Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pisah Kamar


__ADS_3

"Sekarang aku sudah mandi dan aroma parfumku sudah tidak tercium lagi. Bagaimana menurutmu?" ucap Vania yang masih kesal.


Raja hanya bisa menatap sedih kepada Vania karena hingga saat ini ia masih tidak ingin dekat-dekat dengan wanita itu.


"Mungkin memang indera penciumanku yang sedang bermasalah, Vania. Bahkan hingga kamu sudah mandi pun aku masih bisa mencium aroma tidak menyenangkan ini," sahutnya.


Vania menggelengkan kepalanya dengan penuh kekecewaan. "Jadi, kamu masih tidak ingin aku mendekatimu, Raja?" pekiknya.


"Maafkan aku, Vania. Jika kamu ingin tidur di sini, aku bisa tidur di kamar lain." Raja mencoba menenangkan Vania yang sudah benar-benar kesal padanya.


"Tidak usah, biar aku yang tidur di kamar lain!" kesal Vania seraya melenggang pergi meninggalkan kamar itu.


Kini tinggal Tuan Raja yang terdiam di dalam kamarnya dengan perasaan bersalah. Ia sendiri tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dirinya mendadak menjadi aneh.


"Sebenarnya ada apa denganku?" ucap Raja sambil mengusap kasar wajahnya.


Sementara itu, di sebuah kamar kosong yang akan di tempati oleh Vania untuk sementara.

__ADS_1


Wanita itu terus menggerutu dan mengumpat kasar. Ia memaki-maki Raja sepuas hatinya di dalam ruangan itu tanpa didengar oleh siapapun.


Setelah beberapa saat, ia pun kelelahan karena terus marah-marah. Ia duduk di tepian tempat tidur kemudian meraih ponsel miliknya. Ia ingin mencurahkan kekesalan yang ia rasakan kepada Tania, sahabatnya.


"Tania, bisa aku bicara sebentar?"


"Tentu saja, Van. Kenapa tidak," sahut Tania dari seberang telepon.


"Tania, aku tidak mengerti kenapa sikap Raja akhir-akhir ini mendadak menjadi aneh. Bayangkan, beberapa hari yang lalu ia mengeluh sakit di kepalanya. Sampai kami periksa ke Rumah Sakit, tak ada penyakit apapun, dia sehat seratus persen. Bukan hanya sampai di situ, Raja bahkan membeli buah gandaria dan memakannya sampe kena diare. Terus sekarang aku di usir dari kamarku sendiri hanya gara-gara dia tidak suka aroma tubuhku, padahal tidak ada yang salah pada tubuhku! Mengesalkan bukan?!"


Tania terdiam sejenak setelah mendengarkan curhatan Vania. Karena merasa tak ada respons dari Tania, Vania pun kembali memanggil nama sahabatnya itu.


"Ya, ya! Aku masih di sini. Ehm, sebenarnya aku merasa janggal dengan ceritamu ini, Vania. Dulu kakak iparku pernah bercerita dan ceritanya hampir-hampir mirip dengan ceritamu, walaupun bukan buah gandaria. Dan kamu tahu apa yang terjadi sebenarnya?"


Vania menautkan kedua alisnya heran. "Aku tidak tahu, Tania! Ayolah, saat ini aku sedang kesal dan jangan main tebak-tebakan denganku karena otakku sedang tidak bisa digunakan," kesalnya.


"Ternyata kakak iparku hamil dan suaminya mengalami kehamilan simpatik. Dia yang ngidam, dia yang tersiksa dengan morning siknessnya. Tapi ... jika Raja benar-benar mengalami kehamilan simpatik, lalu siapa yang sedang hamil, Vania? Apa mungkin itu kamu, tidak mungkin. Atau mungkin ...."

__ADS_1


Tania tidak ingin meneruskan ucapannya karena ia tahu Vania pasti mengerti walaupun tidak ia sebutkan.


"Apa maksudmu, Tania!" Vania berteriak marah. Ia tidak terima jika Raja dikatakan sedang mengalami gejala kehamilan simpatik, sedangkan dirinya sudah dinyatakan tidak akan bisa hamil.


"Maafkan aku, Vania. Ini hanya pendapatku saja. Terserah jika kamu mau percaya ataupun tidak, itu urusanmu."


"Jadi maksudmu saat ini Raja mengalami kehamilan simpatik? Dan yang sedang hamil sekarang ini adalah si gadis sialan itu?! Tapi, bagaimana bisa? Raja bahkan tidak sudi gadis itu mendekatinya, jadi rasanya tidak mungkin ia hamil anak Raja."


Tania menghela napas panjang. "Bukankah sudah pernah aku katakan padamu, Vania. Jangan terlalu percaya ucapan laki-laki. Kalau menurutku gadis itu cantik. Hanya saja ia belum tahu cara berdandan. Coba saja ajak dia ke salon, bisa-bisa kelar idup loh!" sahut Tania sambil tertawa lepas.


"Hush, tidak lucu!" Vania semakin kesal saja bicara dengan sahabatnya itu.


Tania mencoba menghentikan tawanya. "Tapi, serius! Aku yakin Raja pun berpikiran sama denganku. Biar bagaimanapun kucing itu kalau lihat ikan segar kelepek-kelepek, pasti ngiler lah. Apalagi Raja yang notabenenya sebagai lelaki jablay, lihat barang nganggur, kenapa harus disia-siakan. Benar gak, sih?!"


Penuturan Tania yang terlalu jujur tanpa disaring itu membuat emosi Vania naik hingga ke ubun-ubun. "Sudah cukup, Tania! Bukannya meringankan masalahku, kamu malah membuat suasana hatiku menjadi semakin panas!" kesal Vania sembari memutuskan panggilannya.


Vania melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Ia mulai memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu barusan.

__ADS_1


"Bagaimana jika itu benar? Itu artinya posisiku di rumah ini akan digantikan oleh gadis itu. Tidak! Ini tidak boleh dibiarkan. Aku akan cari tahu dan jika itu benar maka aku harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan posisiku di rumah ini, terlebih posisiku di samping Raja!"


...***...


__ADS_2