
Dreett ... dreett ....
Ponsel Zian yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar. Lelaki itu meraihnya kemudian mengecek siapa malam-malam begini menghubungi nomor ponselnya.
"Pak Anton?" gumam Zian sambil menautkan kedua alisnya. "Tumben malam-malam begini dia menghubungiku?"
Zian menerima panggilan dari Mandor perkebunan sawit tersebut kemudian meletakkan ponsel miliknya ke samping telinga.
"Ya, Pak?"
"Zian, maafkan aku mengganggumu malam-malam begini. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu dan inI sangatlah penting."
"Apa itu, Pak?
"Aku ingin kamu membantuku, Zian. Jika kamu berhasil membantuku, aku akan naikkan gajimu dua kali lipat!" ucap Pak Anton dengan sangat antusias.
Zian semakin heran, tetapi ia sudah punya firasat tidak baik dari keinginan lelaki tua itu. "Ehm, bantuan seperti apa itu, Pak Anton. Jika saya bisa membantu Anda, saya pasti melakukannya dengan senang hati," sahut Zian.
"Aku ingin melamar Adik sepupumu yang cantik itu, Zian. Farra ... bahkan namanya saja selalu terngiang-ngiang di telingaku," ucap Pak Anton sambil membayangkan wajah cantik Farra.
Zian menekuk wajahnya dengan sempurna. Ia benar-benar kesal mendengar permintaan lelaki tua itu. Zian sudah menduga hal ini sebelumnya, apalagi saat ia melihat cara Pak Anton mengajak Farra bicara tadi sore.
"Aku akan melamarnya dengan mahar yang fantastis, sebutkan saja berapa yang ia mau. Aku akan membelikan ia rumah yang jauh lebih mewah dari rumah keempat isteriku dan kamu tidak usah khawatir, Zian. Jika kamu berhasil membujuk Farra untuk menikah denganku, aku akan membelikan kamu mobil baru. Mobil yang sama seperti punyaku, bagaimana?!" Bujukan maut Tuan Anton.
Zian menggelengkan kepalanya sebal. kedua bola mata Zian bahkan memutar dengan sempurna setelah mendengar permintaan nakal lelaki tua itu.
"Dari pada membantumu, Pak Tua, mending aku membantu diriku sendiri untuk mendapatkan cinta dari gadis itu," gumam Zian dengan wajah menekuk kesal.
__ADS_1
"Hallo, Zian? Apa kamu masih di sana?" tanya Pak Anton karena Zian tidak juga membalas ucapannya.
"Ya, Pak. Saya masih di sini. Ehm, nanti akan saya sampaikan kepada Farra maksud dan keinginan Anda. Dan semoga saja Farra bersedia menerima lamaran Anda, Pak."
"Ish, amit-amit jabang bayi," gumam Zian sambil menjauhkan ponselnya agar Pak Anton tidak mendengar apa yang dia ucapan.
"Bagus! Dan ingat kata-kataku, Zian. Kamu akan mendapatkan kenaikan gaji dua kali lipat dan mobil baru yang sama seperti mobilku, keren 'kan?!" ucap Pak Anton sebelum lelaki itu mengakhiri panggilannya bersama Zian.
"Sialan, lelaki ini benar-benar tidak ingat umur rupanya. Sudah tua, istri banyak, masih saja jelalatan mencari mangsa baru," gerutu Zian sembari meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
Lelaki itu merapikan bantal kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya. Masih sama seperti malam-malam sebelumnya, Zian tidur di kursi panjang yang ada di ruang depan.
Karena rumah sederhana milik Zian hanya memiliki satu ruang kamar tidur, kamar yang sedang ditempati oleh Farra dan Aksa. Namun, begitu Zian tetap merasa nyaman dan tidurnya pun masih nyenyak walaupun ia tidak tidur di kasur yang empuk.
. . .
Ia menghampiri dapur dan memperhatikan Farra yang begitu lincah dengan pekerjaannya, di mana orang-orang masih terlelap dalam tidur mereka.
"Kak Zian?" Farra bingung ketika sadar ternyata lelaki itu sudah berada di belakang sambil memperhatikan dirinya.
"Aku salut padamu, Farra. Di saat semua orang tengah tertidur, kamu malah asik dengan pekerjaanmu di sini," ucap Zian seraya menghampiri Farra.
"Aku sudah terbiasa seperti ini, Kak. Bahkan sebelum aku menikah ...." Farra menghentikan ucapannya kemudian menghembuskan napas panjang.
"Baiklah, apa yang bisa aku bantu?"
"Tidak usah, Kak. Lagipula aku sudah hampir selesai. Tinggal menunggu yang itu matang, udah." Farra kembali tersenyum menatap Zian.
__ADS_1
Zian pun menganggukkan kepalanya pelan kemudian duduk di kursi makan sambil memperhatikan Farra yang masih sibuk dengan peralatan dapurnya.
"Dasar Raja gila, istri sebaik ini malah disia-siakan. Lihatlah, Raja! Aku pastikan kamu pasti akan menyesali perbuatanmu," gerutu Zian dalam hati.
Farra menghampiri Zian dengan membawa secangkir kopi panas. Ia meletakkan kopi tersebut di hadapan lelaki itu, kemudian ia pun duduk di sana sambil menyeruput segelas teh hangat.
"Terima kasih, Farra." Zian kembali ter kemudian mencoba menyeruput kopi tersebut sambil meniup-niupnya.
"Kak," panggil Farra.
Zian mengangkat kepala kemudian menatap gadis yang sedang duduk di hadapannya itu dengan seksama.
"Ya?"
"Apa Kakak sudah pernah menikah?" tanya Farra tiba-tiba.
Zian terdiam sejenak, tetapi matanya tetap tertuju pada gadis itu bahkan tanpa berkedip sedikitpun.
"Memangnya kenapa, Farra? Apa aku sudah terlihat seperti Bapak-Babak?" sahut Zian sambil terkekeh pelan.
"Bukan seperti itu maksudku, Kak."
"Oh ya, ngomong-ngomong soal Bapak-Bapak, Kakak jadi ingat sama Pak Mandor. Dia bilang, dia ingin melamarmu, Farra," ucap Zian yang kembali terkekeh.
"Ish, Kakak apaan, sih!" kesal Farra sambil memukul lengan lelaki itu dengan sendok teh yang sedang ia pegang.
...***...
__ADS_1