
"Sekarang, lepaskan pakaianmu!" Raja menaikkan pakaian Farra dan mencoba melepaskannya dari tubuh gadis itu dengan kasar.
Farra berontak dan menjatuhkan dirinya tepat di depan kaki Raja kemudian bersimpuh di hadapannya.
"Tuan, kumohon! Lepaskan aku," lirihnya sambil menangkupkan kedua tangan ke dada.
Raja melemparkan botol minumannya ke sembarang arah kemudian berjongkok di hadapan Farra. Ia kembali memaksa gadis itu untuk melepaskan pakiannya.
"Lepaskan pakaianmu, Farra! Ingat, aku ini suamimu!" bentak Raja.
Farra terdiam sejenak dan memikirkan apa yang diucapkan oleh lelaki itu. Ya, Raja benar. Saat ini status Farra adalah istrinya yang sah, walaupun statusnya hanya istri kedua yang tak pernah di anggap oleh lelaki itu.
"Apa kamu masih ingin menolakku? Ingat, kamu akan berdosa jika menolak keinginanku," bisiknya sambil menyeringai licik.
Dengan gemetar Farra pun mengikuti keinginan lelaki itu. Ia melepaskan pakaiannya dan kini yang tersisa hanya pakaian dalamm.
Raja yang masih dalam pengaruh alkohol, belum lagi pengaruh obat kuat yang masih bereaksi di tubuhnya, membuat Raja tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh tubuh Farra.
Lelaki itu mendorong tubuh Farra dengan kasar hingga ia terjengkang di atas tempat tidurnya dan dengan cepat lelaki itu menindih tubuh Farra yang sejak tadi begitu menantang untuk di sentuh.
Ia melepaskan kimono tidur yang masih melekat di tubuhnya dan melempar kimono tersebut ke samping tempat tidur gadis itu.
__ADS_1
Farra yang masih tidak rela tubuhnya disentuh oleh Raja, hanya bisa menangis sambil menyilangkan tangannya ke dada. Raja meraih kedua tangan Farra dan meletakkannya ke samping kepala gadis itu sambil mencengkeramnya dengan erat.
"Aku harap kamu masih perawan, Farra. Karena jika tidak, aku pastikan akan membuat perhitungan padamu," ancam Raja.
Raja melepaskan brra dan celana dalamm yang masih menempel di tubuh Farra hingga tubuh gadis itu polos sempurna. Tak sehelai benangpun menempel di kulit mulusnya.
Raja yang sudah gelap mata, segera mengarahkan senjatanya ke area pribadi Farra tanpa mempedulikan bagaimana reaksi gadis itu. Sambil tersenyum licik, Raja mendorong tubuhnya dengan kasar dan membuat Farra memekik kesakitan.
"Tuan! Kumohon, hentikan! Ini sakit," pekik Farra dengan bibir bergetar.
Raja tidak mempedulikan pekikan gadis itu, yang penting baginya sekarang adalah hasratnya terpuaskan. Ia kembali menghentak-hentakan tubuhnya agar senjatanya bisa masuk dengan sempurna ke area sensitif gadis itu.
Farra tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa berdoa semoga hal ini cepat berlalu. Farra mencengkeram seprei sambil menahan rasa sakit yang amat sangat di area sensitifnya.
"Aku sangat puas, Farra. Ternyata kamu masih perawan. Itu artinya tidak sia-sia aku menikahimu dan mengeluarkan banyak uang untuk kamu, tante dan juga adikmu, Aksa."
Farra hanya bisa terisak sambil menahan sakit. Benar-benar sakit hingga Farra tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
Setelah berbisik, Raja meneruskan aktivitas panasnya. Ia menarik dan mendorong tubuhnya dengan cepat tanpa mempedulikan Farra yang masih merasakan sakit di area pribadinya.
Raja benar-benar menikmati tubuh Farra dan ia merasakan kenikmatan yang tiada terkira. Rasa nikmat yang begitu berbeda dari sebelumnya, ketika ia melakukannya bersama Vania.
__ADS_1
"Ughh, Akhhh!"
Desahann demi desahann keluar dari bibir lelaki itu hingga tak terasa hampir berjam-jam ia melakukannya bersama Farra.
"Tu-tuan, kumohon berhentilah," lirih Farra yang sudah nampak kelelahan. Ia sangat kelelahan karena ini adalah yang pertama kali baginya. Dan ia pun masih merasakan sakit di area pribadinya walaupun tidak sesakit saat senjata Raja pertama kali memasuki area sensitifnya.
Lagi-lagi Raja tidak menggubris ucapan Farra. Ia tetap melakukan aktivitas panasnya hingga hasratnya benar-benar tersalurkan. Setelah beberapa saat, akhirnya Raja mengerang di atas tubuh Farra. Ia mengeluarkan benih-benihnya ke dalam rahim gadis itu.
Setelah puas, Raja menjatuhkan dirinya di samping Farra yang sudah terpejam. Raja melirik gadis itu sambil menyenggol tubuhnya. Namun, Farra tidak juga bereaksi.
Raja bergegas bangkit kemudian menepuk pelan kedua belah pipi Farra sambil memanggil namanya.
"Farra! Farra!" panggilnya.
Karena Farra masih diam dan tak juga menyahut panggilannya, akhirnya Raja sadar bahwa saat ini Farra telah pingsan karena kelelahan.
"Heh, baru begitu saja dia sudah pingsan! Apalagi jika aku menghajarnya semalaman penuh," gumam Raja sambil tersenyum sinis.
Raja meraih kimono yang ia letakkan di samping tempat tidur Farra. Setelah mengenakan kimono tersebut, Raja pun segera keluar dari kamar Farra dan kembali ke ruang kerjanya.
Ia masih kesal dengan Vania dan untuk saat ini ia tidak ingin bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
...***...