Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pemandangan Tak Biasa


__ADS_3

"Bagaimana, Zian?"


Tuan Ameer menatap Zian dengan begitu serius. Ini adalah kesempatan terakhir yang ia berikan untuk anak semata wayangnya itu. Tuan Ameer sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena usia dan kesehatannya pun sudah mulai menurun.


"Ku mohon, Ayah ... aku masih belum siap," lirih Zian sambil memasang wajah memelas.


"Sudah cukup, Zian! Ayah tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Mau tidak mau, kamu harus tetap menikah dengan Sameera. Titik!" tegas Tuan Ameer.


Nyonya Khalifa tersenyum puas mendengar penuturan Sang Suami. Ia pun sudah lelah mendengarkan berbagai macam alasan yang dilontarkan oleh Zian.


"Tidak bisa, Ayah. Karena saat ini di hati Zian hanya ada satu wanita dan akan seperti itu hingga seterusnya," lirih Zian dengan kepala tertunduk.


Zian mengusap wajahnya dengan kasar karena ia tidak menyangka bahwa ia akan mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Tuan Ameer dan Nyonya Khalifa saling bertatap mata. Mereka sangat terkejut mendengar pengakuan Zian saat itu.


"Siapa wanita itu, Zian? Apakah dia Vania?" Nyonya Khalifa menyentuh pundak Zian dan menatap putranya itu dengan tatapan sedih.


Zian terkekeh pelan ketika mendengar Sang Ibu menyebutkan nama Vania. Wanita yang memang pernah menjadi penguasa di hatinya. Namun, itu sebelum ia tahu bagaimana kebusukan hati wanita itu sebenarnya.


"Bukan, Bu. Ibu tenang saja, yang pastinya wanita ini tidak memiliki perangai seperti Vania." Zian meraih tangan Nyonya Khalifa kemudian menciumnya dengan lembut.


Nyonya Khalifa menghembuskan napas lega karena ternyata anak lelakinya sudah berhasil melupakan Vania. Wanita yang sudah menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.


"Ah, syukurlah. Ibu lega mendengarnya, Zian. Ibu takut kamu masih mengharapkan wanita itu. Wanita yang sudah menghancurkan hidupmu," tutur Nyonya Khalifa dengan wajah sendu menatap Zian.

__ADS_1


Zian kembali menggelengkan kepalanya. "Bukan, Ibu tenang saja."


"Lalu, apa lagi yang kamu tinggu, Zian? Kalau kamu sudah memiliki tambatan hati, kenapa tidak dilamar saja? Ajak dia berkunjung ke sini, pertemukan dia dengan kami," sela Tuan Ameer dengan wajah semringah.


Zian terdiam sejenak kemudian menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. "Tapi ... masalahnya wanita ini--"


Zian tidak berani melanjutkan ucapannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika tahu siapa wanita yang sedang merajai hatinya saat ini.


"Tapi kenapa, Zian? Apa ada masalah?" tanya Nyonya Khalifa sambil menautkan kedua alisnya.


"Begini, Bu. Sebenarnya--" Zian menghembuskan napas panjang sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya wanita itu masih berstatus istri orang. Bahkan sampai saat inipun suaminya masih belum menceraikannya. Walaupun lelaki itu sudah tidak memberikan nafkah lagi kepadanya. Sekarang ... wanita itu tengah mengandung, Bu. Dan mungkin tinggal menunggu beberapa hari lagi ia akan segera melahirkan," tutur Zian dengan wajah kusut menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Apa Ayah tidak salah dengar, Zian?" pekik lelaki tua itu. "Miris sekali kisah cintamu? Apa kamu tidak bisa mencari seorang wanita dengan kisah cinta yang sederhana saja. Jangan terlalu berbelit seperti ini. Apa kamu tidak pusing? Ayah saja pusing mendengarnya," celetuk Tuan Ameer sembari bertolak pinggang menatap Zian.


"Apa yang dikatakan oleh Ayahmu benar, Zian. Kenapa kamu selalu memilih kisah cinta yang begitu rumit. Kami tidak keberatan jika seandainya wanita itu adalah seorang janda dan memiliki anak dari mantan suaminya. Tapi, ini ... dia masih milik orang, Zian. Apa kamu tidak bisa menemukan wanita lain yang mungkin lebih menarik dan lebih cantik dari wanita itu?" sambung Nyonya Khalifa.


"Astaga, Zian!" pekik Tuan Ameer lagi sambil menggelengkan kepalanya.


"Ehm, bukan seperti itu, Bu. Zian bisa saja menemukan wanita yang lebih cantik serta lebih menarik dari wanita ini. Tetapi, bagi Zian dia sangat istimewa dan keistimewaan wanita ini tidak bisa Zian temukan dari wanita lain."


Kedua orang tua Zian hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban dari putra kesayangan mereka itu. Mereka tetap tidak habis pikir kenapa putra mereka harus memilih istri orang lain. Ya, walaupun wanita itu istimewa menurutnya.

__ADS_1


"Begini saja, Ayah, Ibu. Berikan Zian waktu hingga wanita itu melahirkan. Dan jika Zian masih tidak bisa menyelesaikan masalah wanita itu dengan suaminya, maka Zian bersedia menikahi Sameera," ucap Zian.


Tuan Ameer membuang napas kasar. "Baiklah, hanya tinggal beberapa hari lagi, 'kan?"


"Ya, Ayah. Tinggal beberapa hari lagi."


Akhirnya dengan terpaksa, lagi-lagi Tuan Ameer memberikan kesempatan itu untuk Zian. Zian pun bergegas pergi dari kediaman orang tuanya setelah mendapatkan izin dan ia berniat menemui Farra untuk membicarakan masalah ini.


Namun, jika ternyata nanti Farra menolaknya, maka mau tidak mau, Zian pun terpaksa menerima permintaan sang Ayah untuk menikahi wanita pilihannya, Sameera putri dari Tuan Khalid. Salah satu kerabat Tuan Ameer sendiri yang tinggal di kota Dubai.


Dengan wajah harap-harap cemas, Zian melajukan mobilnya menuju kediaman Farra. Lelaki itu terus bergumam di sepanjang perjalanan.


"Padahal aku belum memberitahu siapa suami Farra sebenarnya dan reaksi kedua orang tuaku sudah shok saja. Apalagi jika mereka tahu bahwa lelaki itu adalah Raja! Bisa-bisa Ayah tidak akan pernah mau mendengarkan penjelasanku lagi," gumam Zian sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tak terasa, akhirnya ia tiba di tempat tujuannya. Zian menautkan kedua alisnya ketika melihat sebuah mobil mewah terparkir tepat di depan pagar rumah Farra dan ia sangat mengenali siapa pemilik mobil itu.


"Sialan, mau apa lagi lelaki itu! Apa dia ingin menyakiti Farra lagi?!"


Setelah memarkirkan mobilnya, Zian pun bergegas keluar. Dengan langkah tergesa-gesa, Zian menghampiri kediaman Farra. Namun, baru saja ia ingin melangkah masuk ke halaman depan rumah Farra, lelaki itu melihat sesuatu yang membuat langkah kakinya terhenti.


Pemandangan yang tidak biasa, yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perlahan Zian memundurkan langkahnya dan tanpa pikir panjang, lelaki itu kembali ke mobil dan melaju bersama benda tersebut meninggalkan kediaman Farra dan Aksa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2