Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Tuan Raja Jatuh Pingsan


__ADS_3

Cukup lama Vania berada di ruang utama tanpa tahu bagaimana keadaan Raja saat ini. Ia tengah asik memainkan ponsel miliknya sambil berbalas pesan bersama teman-teman seprofesinya.


Hingga akhirnya Vania tersadar bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan Raja yang masih sakit. Lagipula saat itu Vania sudah merasa gerah dan ia ingin melakukan ritual mandinya.


Vania pun bangkit kemudian melangkah dengan cepat menuju kamar utama, di mana Raja sedang beristirahat, itu menurutnya. Padahal saat ini Tuan Raja sudah tidak sadarkan diri di dalam kamar mandinya yang berukuran besar itu.


Setibanya di kamar utama, tatapan Vania langsung tertuju pada tempat tidur mewahnya bersama Raja. Ia mengerutkan alisnya ketika mendapati tempat tidur berukuran king size tersebut kosong. Tak ada mahluk tampan yang menjengkelkan itu di sana.


"Raja?! Kamu di mana?" panggil Vania sembari mencari keberadaan Raja.


Hingga ia menjelajahi ke seluruh ruangan itu, Vania tidak juga menemukan keberadaan suaminya.


"Di mana dia?!" gumam Vania seraya menghampiri pintu kamar mandi. Satu-satunya ruangan yang belum terjamah olehnya.


Perlahan Vania membuka pintu ruangan itu dan memasukinya. Betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati Raja yang kini tergeletak di atas lantai kamar mandi dengan wajah pucat pasi.


Vania menjerit histeris kemudian berlari dari ruangan itu guna mencari pertolongan. Ia berlari sambil berteriak memanggil siapa saja yang bisa membantunya menolong Tuan Raja.


"Tolong! Tolong! Kumohon siapa saja, tolong aku!" teriaknya.


Para pelayan yang mendengar teriakkan Vania, berbondong-bondong menghampirinya.


"Ada apa, Nona Vania?"

__ADS_1


"Cepat, panggil siapa saja untuk menolong Tuan Raja. Ia jatuh pingsan di dalam kamar mandi dan aku tidak sanggup mengangkat tubuhnya yang besar itu," sahut Vania panik.


"Baik, Nona."


Salah satu pelayan mencari bantuan para keamanan yang sedang berjaga di depan, sedangkan yang lainnya mengikuti Vania menuju kamar utama. Setibanya di sana, Vania dan beberapa pelayan mencoba mengangkat tubuh besar Raja yang tidak berdaya.


Tepat di saat itu, dua orang penjaga keamanan masuk ke dalam ruangan tersebut kemudian mengambil alih tugas para wanita-wanita itu.


Setelah berhasil membawa tubuh Tuan Raja yabg tidak berdaya itu kembali ke tempat tidurnya, para penjaga keamanan itupun segera pamit dan tinggal beberapa pelayan yang masih berjaga di sana karena Vania yang memintanya.


Vania meraih ponselnya dengan wajah cemas kemudian mencoba menghubungi Ivan.


"Van, segeralah kemari. Raja jatuh pingsan dan jangan lupa panggil Dokter sekalian," titah wanita itu.


"Baik, Nona."


Sementara itu.


Farra masih asik dengan pekerjaannya, ia bahkan tidak tahu bahwa di kamar utama sedang terjadi keributan karena Tuan Raja nan menyebalkan itu jatuh pingsan tanpa sebab yang jelas.


"Eh, kamu tahu tidak? Tadi di atas terjadi keributan. Tuan Raja jatuh pingsan di dalam kamar mandi," ucap salah satu pelayan yang sedang memberi tahu pelayan lainnya.


Kebetulan Farra pun mendengar pembicaraan kedua pelayan itu. "Tuan Raja pingsan?" gumam Farra sambil menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Ivan tiba bersama seorang Dokter yang sudah menjadi langganan Tuan Raja. Ivan bergegas menuntun Dokter tersebut menuju kamar utama dan memintanya agar secepatnya memeriksa kondisi Tuan Raja.


Di saat Dokter masih memeriksa keadaannya, tiba-tiba saja Tuan Raja tersadar. Dokter tersenyum hangat saat menatap Raja yang nampak kebingungan.


"Perut dan kepalaku sakit sekali, Dok? Berilah aku obat yang paling ampuh agar aku cepat sembuh. Aku benar-benar sudah tidak sanggup menahannya!" keluh Raja sambil memejamkan matanya kembali.


"Ya, iyalah sakit! Siapa suruh memakan buah itu banyak-banyak. Bukankah aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, tapi kamunya sama sekali tidak peduli," sela Vania sambil mendengus kesal.


Setelah selesai memeriksa kondisi Raja, akhirnya Dokter bisa menyimpulkan bahwa lelaki itu terkena diare dan mengalami dehidrasi yang cukup parah.


"Jika setelah ini kondisi Tuan Raja tidak ada perubahan atau malah semakin memburuk, saya sarankan Tuan Raja segera di bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut," ucap Dokter.


Ivan dan Vania pun menganggukkan kepala mereka. Setelah Dokter itu pamit, Vania pun mencoba menghampiri Raja. Ia lupa bahwa saat ini Tuan Raja tidak menyukai aroma tubuhnya.


"Raja, tolong jangan berbuat yang aneh-aneh lagi setelah ini. Aku takut, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu," ucap Vania yang kini duduk di tepian tempat tidur, di samping tubuh Raja.


Raja yang masih terpejam, tiba-tiba membuka matanya dengan lebar saat menatap Vania yang sedang duduk di sampingnya.


"Vania, maafkan aku. Tapi, aku benar-benar tidak suka kamu dekat-dekat denganku. Aku tidak suka dengan aroma parfummu," ucap Raja sambil menutup hidungnya dengan tangan.


Vania kembali menjerit kesal. Ia bahkan sempat melemparkan bantal ke arah Raja karena saking kesalnya.


"Hhhh!"

__ADS_1


Sambil menghentak-hentakan kakinya, Vania berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin segera melakukan ritual mandinya dan berharap setelah ini Raja tidak akan mengusirnya lagi.


...***...


__ADS_2