
Tak terasa sudah tiga bulan Farra tinggal di kediaman Tuan Raja. Walaupun pertemuannya bersama Aksa bisa di hitung dengan jari, tetapi ia dan adik lelakinya itu tetap berkomunikasi lewat ponsel yang diberikan oleh Ivan.
Sama seperti biasanya, setelah mandi dan berpakaian, Farra segera melakukan tugasnya. Sebagai seorang pelayan di kediaman suaminya sendiri.
Namun, sekarang yang ada di dalam pikiran Farra hanya satu, terjaminnya masa depan Aksa. Farra sudah tidak peduli apapun dan bagaimanapun perlakuan Raja terhadapnya sekarang ini.
Sementara Farra sibuk dengan pekerjaannya, di kamar utama Vania dan Raja masih bergelut dalam selimut hangat mereka.
Tiba-tiba saja Raja terbangun dari tidurnya setelah bermimpi menggendong seorang bayi laki-laki yang begitu tampan. Bayi mungil itu tersenyum kepada Raja dan memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi satu gigipun.
Napas Raja mendadak cepat. Ia masih bisa mengingat dengan jelas wajah bayi tampan yang ia lihat di dalam mimpinya barusan. Sambil mengusap wajahnya, Raja bangkit kemudian duduk di tepian tempat tidurnya.
"Ya Tuhan, kepalaku! Sebenarnya apa yang terjadi padaku," pekik Raja sambil memijat kepalanya yang terasa sakit.
Sejak dua hari yang lalu, Raja merasakan sakit di kepalanya dan sudah beberapa macam obat yang ia minum, tetapi tak satupun bereaksi. Bahkan ia tidak bisa bekerja gara-gara sakit kepala tak tertahankan yang ia rasakan hingga saat ini.
Vania terbangun setelah mendengar suara Raja yang meringis kesakitan. Ia ikut duduk di samping Raja sambil memperhatikan ekspresi wajahnya.
"Masih sakit, Sayang?" tanya Vania yang nampak cemas.
"Ya, dan aku tidak tahu kenapa sakit ini tidak berkurang sama sekali dan bahkan semakin terasa sakit!" pekik Raja seraya memukul-mukul kepalanya dengan tangan.
Vania panik dan segera meraih tangan Raja agar lelaki itu menghentikan tindakan konyolnya. "Jangan dipukul-pukul seperti itu, Sayang! Nanti bukannya berkurang, rasa sakitnya malah semakin bertambah akibat pukulanmu itu," kesal Vania.
__ADS_1
Raja menarik kembali tangannya kemudian meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Lelaki itu mencoba menghubungi asistennya, Ivan yang berjanji akan membawanya ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap kepalanya.
Setelah selesai bicara bersama Ivan, Raja mengembalikan ponsel tersebut ke atas nakas. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat tidur sambil memejamkan matanya.
"Apa kata Ivan?" tanya Vania.
"Dia akan segera menjemputku," jawab Raja singkat dan jelas.
Vania mencoba tersenyum walaupun saat ini mata Raja masih tertutup rapat. Ia meraih kepala Raja yang bersandar di sandaran tempat tidur kemudian meletakkannya di pangkuannya.
"Aku bantu memijitnya, ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Raja, Vania mulai memijat dengan lembut kepala suaminya itu. Namun, tiba-tiba saja Raja memekik kesakitan. Ia bangkit dan kembali ke posisinya semula.
"Maafkan aku, Vania. Tetapi, entah kenapa kepalaku semakin terasa sakit setelah kamu sentuh," sahut Raja.
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu tapi demi Tuhan, aku melakukannya dengan sangat lembut," lirih Vania dengan kepala tertunduk.
"Sudah, tidak apa-apa dan jangan dipikirkan. Sebaiknya kamu segera bersiap, Vania. Bukankah hari ini kamu ada jadwal pemotretan?" ucap Raja dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi ... melihat kondisimu yang seperti ini, aku rasa aku akan membatalkan janjiku. Lebih baik aku menemanimu ke Dokter, Raja."
Perlahan Raja membuka matanya dan melirik Vania yang masih duduk di sampingnya. Ia mencoba tersenyum dan membelai rambutnya yang tergerai dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu memang istri yang baik, Vania. Aku semakin cinta padamu," ucap Raja.
Vania segera memeluk tubuh Raja dengan wajah semringah. "Ya, Raja. Aku pun sama, aku sangat mencintaimu. Oh ya, sebaiknya aku bantu kamu mengganti pakaian. Aku yakin sebentar lagi Ivan pasti akan tiba di sini."
Raja pun menganggukkan kepalanya secara perlahan kemudian membiarkan Vania membantunya melepaskan piyama tidur yang masih melekat di tubuhnya kemudian menggantinya dengan kemeja serta celana panjang tanpa jas.
"Seperti ini cukup?" tanya Vania setelah selesai menggantikan pakaian Raja.
"Ya, terima kasih, Sayang."
Vania tersenyum kemudian ia pun turut bersiap. Melakukan ritual mandi kemudian berdandan dan mengenakan dress yang bagus dan mahal miliknya.
Benar kata Vania, tidak berselang lama Ivan tiba dan menunggu mereka di lantai bawah. Perlahan wanita itu menuntun Raja menuruni satu persatu anak tangga dan akhirnya ia pun tiba di lantai dasar, di mana Ivan sudah menunggu.
Ketika di mobil.
"Tadi sebelum aku terbangun dari tidurku, aku bermimpi menggendong seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Dan bayi itu tersenyum saat bertatap mata denganku. Menurut kalian, pertanda apakah itu? Apakah tidak lama lagi aku akan dikaruniai seorang bayi?" ucap Raja saat di perjalanan.
Ivan tersenyum mendengar cerita Bossnya itu. "Ya, mungkin saja, Tuan."
Raja tersenyum kemudian meraih tangan Vania yang hanya terdiam seribu bahasa. "Kamu dengar itu, Vania. Semoga saja tidak lama lagi kita akan dikaruniai seorang bayi mungil. Bayi laki-laki yang akan meramaikan rumah kita dan menggantikan posisiku ketika aku sudah tua nanti," tutur Raja.
...***...
__ADS_1