malu jika harus menyusul mereka ke dapur tanpa dipersilakan.
"Tuan Ivan, mari kita sarapan bersama. Aku sengaja bikin yang banyak agar cukup untuk kita semua," ajak Farra.
__ADS_1
Ternyata Ivan pun merasakan apa yang dirasakan oleh Zian dan Aksa. Namun, ia sengaja menahannya.
"Baiklah kalau di paksa," sahut Ivan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.
Setibanya di dapur, Ivan mencuci muka kemudian duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Farra menyerahkan piring berisi nasi goreng kepada Ivan dan lelaki itupun segera melahapnya.
Farra tersenyum sembari memperhatikan ketiga lelaki yang sedang menikmati nasi goreng buatannya dengan lahap. Kalau di sini mereka semua berebut menikmati masakannya, di kediaman Raja ia malah dilarang menyentuh makanan di sana karena takut Farra menaruh racun dan sebagainya.
"Aku sangat senang karena kalian sudi memakan masakanku yang alakadarnya ini," ucap Farra dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja, Farra. Bahkan aku akan sangat bersyukur jika setiap hari bisa menikmati berbagai masakan dari tanganmu," sahut Zian.
Ivan tersenyum kecut sambil menatap ekspresi Zian. Ivan merasa curiga bahwa lelaki itu mulai menyukai Farra.
Sementara itu di kediaman Tuan Raja.
"Pelayan! Siapa saja, cepat buatkan aku kue seperti kue buatan Farra! Aku ingin memakannya!" titah Raja yang sengaja turun dari kamarnya dengan tergopoh-gopoh.
Para pelayan saling tatap, mereka bingung bagaimana dan seperti apa kue buatan Farra itu. Ada yang pernah melihat bentuk dan teksturnya, tetapi ia tidak melihat bagaimana cara Farra membuatnya.
Vania yang sedang berdiri di lantai dua, mengerutkan alisnya setelah mendengar titah Raja kepada para pelayannya.
"Apa-apaan si Raja sampai minta dibuatkan kue seperti kue buatan Farra! Memangnya dia pernah memakan kue buatan gadis kampung itu?!" kesal Vania dengan kedua tangan menyilang di dada.
...***...
__ADS_1