Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Farra Dan Ivan


__ADS_3

Farra duduk di salah satu kursi santai di halaman depan rumah megah itu. Ia masih merasakan sakit di hatinya akibat penghinaan yang baru saja dilontarkan oleh Tuan Raja dan Vania. Farra duduk sambil memperhatikan kakinya yang semakin membengkak.


Ivan baru saja tiba di tempat itu dan segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Setelah mobilnya terparkir rapi, ia pun bergegas keluar dan melangkah menuju teras rumah.


Namun, langkah kaki Ivan terhenti saat ia melihat Farra sedang duduk sendirian di kursi taman dengan raut wajah sedih. Ivan menghembuskan napas berat dan ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu.


Perlahan Ivan berjalan menghampiri kursi taman tersebut dan setibanya disana, ia berdiri di samping Farra yang masih tidak menyadari keberadaannya.


"Hai, Farra."


Farra mengangkat kepalanya kemudian tersenyum hangat setelah tahu siapa yang sedang berdiri di sampingnya.


"Tuan Ivan," pekik Farra masih dengan senyuman hangatnya.


Perlahan Farra menggeser tubuhnya kemudian mempersilakan Ivan untuk duduk di ruang kosong yang ada di sampingnya.


"Silakan duduk, Tuan."


Ivan membalas senyuman Farra sembari menjatuhkan dirinya disamping gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ivan sambil memperhatikan wajah polos Farra.


Farra menundukkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Tadi kakiku terasa sakit dan aku memilih beristirahat sebentar disini."

__ADS_1


Ivan menautkan kedua alisnya kemudian memperhatikan kaki Farra. Mata Ivan membulat setelah menyadari bahwa ternyata kaki gadis itu membengkak. Ivan refleks bangkit dari posisi duduknya kemudian berjongkok di hadapan Farra sambil memeriksa kakinya.


"Kenapa kakimu sampai bengkak begini, Farra?!" pekik Ivan.


Sontak Farra menarik kakinya dengan cepat karena ia tidak ingin Ivan menyentuhnya.


"Ehm, kakiku tidak apa-apa, Tuan Ivan. Hanya sedikit bengkak," lirihnya.


"Tidak apa-apa, bagaimana?! Kakimu itu membengkak dan harus segera diobati. Kalau terus dibiarkan, bisa-bisa kakimu semakin parah. Apa kamu menginginkannya hal itu?" tegas Ivan dengan wajah serius menatap Farra.


Farra menggelengkan kepalanya pelan. "Mau bagaimana lagi, Tuan. Aku tidak punya uang sepeser pun untuk membeli obat. Lagipula, aku tidak diperbolehkan keluar dari rumah ini, 'kan?" lirih Farra.


Lagi-lagi Ivan menghembuskan napas berat. Ia merasa bersalah kepada gadis itu. Bagaimana tidak, dirinya pun ikut andil dalam rencana Tuan Raja, hingga Farra terperangkap dalam jeratan lelaki berkuasa itu.


Farra menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Tuan. Aku tidak enak," sahutnya.


"Tidak apa, aku hanya ingin memeriksanya saja. Biar nanti aku bisa membelikan obat yang tepat untukmu," pinta Ivan lagi.


Akhirnya Farra pun mengalah dan mengulurkan kakinya yang bengkak akibat jatuh saat Tuan Raja menuntunnya menuju kamar. Ivan meraih kaki mulus Farra tanpa canggung dan mulai memeriksanya.


"Ya ampun, Farra! Kakimu ini sudah parah. Apa kamu tidak merasakan sakit sebelumnya? Memangnya apa yang menyebabkan kakimu hingga jadi seperti ini?" tanya Ivan dengan wajah cemas menatap Farra.


"Ehm, sebenarnya ... aku terjatuh saat mengikuti Tuan Raja. Aku rasa kakiku terkilir tapi, entahlah."

__ADS_1


Ivan menatap lekat wajah Farra sambil berpikir. Ia tidak mungkin membawa gadis itu keluar dari kediaman mewah Tuan Raja karena Tuan Raja sudah membuat peraturan bahwa Farra tidak boleh keluar tanpa seizin darinya. Dan Ivan yakin lelaki itu tidak akan pernah mengizinkan dirinya mengajak gadis itu keluar.


"Aku akan menemui Dokter dan menceritakan bagaimana kondisi kakimu. Tapi, jika Dokter ingin memeriksanya langsung, maka aku akan membawa Dokter itu kesini," ucap Ivan.


Wajah Farra terlihat memucat. Ada rasa takut yang kembali menghinggap di hati kecilnya. "Apakah Tuan Raja mengizinkannya, Tuan Ivan? Aku takut Tuan Raja marah," lirih Farra.


"Tidak, dia tidak akan marah. Percayalah padaku," sahut Ivan sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada gadis itu.


Sementara itu di ruang makan.


Pasangan Raja dan Vania baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Setelah berpamitan kepada Vania, Raja pun bergegas menuju halaman depan rumahnya.


"Dimana Ivan? Bukankah dia berjanji akan menemuiku pagi ini," gumam Raja sambil memperhatikan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.


Setibanya di depan, Raja mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Ivan yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Dimana lelaki itu? Mobilnya sudah terparkir disini lalu dimana dia bersembunyi hingga tidak kelihatan batang hidungnya," gumam Raja lagi.


Tiba-tiba saja mata Raja tertuju pada kursi taman dimana Farra sedang duduk bersama Ivan. Farra terus tersenyum hangat saat bicara bersama asistennya itu. Begitupula Ivan, lelaki itu terlihat beberapa kali tertawa lepas bersama istri mudanya.


Hati Raja panas dan ia benar-benar tidak menyukai pemandangan itu. Ia sangat kesal dan ingin rasanya ia melemparkan sesuatu ke arah mereka.


"Kurang ajar si Ivan! Apa yang dia lakukan disana? Apa dia menyukai gadis itu? Oh, ini tidak bisa dibiarkan!" umpatnya dengan wajah memerah menatap kebersamaan Ivan dan Farra.

__ADS_1


...***...


__ADS_2