Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Meminta Izin


__ADS_3

"Tan, aku dalam masalah. Apa kamu tahu, saat ini Raja menganggap aku sedang hamil," ucap Vania dengan wajah cemas kepada Tania melalui ponselnya.


"Hamil! Kok, bisa? Bagaimana ceritanya," pekik Tania.


"Kemarin Raja memerintahkan salah satu orangnya untuk membuntuti kegiatanku. Dan ketika kita mengunjungi tempat praktek Dokter Kandungan itu, Raja jadi salah beranggapan dan menganggap bahwa aku tengah mengandung anaknya!"


Tania bergidik ngeri. "Hiyyy, ternyata suamimu mengerikan, Van. Aku tidak bisa membayangkan disaat kita sedang happy-happy, tiba-tiba orangnya dia mengikuti kita. Huh, bisa-bisa langsung di talak kamu!" ucapnya.


"Tapi, ngomong-ngomong soal Raja ... lebih baik kamu jujur saja, Vania. Aku yakin dia pasti mengerti. Lagipula kamu tidak ingin menciptakan masalah baru 'kan dengan berpura-pura hamil padahal sebenarnya tidak?" lanjut Tania.


"Tapi aku masih ragu, Tania." Vania menghela napas panjang. "Baiklah, besok aku akan bicara pada Raja yang sebenarnya," lanjutnya.


"Nah, begitu donk."


Tepat disaat Vania memutuskan panggilannya, Raja masuk ke dalam ruangan itu masih dengan wajah semringah. Ia menghampiri Vania kemudian memeluknya dengan erat.


"Terima kasih, Vania. Sebentar lagi rumah kita akan semakin ramai dengan suara tangis dan tawa dari bayi kita," ucapnya sambil mengelus perut Vania.


Vania menitikkan air matanya. Ia terisak di dada Raja setelah mendengar ucapan lelaki itu. Pada kenyataannya, bukan bayi yang akan dikeluarkan oleh Dokter dari tubuhnya, melainkan tempat tumbuhnya seorang bayi dan itu begitu menyakitkan untuk Vania.


Sementara itu di kamar Farra.


Farra memperhatikan ponsel pemberian Ivan yang kini sedang berada di genggamannya. Ia sangat merindukan Aksa, sudah beberapa hari ia tidak mendengar suara adik kecilnya itu.

__ADS_1


Farra mencoba menghubungi nomor ponsel Tante Nurmala dan berharap Aksa masih belum tidur agar ia bisa bicara dengannya.


"Farra?! Aduh, kenapa baru sekarang kamu menghubungiku? Setiap hari Adikmu ini terus merengek ingin bertemu denganmu." Suara wanita itu terdengar kesal saat bicara bersama Farra.


"Maaf, Tante. Farra sangat sibuk jadi tidak ada waktu untuk bermain ponsel."


"Heh, alasan! Sekarang kamu enak 'kan, hidup menjadi istri dari seorang Raja yang kaya raya. Sampai-sampai adikmu sendiri kamu lupakan. Dasar tidak tahu terima kasih, kemarin-kemarin kamu nolak pas udah enak lupa sama kami!" ketus Nurmala.


"Ya Tuhan, Tante ... kenapa Tante bicara seperti itu? Tante sendiri tidak tahu bagaimana kehidupanku di tempat ini. Aku disini tidak lebih dari seorang pelayan. Bahkan nasibku lebih menyedihkan dari seorang pelayan!" sahut Farra dengan bibir bergetar.


Nurmala mencebikkan bibirnya. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan gadis itu. "Huh, aku tidak percaya! Sebaiknya kamu segera berkunjung kesini, aku tidak ingin adikmu malah jatuh sakit karena terus memikirkanmu," ucap Nurmala lagi.


"Baiklah, besok aku coba meminta izin kepada Tuan Raja dan semoga saja dia memberikanku izin," sahut Farra.


Setibanya disana, Farra langsung meraih sebuah gelas kemudian mengisinya dengan air putih. Ia duduk disalah satu kursi yang ada di ruangan itu dan meminum minumannya.


Farra tidak tahu bahwa saat itu Raja juga sedang menuju dapur. Lelaki itu terkejut ketika mendapati lampu di ruangan tersebut masih menyala. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia harus bertemu dengan Farra disana.


Setengah menyadari kehadiran lelaki itu, Farra segera bangkit kemudian berdiri menjauh dari Raja. Raja meraih sebuah kursi dan duduk disana dengan wajah acuh tak acuh.


"Pelayan, buatkan aku kopi!" teriak Raja memecah keheningan di malam itu.


"Tu-tuan, para pelayan lainnya sudah beristirahat di kamar mereka. Ehm ... jika Tuan mau, saya bisa membuatkan kopi untuk Anda," ucap Farra dengan tubuh gemetar.

__ADS_1


Tatapan Raja sekarang tertuju pada gadis yang masih berdiri dengan jarak yang lumayan jauh darinya. Raja tersenyum tipis sambil memperhatikan tubuh Farra. Ingatan malam itu masih jelas di kepalanya, dimana ia begitu puas menikmati tubuh polos gadis itu.


"Lupakan saja, aku tidak ingin di racun olehmu," sahutnya, masih dengan seringaian di wajah lelaki itu.


Farra menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya tidak akan meracuni Anda, Tuan. Sekalipun Anda begitu membenci saya," sahut Farra.


Perlahan Farra melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Namun, ketika di ambang pintu, Farra kembali menghentikan langkahnya. Ia teringat akan Aksa dan ingin meminta izin kepada lelaki itu.


Raja yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari Farra, kembali tersenyum ketika gadis itu berhenti melangkah dan berbalik menghadapnya.


"Ehm, Tuan Raja. Bolehkah saya minta izin untuk menjenguk Adik saya besok? Saya sangat merindukannya, Tuan," lirih Farra dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


Raja bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Farra sambil tersenyum tipis. Farra sempat memundurkan tubuhnya beberapa centi ke belakang dan berharap lelaki itu berhenti mendekatinya.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" ucap Raja sembari meraih wajah Farra yang tertunduk.


Kedua mata mereka saling bertaut dan saat itu Raja menyadari bahwa kedua manik milik Farra begitu indah. Namun, sayangnya biji manik yang indah itu nampak berkaca-kaca karena gadis itu kecewa setelah mendengar jawaban darinya.


"Baiklah, karena suasana hatiku sangat bagus. Maka aku akan mengijinkanmu menemui Adikmu. Tapi, ada syaratnya," ucap Raja lagi.


Tersungging sebuah senyuman di wajah Farra. "Apa syaratnya, Tuan?"


"Layani aku malam ini," sahut Raja seraya melepaskan wajah Farra yang kini nampak bimbang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2