
"Kenapa kamu menyembunyikan hal sepenting ini dariku, Vania?"
Raja menyerahkan selembar kertas yang sejak tadi ia pegang kepada Vania dan wanita itupun meraihnya. Vania memperhatikan berkas itu dengan seksama kemudian tersenyum tipis.
"Sekarang aku sudah tidak peduli walaupun kamu sudah mengetahuinya, Raja. Dan ya, saat ini rahimku sudah diangkat. Aku sudah tidak mungkin bisa memberikan keturunan buatmu. Sekarang kamu puas?"
Raja hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak habis pikir kenapa selama ini Vania tidak berkata jujur padanya.
"Sebenarnya jika kamu mau berkata jujur padaku, mungkin aku masih bisa memaklumi keadaanmu, Vania. Tapi, sekarang semuanya sudah terlambat. Aku sudah tidak bisa memaafkan semua kesalahan yang sudah kamu lakukan padaku. Pertama, kebohonganmu. Dan kedua, pengkhianatan yang kamu lakukan di belakangku. Aku rasa dua hal itu sudah cukup menjadi alasanku untuk melepaskanmu, Vania."
Vania kembali meneruskan langkahnya sambil menyeret kedua koper yang berada di samping tubuhnya. Ketika melewati Raja, Vania mengembalikan berkas itu ke tangan Raja dengan wajah acuh tak acuh.
"Aku tunggu surat perceraian darimu, Raja," ucap Vania seraya melenggang pergi.
Raja terdiam dengan tatapan yang terus tertuju pada Vania. Perasaan lelaki itu campur aduk, ia bahkan tidak tahu apakah harus senang atau malah bersedih saat Vania pergi menginggalkan dirinya.
"Ya, Tuhan! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kehidupanku akan menjadi seperti ini," batin Raja.
. . .
Keesokan harinya.
Di kediaman baru Farra.
"Farra!"
__ADS_1
Zian menghampiri Farra yang sedang sibuk mempersiapkan bekal untuk Aksa di ruang dapurnya. Wajah Zian terlihat menekuk saat menatap Farra saat itu. Sedangkan yang di tatap malah melemparkan senyuman manisnya untuk Zian.
"Bukankah sudah ada Bi Inem, Farra. Biarkan Bi Inem melakukan pekerjaannya. Kamu istirahat saja sama seperti yang Dokter perintahkan kepadamu. Apa kamu tidak kasihan sama calon bayimu?"
"Entah mengapa tanganku gatal, Kak. Aku tidak bisa diam, duduk manis apalagi cuma rebahan sambil nonton TV. Aku bosan ... tapi, Kakak tenang saja, pokoknya aku dan bayiku tetap aman. Lagipula, apa yang aku kerjakan ini adalah pekerjaan ringan yang tidak membutuhkan tenaga besar," jawab Farra, masih dengan senyuman manisnya.
Zian memutarkan kedua bola matanya dan raut wajahnya masih sama seperti tadi. "Aku mengkhawatirkan kondisi bayimu, Farra."
"Iya, aku akan beristirahat setelah ini. Aku janji," sahut Farra sambil menyandarkan kepalanya sejenak di lengan kekar lelaki itu.
Gerakan refleks Farra yang tiba-tiba menyandarkan kepala di lengannya, membuat jantung Zian berdebar-debar. Zian tersenyum sambil mengelus lengannya.
"Om, Aksa sudah siap!" ucap Aksa yang sudah siap berangkat ke sekolahnya bersama Zian.
"Oh, ya! Baiklah, sekarang kita berangkat!" seru Zian seraya menghampiri Aksa kemudian menuntun bocah kecil itu menuju mobilnya.
Setelah Aksa masuk ke dalam mobilnya, Zian kembali menghampiri Farra sambil tersenyum hangat.
"Istirahatlah, Farra. Demi bayimu," ucap Zian seraya mengelus puncak kepala Farra dengan lembut.
Farra meraih tangan lelaki itu kemudian menggenggamnya dengan erat. "Ya, Kak. Aku janji, setelah ini akan segera beristirahat. Terima kasih atas semuanya, Kak Zian. Aku tidak tahu bagaimana nasibku dan Aksa jika seandainya Tuhan tidak mempertemukan kami denganmu," sahut Farra dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, Farra. Bagiku kalian itu sudah seperti bagian dari hidupku. Aku akan berjuang demi kamu, bayimu dan jangan lupakan bocah tampan itu, Aksa." Zian pun melemparkan senyuman terbaiknya untuk Farra.
Tin ... tin ....
__ADS_1
Tiba-tiba klakson mobil milik Zian berbunyi dengan keras hingga membuat Zian dan Farra terperanjat. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si bocah tampan itu.
Zian terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Farra membulatkan mata ketika bertatap mata dengan bocah itu.
"Aksa!" pekik Farra.
Aksa hanya tersenyum lebar dengan memperlihatkan sederetan gigi susunya yang sudah hampir copot satu.
"Tidak apa, Farra. Dia hanya bercanda," ucap Zian seraya melangkahkan kakinya menghampiri mobil dan segera masuk ke dalam benda beroda empat tersebut.
Setelah pamit kepada Farra, Zian pun segera melajukan mobilnya menuju sekolah Aksa. Setelah mengantarkan bocah itu, Zian memutar kemudinya menuju sebuah perusahaan besar milik sang Ayah.
"Selamat pagi, Tuan Zian," sapa beberapa karyawan yang ia lewati.
"Pagi," sahut Zian dengan langkah tegap berjalan menelusuri lorong-lorong perusahaan itu.
Zian terus melangkah hingga akhirnya ia tiba di depan ruang pribadinya. Seorang wanita cantik dengan balutan dress seksi, menyapa Zian sambil tersenyum hangat.
"Zian, masih ingat denganku?!" ucap wanita itu sambil meletakkan tangannya di pundak Zian.
Zian berbalik kemudian membalas senyuman wanita cantik itu. Wanita yang terlihat begitu cantik dan seksi, sedang berdiri di hadapannya dengan wajah semringah.
"Tentu saja aku ingat," sahut Zian.
🙏🙏🙏 Maaf late up, hari ini ngetik di gangguin bocah mulu.
__ADS_1
...***...