
Mobil yang ditumpangi oleh Vania dan Farra, akhirnya tiba di halaman depan kediaman Raja nan mewah itu. Setelah Farra keluar dari mobil tersebut, Vania pun kembali menghampirinya.
"Ingat ya, Farra! Jangan pernah ceritakan tentang kehamilanmu ini kepada siapapun, kamu mengerti?!" ucap Vania dengan nada setengah mengancam.
Tanpa mendengar jawaban dari Farra, Vania bergegas masuk ke dalam rumah tersebut. Wanita itu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar utama. Di mana Raja masih beristirahat di dalam sana.
Setibanya di sana, Vania segera membuka pintu kamar utama dengan sangat keras. Emosinya yang sudah berada di ubun-ubun membuat Vania tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Ia menghampiri Raja yang terlihat kebingungan. Raja bingung karena tiba-tiba saja Vania masuk ke kamar utama dengan wajah memerah menahan marah.
"Ada apa, Vania?" tanya Raja saat Vania sudah berdiri di hadapannya.
"Kamu memang bajingann, Raja!"
Vania meraih bantal miliknya kemudianar memukul lelaki itu dengan benda tersebut. Raja yang belum tahu permasalahan yang sebenarnya, tentu saja bingung dan ia pun sedikit kesal karena Vania terus-terusan memukulnya.
"Vania, hentikan!"
Raja yang sudah sangat kesal, mengambil alih bantal tersebut dari tangan Vania kemudian melemparkannya ke lantai ruangan itu. Rasa sakit di kepala Raja bahkan belum berkurang dan sekarang tiba-tiba Vania datang kemudian memukulnya tanpa sebab yang jelas.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, Vania?!" tanya Raja seraya menatap serius kepada wanita itu.
"Seharusnya kamu tanya pada dirimu sendiri, kenapa aku bisa jadi seperti ini!" teriak Vania sambil terisak.
__ADS_1
"Kamu bilang padaku bahwa Farra bukanlah tipemu! Dan kamu tidak akan pernah tergoda pada gadis kampungan itu. Tapi, nyatanya apa?! Kamu malah meniduri gadis itu, Raja!"
Raja menautkan kedua alisnya heran. Ia bingung dari mana Vania tahu bahwa dirinya pernah meniduri gadis itu.
"Sialan, dari mana Vania tahu tentang semua itu? Apakah Farra yang sudah memberitahukannya? Dasar gadis kampung! Bukankah aku sudah bilang padanya untuk tidak menceritakan masalah itu kepada siapapun, terlebih kepada Vania."
Perlahan Raja bangkit dari tempat tidurnya kemudian menghampiri Vania yang masih emosi tingkat dewa.
"Vania, dengarkan aku!"
Raja mengulurkan tangan kepada wanita itu sembari menghampirinya. Walaupun saat ini kepala Raja kembali berputar-putar karena berdekatan dengan Vania, tetapi dengan terpaksa ia pun menahannya.
"Jangan sentuh aku, kamu menjijikkan!" hardik Vania seraya menepis tangan Raja yang terulur di hadapannya.
Tentu saja Vania semakin kesal setelah mendengar jawaban dari lelaki itu.
"Sudah cukup, Raja! Di saat seperti ini kamu masih bisa menyangkalnya, kamu memang sangat keterlaluan!" hardik Vania.
Raja menghembuskan napas berat sambil menatap sedih kepada Vania yang sudah mulai putus asa.
"Maafkan aku, Vania. Ya, aku akui, aku memang salah karena sudah bermain bersama Farra di belakangmu. Namun, aku melakukannya tanpa ada rasa cinta sama sekali. Aku hanya menuntaskan hasratku, Vania. Apa kamu lupa, sebelum kamu melakukan operasi, kamu bahkan sering sekali menolakku tanpa alasan yang jelas. Dan dengan terpaksa aku memilih Farra untuk menjadi penuntas hasratku," tutur Raja.
Vania mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun sadar bahwa ini bukan sepenuhnya kesalahan Raja. Ia pun salah karena selama ini ia tidak bisa memenuhi kebutuhan suaminya dengan baik.
__ADS_1
"Maafkan aku, Vania."
Raja menghampiri Vania kemudian memeluknya dengan erat. Walaupun kepalanya semakin terasa berputar-putar, perutnya kembali bergejolak, tetapi Raja mencoba menahannya demi Vania.
Setelah Vania sudah mulai tenang, Raja pun melepaskan pelukan mereka. Wajah lelaki itu memucat karena terlalu lama menahan rasa tidak nyamannya. Vania memilih beranjak dari kamar utama dan kembali ke kamarnya. Wanita itu ingin beristirahat karena ia merasa kelelahan.
Sedangkan Raja meminta pelayannya untuk memanggil Farra. Ia butuh penjelasan dari gadis itu bagaimana Vania bisa tahu tentang hubungan mereka selama ini.
Tidak butuh waktu lama, Farra pun tiba di kamar utama bersama pelayan. Farra yang masih shok dengan kehamilannya, kini malah harus di hadapkan dengan lelaki yang menyebalkan itu.
Raja memerintahkan pelayan untuk keluar dari ruangan itu dan kini tinggal Farra yang masih berdiri di hadapan lelaki itu dengan wajah yang memucat.
"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Farra.
"Siapa yang memberitahu Vania tentang hubungan kita? Aku yakin sekali pasti kamu yang melakukannya, benar 'kan? Karena selain kita berdua, tidak ada yang tahu bahwa kita sering melakukan hubungan itu, Farra."
Raja tersenyum sinis kepada Farra yang masih terdiam sambil terus memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikitpun.
Farra menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku melakukan itu, Tuan Raja? Jika aku ingin memberitahukan hal itu kepada Nona Vania, mungkin aku sudah melakukannya sejak pertama kali Tuan melakukan hal itu kepadaku," sahut Farra.
Raja kembali tersenyum sinis. "Apa kamu kira aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu? Selain kita, tidak ada yang tahu tentang itu, Farra! Jadi, akui saja!" kesal Raja.
...***...
__ADS_1