
"Seharusnya kamu bercermin terlebih dahulu sebelum berpikir untuk melamar seorang wanita, Zian. Lihat dirimu!" Raja kembali tersenyum sinis. "Aku rasa sebaiknya kamu cari gadis yang sama seperti dirimu. Mungkin seorang gadis kampung yang juga mengenakan kacamata tebal sama seperti kacamatamu ini," lanjut Raja seraya meraih kacamata tebal yang masih melekat di wajah Zian.
"Kembalikan kacamataku, Raja!" pekik Zian sambil mengedip-ngedipkan matanya karena penglihatan lelaki itu menjadi buram dan tidak jelas.
Bukannya menyerahkan kacamata itu kembali, Raja dan Vania malah semakin bersemangat membully Zian, lelaki yang selama ini mereka anggap lelaki culun dan sangat bodoh.
"Apa ini?" Raja meraih sebuah cincin berlian yang masih berada di dalam genggaman Zian kemudian memperlihatkannya kepada Vania.
"Coba lihat, Vania sayang! Lelaki culun ini membawakan sebuah cincin berlian untukmu. Apa kamu ingin memakainya?" tanya Raja sambil terkekeh.
Vania pun ikut tertawa lepas, menertawakan Zian yang begitu naif. Yang begitu mengharapkan dirinya untuk menjadi pasangan hidup lelaki culun itu.
"Ih, enggaklah! Cincinnya kecil begitu," seru Vania.
"Bagaimana dengan yang ini?" Raja melemparkan cincin milik Zian ke sembarang arah kemudian memperlihatkan cincin berlian miliknya yang jauh lebih bagus dan lebih mahal tentunya.
"Wah!" Vania membelalakan matanya sambil tersenyum lebar. "Untukku?!" pekik Vania.
"Ya, cincin ini untukmu. Aku ingin melamarmu, Vania. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Raja sambil menyodorkan cincin itu kepada Vania.
Vania menganggukkan kepala dengan cepat sambil tersenyum lebar menatap cincin yang begitu cantik, yang sedang berada di hadapannya.
"Sebentar!" Raja menghampiri Zian yang masih mematung di tempatnya berdiri sambil memperhatikan pasangan itu dengan penglihatan yang samar-samar.
Raja memasangkan kembali kacamata tebal milik Zian kemudian tersenyum licik kepada lelaki itu.
__ADS_1
"Sekarang, kamu akan menjadi saksi di mana aku akan melamar Vania hari ini," ucap Raja.
Benar saja, dengan hati yang terluka, Zian menjadi saksi di mana sosok gadis pujaannya dilamar oleh sepupunya sendiri, di hadapan mata kepalanya.
"Vania sayang, maukah kamu menikah denganku?" tanya Raja.
"Ya, aku bersedia, Raja!" pekik Vania seraya menyerahkan jari-jemarinya kepada Raja, agar lelaki itu segera memasangkan cincin berlian mahal tersebut di jari manisnya.
Setelah Raja selesai memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Vania, Zian pun segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu sambil bergumam.
"Kalian memang pasangan yang serasi, sama-sama manusia yang tidak berhati," gumam Zian.
Ternyata Raja tidak terima saat sepupunya itu mengatakan bahwa ia dan Vania adalah manusia yang tidak memiliki hati. Raja yang kesal menarik kerah kemeja Zian dari belakang kemudian tanpa berpikir panjang memukul wajah Zian dengan sangat keras.
"Apa kamu bilang?!" pekik Raja sebelum tamparan keras mendarat di wajah Zian.
Zian jatuh tersungkur dengan darah segar mengucur disalah satu lubang hidungnya. Perlahan ia bangkit kemudian berdiri di hadapan Raja yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.
"Aku masih menganggapmu sepupuku, Zian. Seandainya tidak, aku pasti akan--" Belum habis Raja berucap, Zian membalas pukulan lelaki itu.
"Akan apa, ha?!"
Terjadilah perkelahian sengit antara Zian dan Raja di ruangan itu. Vania menjerit histeris, ia begitu shok melihat pergelutan kedua lelaki itu. Vania ingin mencoba melerai perkelahian itu, tetapi ia takut mendekat.
Kedua lelaki itu saling ganti pukul hingga wajah keduanya dipenuhi dengan luka lebam akibat pukulan keras mereka.
__ADS_1
"Sudah, cukup!" teriak Vania dengan lantang.
Ternyata teriakan Vania berhasil membuat kedua lelaki itu menghentikan pergumulan mereka. Zian yang sudah jengah berada di ruangan itu, segera pergi.
Raja masih penasaran dan ia ingin mengejar Zian saat itu. Namun, Vania menahannya dan meminta Raja untuk membiarkan lelaki culun itu pergi meninggalkan rumahnya.
"Sudahlah, Raja. Aku yakin setelah ini dia tidak akan pernah berani lagi menampakkan wajahnya di hadapan kita," ucap Vania mencoba menenangkan Raja yang masih gatal ingin menghajar sepupunya itu.
"Tapi, lelaki itu sangat mengesalkan, Vania!"
"Sudahlah," bujuk Vania lagi.
Setelah kejadian itu, Zian memutuskan untuk pergi meninggalkan kota serta keluarganya. Ia merantau ke desa dan ternyata dia merasakan hidupnya lebih bermakna di desa terpencil itu.
Desa itu pula yang mengajarkan pengalaman hidup yang lebih berarti untuk Zian. Bahkan ia bisa melupakan perasaannya terhadap Vania, juga karena desa itu.
"Zian, kenapa kamu diam saja?" pertanyaan Vania tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Zian.
"Hah?! Ehm, maafkan aku. Aku melamun," sahut Zian sembari melerai pelukan erat Vania dari tubuhnya.
Vania menyeka air matanya sambil tersenyum hangat. "Apa yang kamu lamunkan, Zian? Bolehkah aku tahu?"
Zian membalas senyuman Vania kemudian membelai kedua pipi wanita itu dengan lembut. "Melamunkan cerita masa lalu kita, Vania."
"Benarkah?!" Vania begitu bersemangat mendengar jawaban dari Zian saat itu.
__ADS_1
"Ya," sahut Zian seraya menarik kembali tangannya.
...***...