
Mau tidak mau, Vania pun harus mau. Dan dengan tangan yang masih bergetar, ia menanda tangani surat perceraian yang baru saja di berikan oleh Raja kepadanya.
Setelah menanda tangani surat perceraian tersebut, Vania berjalan menghampiri Raja kemudian menyerahkan surat perceraian itu kembali kepadanya.
"Ini! Sekarang kamu sudah bebas, Raja. Aku sudah bukan siapa-siapamu lagi dan kita sudah tidak punya hubungan apapun lagi sekarang ini," ucap Vania dengan bibir bergetar.
Raja meraih surat perceraian yang sudah ditanda tangani oleh Vania dari tangan wanita itu sendir kemudian meletakkannya di atas sofa. Ia bangkit dari posisi duduknya dan kini ia berdiri dengan posisi saling berhadapan dengan mantan istrinya itu.
"Vania, hari ini aku ceraikan kamu. Dan sejak hari ini kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Aku berharap tidak akan ada dendam di antara kita, walaupun hubungan kita sudah berakhir."
Kalimat talak yang Raja ucapkan membuat dada Vania terasa sesak. Ia bahkan tidak sanggup menahan air matanya untuk tidak merembes.
"Terima kasih, Raja. Terima kasih karena sudah menjadi sosok pendampingku selama beberapa tahun ini. Dan terima kasih juga atas semuanya," ucap Vania sambil menyeka air mata dan mencoba tersenyum kepada mantan suaminya itu.
Raja pun membalas senyuman Vania walaupun senyuman itu terlihat begitu dipaksakan. "Ya, aku juga, Vania. Aku berterima kasih padamu karena sudah bersedia menemani hari-hariku selama beberapa tahun ini."
Vania menganggukkan kepala dengan pelan, kemudian membalikkan badannya. Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja Vania kembali berbalik dan memeluk Raja dengan erat sambil menagis histeris.
"Aku pasti akan merindukan kebersamaan kita, Raja. Aku pasti akan merindukan tawa dan candamu seperti dulu," ucap Vania di sela isak tangisnya. Kali ini Vania mengatakan yang sejujurnya dari lubuk hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Raja membalas pelukan Vania kemudian mengelus punggung wanita itu dengan lembut. Tak ada jawaban dari lelaki itu, tetapi dari raut wajahnya, Raja pun merasa sedih. Namun, ia sudah tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya bersama wanita itu.
Setelah melerai pelukannya, Vania pun melangkah pergi. Dan kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan kediaman mewah Raja. Ia mencoba menegarkan hatinya dan bersiap menyongsong kehidupan baru, tanpa Raja, Zian, atau siapapun lagi.
Beberapa minggu kemudian.
"Hallo, Tuan Raja. Kami sudah berhasil mengetahui di mana Nona Farra dan Adiknya tinggal sekarang."
Raja tersenyum puas setelah mendengar penuturan dari seseorang di seberang telepon. Orang yang sengaja ia perintahkan untuk mencari keberadaan Farra setelah Leo dipecat.
Raja sangat bahagia karena apa yang ia tunggu-tunggu selama ini akhirnya terdengar juga. Berita yang membahagiakan itu akhirnya sampai juga ke telinganya.
"Tentu saja, Tuan Raja. Selama ini pengintaian kami sama sekali tidak ada yang mencurigai. Tapi ... apakah Tuan sudah tau siapa yang menjadi pelindung mereka selama ini?"
Raja menautkan kedua alisnya sambil berpikir. Orang yang pertama kali terlintas di pikirannya adalah Ivan, mantan asistennya yang memilih mengundurkan diri.
"Siapa? Apakah dia Ivan?" tanya Raja.
"Ya, salah satunya Ivan. Tapi, lelaki itu hanya tangan kanannya saja, Tuan Raja. Karena orang yang selama ini menjadi benteng Nona Farra adalah Tuan Zian Hanif Abqary, sepupu Anda."
__ADS_1
Mata Raja terbelalak setelah mendengar penuturan dari orang suruhannya itu. Ia bahkan masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Zian! Ta-tapi bagaimana bisa? Sejak kapan Farra mengenal Zian dan bagaimana mereka bisa saling mengenal?!" pekik Raja dengan wajah panik.
"Maafkan saya, Tuan. Untuk yang satu itu, saya tidak tahu jawabannya. Yang pasti Nona Farra selalu diawasi oleh lelaki itu."
"Baiklah, baiklah. Kalian terus pantau kegiatan mereka dan tunggu perintah selanjutnya dariku."
"Baik, Tuan."
Setelah memutuskan panggilan itu, Raja mengembalikan ponselnya ke atas meja kerja. Wajah lelaki itu nampak memerah dan ia sangat marah setelah mengetahui bahwa istri dan calon anaknya sedang berada di genggaman Zian.
"Sialan!" umpat Raja sembari memukul meja kerjanya dengan sangat keras.
"Bagaimana bisa Zian menemukan gadis itu? Apa dia ingin balas dendam padaku karena aku sudah merebut Vania darinya?! Dan sekarang ia ingin mengambil Farra dan juga calon bayiku untuk membalaskan dendamnya?! Tidak, tidak! Ini tidak bisa dibiarkan," ucap Raja dengan wajah kusut.
Raja mondar-mandir di dalam ruangan itu sambil terus berpikir. Memikirkan bagaimana caranya membuat Farra kembali padanya dan meninggalkan Zian.
"Aku yakin, ini pasti perbuatan Ivan! Pasti dia lah yang sudah menyerahkan Farra kepada Zian dan memberitahunya bahwa Farra adalah istri mudaku." Dugaan demi dugaan terus mencuat dari pikiran Raja dan begitu banyak pertanyaan dalam otaknya tanpa ada jawaban sedikitpun.
__ADS_1