Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Pertolongan Zian


__ADS_3

Raja membulatkan matanya ketika melihat perkelahian sengit antara anak buahnya dan juga anak buah Zian. Dan yang paling mencuri perhatian Raja saat itu adalah di mana Zian seperti orang kesurupan menghajar anak buahnya.


Setelah lawannya tumbang, kini tatapan Zian tertuju pada Raja yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Raja menatap lekat lelaki yang tidak lain adalah sepupunya sendiri itu dengan tatapan kesal.


"Di mana Farra!" kesal Zian seraya melangkah menghampiri Raja.


Raja tersenyum sinis sambil menjaga jarak dari Zian yang emosinya sudah di ubun-ubun tersebut. "Di tempat yang seharusnya, Zian. Kenapa, hah? Kenapa kamu begitu peduli padanya. Apa kamu lupa bahwa Farra adalah istriku dan aku belum pernah mengucapkan talak kepadanya," sahut Raja.


Zian semakin kesal. Rahang lelaki itu menegas dan tangannya pun terlihat mengepal dengan sempurna sehingga urat-urat lengannya terlihat dengan sangat jelas.


"Kamu memang laki-laki yang tidak tahu malu, Raja. Kamu bilang Istri? Apa kamu tidak malu menyebut Farra sebagai istrimu setelah kamu mengusirnya ke jalan pada waktu itu? Kamu biarkan ia dan Aksa luntang-lantung di jalan tanpa arah dan tujuan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kamu bahkan tidak memberikan uang sepeser pun kepadanya. Apa kamu bisa membayangkan bagaimana keadaan mereka saat itu, Raja? Tanpa uang satu rupiah pun di tangan, ia dan Aksa harus menahan lapar dan haus di tengah kebingungan mereka. Di mana hati nuranimu saat itu, padahal kamu tahu Farra sedang mengandung anakmu. Beruntung aku menemukan mereka, tapi bagaimana jika seandainya yang menemukan mereka adalah orang jahat? Bisa-bisa Farra diperkossa kemudian dibunuh. Dan mungkin dengan begitu kamu akan merasa lebih senang. Bukan begitu, Raja?!" kesal Zian.


Raja terdiam setelah mendengarkan penuturan dari lelaki itu. Raja tidak mampu menjawab karena apa yang diucapkan oleh Zian saat itu adalah benar.


"Kenapa diam, Raja?" Zian tersenyum sinis saraya memperhatikan Raja yang terdiam, memikirkan kesalahan besar yang sudah ia lakukan terhadap Farra.


Sementara itu di kamar utama, di mana Farra dikurung oleh Raja.


Farra yang sudah sangat kesal, melempari barang-barang milik Raja ke pintu kamar. Botol parfum, gelas, dan apapun itu yang bisa menimbulkan suara berisik. Tak lupa, ia juga berteriak berharap seseorang di bawah sana bisa menolongnya.


Samar-samar terdengar suara gaduh dari lantai atas. Yang terlintas di pikiran Zian saat itu hayalah Farra. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas, di mana suara kegaduhan itu berasal.

__ADS_1


Ketika Zian berlari menuju kamar utama, Raja pun segera menyusul. Ia tidak ingin Zian berhasil menemukan Farra dan membawa gadis itu kembali bersamanya.


"Farra!" teriak Zian dengan lantang.


Mendengar suara Zian memanggil namanya, Farra pun tersenyum puas sambil mengucap syukur. "Kak Zian?! Oh Tuhan, terima kasih," gumamnya.


Farra kembali menghampiri pintu ruangan itu kemudian berteriak di sana sambil menggedor-gedor pintu tersebut.


"Kak Zian! Aku di sini," balas Farra dengan berteriak.


"Farra!" Akhirnya Zian menemukan kamar utama, di mana Farra terkurung.


"Farra, kamu di dalam?" Zian meletakkan telinganya di daun pintu dan mencoba mendengarkan suara dari dalam ruangan tersebut.


Zian mencoba membuka pintu tersebut, tetapi tidak bisa karena pintunya di kunci oleh Raja dan kuncinya berada di tangan lelaki itu. Mau tidak mau, Zian pun harus mencoba mendobrak pintu ruangan tersebut.


"Farra, menjauhlah dari pintu. Aku ingin mencoba mendobraknya!" teriak Zian lagi.


"Baiklah," sahut Farra sembari menjauh dari pintu.


Zian memasang kuda-kuda dan bersiap mendobrak pintu ruangan itu. Namun, belum sempat Zian melakukan hal itu, Raja menghampirinya kemudian memukul lelaki itu dengan sangat keras.

__ADS_1


Zian terjatuh ke lantai sambil memegang wajahnya yang sakit akibat pukulan dari Raja. Darah segar mengucur dari hidung lelaki itu. Tiba-tiba saja bayangan menyakitkan yang pernah terjadi padanya kembali terlintas. Di mana Raja pernah membully dirinya.


Kekesalan dan kemarahan itu semakin merajai hati Zian saat itu. Ia bangkit kemudian berdiri di hadapan Raja sambil menyeka darah yang mengalir di hidungnya.


Zian tersenyum sinis dan setelah itu ia pun segera membalas pukulan Raja. Kedua lelaki itupun bergelut di depan kamar utama. Pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan melayang secara bergantian.


Hingga akhirnya Raja jatuh tersungkur. Lelaki itu kalah gesit dari Zian. "Berikan kuncinya, Raja" titah Zian.


"Tidak akan!" sahut Raja sambil meringis kesakitan.


"Baiklah kalau begitu maumu!"


Zian meraih tubuh Raja yang kelelahan akibat bergulat dengannya, kemudian menggeledah setiap saku yang terdapat di kemeja serta celana lelaki itu. Usaha Zian tidak sia-sia, ia berhasil menemukan kunci ruangan itu.


"Terima kasih, Raja!" Zian tersenyum seraya menepuk pipi Raja yang memerah dan membiru akibat pukulannya.


"Kurang ajar!" umpat Raja sambil meringis sakit.


Zian segera membuka pintu ruangan itu dan akhirnya ia pun menemukan Farra yang sudah menunggu kedatangannya.


"Kak Zian!" Farra berlari ke arah Zian kemudian memeluknya.

__ADS_1


"Tenanglah, kamu sudah aman sekarang," ucap Zian sembari mengelus puncak kepala Farra.


...***...


__ADS_2