Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pertanyaan Zian


__ADS_3

Tin ... tin ... tin ....


Sebuah mobil mewah masuk ke halaman depan rumah baru Farra. Farra yang sedang duduk bersantai di teras sambil menikmati segelas susu untuk ibu hamil, terkejut karena mobil itu begitu asing untuknya.


"Mobil siapa ini?" Tiba-tiba saja Farra kepikiran bahwa itu adalah mobilnya Raja dan ia menjadi parno sendiri.


Begitu pintu mobil itu terbuka, senyuman Farra pun merekah. Ternyata mobil itu ditumpangi oleh dua orang laki-laki berbeda usia yang begitu spesial di hati Farra, Zian dan Aksa.


"Kak Farra!" teriak Aksa seraya berlari menghampiri Farra.


Farra merentangkan tangannya dan bersiap menghadang kedatangan Aksa. Begitu bocah itu dekat, Farra pun segera memeluknya dengan erat.


"Kak, lihatlah mobil baru Om Zian, keren 'kan!" seru Aksa dengan mata membulat sempurna ketika memberitahukan hal itu kepada Farra.


"Ya, keren sekali. Persis seperti orangnya," sahut Farra seraya melirik lelaki yang kini berjalan mendekatinya.


Zian hanya bisa mengelus tengkuknya sambil tersenyum kecut. Ia menjatuhkan dirinya tepat di samping Farra kemudian melepaskan jas yang melekat erat di tubuhnya.


"Loh, kenapa dilepas, Kak? Kakak benar-benar keren saat mengenakan baju itu," ucap Farra.


"Jas," sambung Zian.


"Ah ya, jas maksudku." Farra tersenyum kecut menatap Zian karena ia sudah salah menyebutkan nama benda itu. Bagi Farra, mau itu jas, blazer, tuxedo, rompi, atau apalah itu, terserah baginya semua sama saja.

__ADS_1


"Kakak ini sebenarnya kerja apa sih, Kak. Sepertinya Kakak sekarang kerja di kantoran, ya? Dan mobil itu, pasti mobil perusahaan, 'kan? Wah ... pasti perusahaannya besar dan pemiliknya juga kaya raya seperti Tuan Raja," seru Farra.


Zian terdiam sambil terus memperhatikan ekspresi gadis itu. Ada sesuatu dari Farra yang membuatnya penasaran hingga sekarang. Namun, Zian masih belum berani bertanya kepadanya.


"Farra,"


"Hmm?"


Farra menoleh sambil tersenyum manis. Manis sekali hingga Zian pun tidak bisa berhenti menatap gadis itu.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu? Tapi, sebenarnya aku takut. Aku takut kamu tersinggung," ucap Zian dengan ragu-ragu.


Farra mengerutkan alisnya sambil tersenyum tipis menatap Zian. "Kenapa aku harus tersinggung, Kak? Tanyakan saja," sahut Farra.


Walaupun sebenarnya ia ragu, tetapi pada akhirnya Zian pun memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada gadis itu.


Akhirnya pertanyaan yang terus memenuhi kepala Zian pun terucap sudah. Sekarang tinggal menunggu jawaban dari Farra. Entah jawaban itu akan membuat hatinya senang atau malah sebaliknya, Zian pun tak tahu.


Sementara Farra sempat terdiam setelah pertanyaan itu meluncur dari bibir Zian. Farra sama sekali tidak marah, apalagi tersinggung. Hanya saja pertanyaan itu terdengar begitu aneh di telinganya.


"Apa kamu tahu, Kak Zian. Semenjak Ibu meninggal dunia dan meninggalkan sosok Aksa kepadaku, yang kutahu hanyalah berjuang. Berjuang membesarkan Aksa dan memenuhi kebutuhannya. Tidak ada kesempatan untukku mengenal yang namanya jatuh cinta. Bahkan alasan aku bersedia menikah dengan Tuan Raja pun hanya demi kesembuhan Aksa. Yang saat itu membutuhkan biaya yang sangat besar untuk operasi serta pengobatannya. Jadi, jika Kakak bertanya apakah aku mencintai Tuan Raja? Jawabannya tentu saja 'Tidak'. Ya, aku akui saat Tuan Raja mengusirku dari rumah mewah itu, aku sempat kecewa. Namun, bukan karena aku mencintai lelaki itu, tapi karena dia terlalu kejam. Dia rela membuangku padahal ia sendiri tahu bahwa ada bayinya yang sedang tumbuh di dalam rahimku," tutur Farra dengan wajah kesal.


Ada rasa bahagia di hati Zian setelah mendengar jawaban dari gadis itu. Pertanyaan yang selama ini menghantui pikirannya, kini terjawab sudah dan Zian lega setelah mengetahui jawabannya.

__ADS_1


"Bagaimana jika suatu saat nanti Raja memintamu kembali padanya?"


Farra membuang napas berat. "Aku rasa tidak mungkin, Kak. Lagi pula di sana sudah ada Nona Vania yang akan selalu menemaninya. Jadi, rasanya mustahil jika Tuan Raja mengharapkan seseorang seperti diriku. Akan sangat lucu jika itu benar-benar terjadi." Farra tersenyum tipis seraya bangkit dari posisi duduknya.


"Ya, kamu benar."


Zian pun ikut bangkit dari posisinya kemudian mengikuti Farra yang berjalan memasuki rumahnya.


"Farra,"


Tiba-tiba Zian kembali meraih tangan Farra dan membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


"Ya?"


"Bagaimana jika suatu saat nanti ada seseorang yang benar-benar mencintaimu dan siap menerima dirimu apa adanya, apakah kamu bersedia membuka hatimu untuk lelaki itu?" tanya Zian tiba-tiba.


Farra memperhatikan wajah Zian dengan sangat serius. Ia tidak tahu apa maksud Zian menanyakan hal itu padanya dan ia juga tidak curiga sedikitpun kepada lelaki itu.


"Kenapa tidak? Selama dia benar-benar bisa menerima diriku apa adanya dan bisa menerima kehadiran sosok Aksa dan juga bayiku," jawab Farra sambil tersenyum.


"Walaupun lelaki itu miskin?" lanjut Zian.


Farra tergelak mendengar ucapan Zian.

__ADS_1


"Ya ampun, Kak Zian. Aku ini sudah terbiasa hidup miskin bahkan saat tinggal bersama suami yang kaya raya pun, aku tetap menjadi orang miskin. Buktinya, aku menjadi pelayan di rumah mewah suamiku sendiri, tanpa digaji pula. Rasanya tidak masalah jika lelaki itu miskin, yang penting hatinya tidak semiskin Tuan Raja," tutur Farra.


...***...


__ADS_2