
Setelah Farra dibawa ke ruang bersalin, Zian pun segera menghubungi Raja. Ya, walaupun sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan lelaki itu, tetapi ia tidak ingin mengingkari janjinya kepada Farra. Ia sudah berjanji bahwa dia akan segera memberitahu Raja kalau Farra akan segera melahirkan.
Di kediaman Raja.
"Ya Tuhan, apa lagi ini?!" pekik Raja sambil mengelus pinggangnya.
"Anda kenapa, Tuan?" tanya salah satu pelayan ketika ia melihat Raja berjalan dengan terbungkuk-bungkuk.
"Entahlah, tiba-tiba saja pinggangku sakit, sakit sekali!" sahutnya sambil meringis kesakitan. "Segera panggilkan Dokter, aku sudah tidak tahan lagi," lanjut Raja.
"Baik, Tuan Raja." Pelayan itu pun segera menghubungi Dokter dan memberitahu soal kondisi Raja saat ini.
Di saat Raja masih panik dengan rasa sakitnya, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Raja kesal, ia mengumpat kasar seraya meraih ponsel tersebut.
"Nomor siapa lagi ini? Apa dia tidak tahu kalau aku sedang kesakitan!" hardik Raja.
Raja menerima panggilan itu kemudian meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya. "Ya, siapa ini!" ketusnya.
"Raja, Ini aku Zian."
Raja terkejut bukan main setelah tahu bahwa yang sedang menghubunginya adalah Zian. Ini pertama kalinya lelaki itu menghubunginya. Terakhir kali mereka berhubungan ketika sama-sama masih menjadi ABG labil.
"Zian, ada apa?"
"Aku terpaksa menghubungimu atas permintaan Farra--"
"Farra?! Apa yang terjadi padanya, Zian? Cepat, katakan padaku?!" pekik Raja dengan wajah cemas.
"Saat ini kami sedang berada di Rumah Sakit Bunda. Farra akan segera melahirkan, sebaiknya kamu temui dia. Dia pasti sangat membutuhkanmu." Setelah mengucapkan hal itu Zian pun memutuskan panggilannya. Ia membuang napas kasar dan menyimpan kembali ponselnya.
"Semoga kamu baik-baik saja, Farra," gumam Zian.
Sementara itu, Raja begitu panik setelah mendengar kabar dari Zian soal Farra. Dia bergegas menuju mobilnya sambil menahan sakit di pinggang yang tak juga kunjung reda.
"Semoga Farra dan bayi kami baik-baik saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada mereka," batin Raja.
__ADS_1
"Eh, Tuan ... Anda mau kemana? Dokter langganan Anda sudah di jalan menuju ke tempat ini," ucap Pelayan heran melihat Raja yang berjalan seperti Kakek-Kakek bungkuk.
"Biarlah, katakan aku sedang ada urusan," sahut Raja sambil mengelus pinggangnya yang sakit.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Raja pun segera melaju menuju Rumah Sakit di mana Farra sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka.
Raja terus memacu kecepatan mobilnya hingga akhirnya ia pun tiba di Rumah Sakit tersebut. Dengan tergesa-gesa, Raja menelusuri lorong-lorong Rumah Sakit hingga akhirnya ia tiba di depan ruangan, di mana Farra sedang berjuang.
Zian yang sedang duduk bersama Aksa di depan ruangan tersebut, memperhatikan Raja yang berjalan dengan terpincang-pincang. Sebelah tangan lelaki itu masih saja mengelus pinggangnya dan wajahnya terlihat sangat menyedihkan.
"Tuan Raja kenapa, Om?" tanya Aksa kepada Zian.
"Entahlah, tapi ... apa kamu lihat, Aksa. Wajahnya terlihat lucu," sahut Zian sambil terkekeh pelan bersama Aksa.
"Zian, bagaimana kondisi Farra sekarang?" tanya Raja.
"Dia masih di dalam dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya karena Dokter belum juga keluar dari ruangan itu," sahut Zian.
"Ah, semoga dia baik-baik saja." Raja mencoba duduk di samping Zian sambil menahan rasa sakitnya.
"Entahlah! Pinggangku seperti mau copot saja," sahutnya dengan wajah hancur.
"Bukankah tadi pagi kulihat kamu baik-baik saja?" sindir Zian seraya membuang muka.
Raja menatap Zian, masih dengan wajah kusutnya. "Dari mana kamu tahu aku baik-baik saja? Ya, kamu benar. Sakit ini tiba-tiba saja menyerangku, Zian, dan aku tidak tahu kenapa," sahutnya.
Sementara itu di dalam ruangan Farra.
"Ayo, Nona Farra! Tinggal sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan!" seru Dokter sembari memberikan semangat untuk wanita itu.
Di saat Farra mengejan untuk yang terakhir kalinya, di sana pula Raja seperti cacing kepanasan. Ia sampai bahkan sampai menungging karena rasa sakit yang amat sangat pada pinggangnya.
"Ya, Tuhan!" pekiknya.
Zian tanpa sadar tertawa lepas melihat apa yang Raja lakukan saat itu, begitupula si kecil Aksa. Raja memang terlihat sangat lucu bahkan julukan keren serta tampan yang melekat padanya seolah sirna dalam sekejap mata.
__ADS_1
"Heh, Raja! Biasa saja, kenapa sih. Lebay! Zian tertawa seraya menepuk bokong Raja yang menungging.
"Hah, ini sakit tahu! Semoga suatu saat kamu juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini!" kesal Raja sambil meringis.
Tidak berselang lama, samar-samar terdengar suara tangisan seorang bayi dari dalam ruangan di mana Farra sedang di rawat. Zian segera bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri pintu ruangan itu.
"Kamu dengar itu, Raja? Sepertinya bayi kalian sudah lahir," ucap Zian sambil tersenyum puas.
Zian mencoba mengintip dari sela-sela horden yang menutupi kaca di dalam ruangan itu. Zian kembali menyunggingkan senyuman karena ia dapat melihat seorang suster sedang membersihkan seorang bayi mungil yang terlihat sangat sehat dan juga menggemaskan.
"Benar, Raja! Bayi kalian sudah lahir," pekik Zian sembari menepuk pundak Raja yang datang menghampirinya dengan terbungkuk-bungkuk.
"Benarkah? Mana, aku ingin lihat!"
Zian segera menyingkir dan membiarkan Raja menggantikan posisinya. Dan benar saja, Raja begitu bahagia melihatnya. Mata lelaki itu nampak berkaca-kaca.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak bisa menyambut kedatanganmu. Ah, ini semua gara-gara sakit pinggang sialan ini!" gumam Raja seraya memukul pinggangnya.
"Eh, sebentar! Kamu lihat, Zian? Tiba-tiba sakit pinggangku mendadak berkurang setelah bayiku lahir. Itu artinya, bayiku memang pembawa berkah, benar 'kan?" ucapnya Raja sambil tersenyum lebar menatap Zian.
Zian menganggukkan kepalanya pelan sembari menepuk pundak Raja. "Selamat, Raja."
Setelah mengucapkan hal itu, Zian pun melangkah menghampiri Aksa. "Aksa, Om mau pulang. Aksa ingin tinggal di sini atau ikut pulang?" tanya Zian dengan wajah sendu menatap si kecil Aksa.
"Kenapa Om pulang? Bukankah kita belum lihat Dede?" tanya Aksa heran.
"Om ada urusan penting, Aksa. Aksa bisa tinggal di sini bersama Tuan Raja. Benar 'kan, Raja?" Zian menoleh kepada Raja dan Raja merasa ada sesuatu yang tidak beres kepada Zian saat itu.
"Kenapa harus pulang, Zian? Farra membutuhkanmu," jawab Raja sambil menautkan kedua alisnya.
"Bukan aku, tapi kamu, Raja. Dia dan bayi kalian membutuhkanmu saat ini. Baiklah, aku permisi dulu." Zian kembali melangkahkan meninggalkan Aksa dan Raja di sana.
"Zian!" panggil Raja dan lelaki itu kembali menoleh ke arahnya. "Tunggulah sebentar lagi. Ada yang harus aku katakan kepada kalian setelah ini. Kamu dan Farra, kumohon!" lanjut Raja.
Setelah mendengar permohonan Raja, Zian pun terpaksa mengurungkan niatnya dan kembali menunggu di ruangan itu.
__ADS_1
...***...