Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Kue Seperti Buatan Farra


__ADS_3

"Ayo, cepat! Apa kalian tidak dengar apa perintahku?!" kesal Raja seraya menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruang utama.


"Baik, Tuan," jawab para pelayan serempak.


Para pelayan bergegas menuju dapur sambil berbincang-bincang sesama mereka. Mereka memperbincangkan masalah kue buatan Farra yang mereka sendiri tidak tahu seperti apa dan bagaimana rasanya.


"Bagaimana ini Bu Eni? Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara membuat kue seperti yang di inginkan oleh Tuan Raja. Ah, seandainya saja Farra masih di sini, mungkin kita tidak akan kesusahan seperti ini," ucap salah satu pelayan sambil menggelengkan kepalanya.


Bu Eni pun panik bukan kepalang. Bagaimana tidak, keinginan aneh sang majikan membuat seluruh anak buahnya kelimpungan. Bu Eni mulai mengingat-ingat bagaimana cara Farra membuat kue tersebut saat gadis itu masih berada di rumah ini.


"Sebenarnya dulu saat Farra membuat kue itu, aku sempat melihatnya tapi hanya sekilas saja. Soalnya aku tidak pernah membayangkan bakal seperti ini kejadiannya. Kalau tahu bakal seperti ini, aku pasti akan memperhatikannya baik-baik," sahut Bu Eni sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya yang lainnya dengan wajah cemas.


"Ya, kita bikin aja sebisanya. Kalau kita gagal, paling kita semua yang akan kena marah," sahut Bu Eni yang sudah mula putus asa.


Sementara Raja masih rebahan di ruang utama, di ruang dapur sedang terjadi keriuhan seperti arena kontes masak-memasak. Bu Eni bahkan sudah pasrah apapun yang akan terjadi padanya setelah ini.


Setelah beberapa saat kemudian perjuangan para pelayan pun selesai, membuat kue yang sengaja dimirip-miripkan dengan kue buatan Farra.

__ADS_1


Raja tersenyum puas ketika melihat para pelayan berdatangan dengan membawa nampan berisi kue-kue buatan mereka. Namun, ketika kue-kue tersebut di letakkan di hadapan lelaki itu, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya berubah.


"Kue apa ini? Ini tidak sama seperti buatan Farra. Lihat ini, bentuknya saja terlihat aneh! Aku tidak mau memakannya, aku yakin rasanya pasti tidak enak! Buat lagi," titahnya dengan wajah kesal menatap seluruh pelayannya.


Vania yang sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan kelakuan aneh Raja, akhirnya angkat bicara. Ia sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan aneh suaminya itu.


Vania berjalan menuruni anak tangga kemudian menghampiri para pelayan yang masih berdiri di hadapan Raja.


"Sudah cukup, Raja! Apa kamu sudah tidak waras, memerintahkan para pelayan untuk membuat kue yang sama seperti kue buatan Farra. Tentu saja itu mustahil bagi mereka. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana bentuk dan rasa kue buatan gadis kampung itu!" kesal Vania dengan wajah memerah menatap Raja.


Raja memasang wajah malas. "Lalu untuk apa aku menggaji mereka mahal-mahal kalau membuat kue seperti buatan Farra saja mereka tidak bisa?!" sahut Raja.


Sedangkan nasib para pelayan masih berada di ujung tanduk. Raja tetap meminta mereka membuat lagi yang baru, yang sesuai dengan keinginannya.


Vania bergegas menuju halaman depan kemudian meminta Pak Sopir mengantarkannya ke tempat Tania. Ia sudah pusing memikirkan kelakuan Raja yang semakin hari, semakin mengesalkan.


Tidak berselang lama, Vania tiba di tempat sahabatnya itu. Tania mempersilakan Vania masuk ke dalam rumahnya kemudian mereka pun mulai berbincang-bincang.


"Ada apa lagi sih, Van?" Tania bingung melihat ekspresi wajah Vania yang benar-benar kusut.

__ADS_1


"Aku kira setelah berhasil menyingkirkan gadis itu dari kehidupan kami, cerita tentangnya akan segera menghilang bersama hilangnya dia dari kehidupan kami. Namun, ternyata aku salah! Apa kamu tahu, Raja bahkan seperti orang gila. Dia meminta seluruh pelayannya untuk membuat kue sama seperti kue buatan gadis itu." Vania benar-benar kesal, wajahnya bahkan terlihat memerah karena menahan emosinya.


Tania terkekeh pelan setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. "Benarkah, lalu?"


"Tentu saja tidak akan pernah sama, lah! Para pelayan saja tidak pernah tahu bagaimana cara gadis itu membuatnya. Hari ini kue, besok-besok, entah apa lagi!" sahut Vania sembari mendengus kesal.


"Heh, Vania." Tania menghampiri Vania dan duduk lebih dekat lagi dengan wanita itu. "Menurutku, sebenarnya Raja itu sudah jatuh cinta sama Farra hanya saja dia tidak pernah menyadarinya, Van. Dan setelah gadis itu pergi, akhirnya dia sadar bahwa ternyata dia membutuhkan gadis itu," celetuk Tania tanpa mempedulikan bagaimana ekspresi Vania saat itu.


"Kamu itu kalau ngomong disaring sedikit bisa gak, sih? Bikin aku makin kesal saja!" ucap Vania sambil membulatkan matanya menatap Tania.


"Aduh, Van. Aku ini selalu bicara apa adanya! Apa yang ada di kepalaku, itulah yang aku keluarkan," sahutnya.


"Iya, aku tahu! Tapi, bukannya membantu memperbaiki moodku, kamu malah membuat moodku semakin berantakan, kamu tahu itu!" ketus Vania.


"Iya, iya, maafkan aku." Tania tertawa pelan kemudian memeluk tubuh Vania.


Sementara Vania semakin dibuat kesal oleh sahabatnya sendiri. Raja semakin kesal karena ia masih belum mendapatkan kue seperti yang ia inginkan.


Setelah puas mencaci maki seluruh pelayan karena tidak bisa memenuhi keinginannya, Raja yang kesal bangkit dari sofa. Dengan tergopoh-gopoh, lelaki itu berjalan menuju bekas kamar Farra yang letaknya jauh di ujung ruangan. Kamar sempit dan pengap yang menjadi saksi bisu, betapa menyedihkannya nasib Farra selama tinggal bersama Raja.

__ADS_1


...***...


__ADS_2