
Beberapa saat sebelum Zian tiba di kediaman Farra dan Aksa.
"Ayo, Kak Farra! Semangat," celoteh Aksa yang mencoba menyemangati Farra yang sedang berjalan mengelilingi halaman rumahnya.
"Ya ampun, Dek. Kakak lelah," ucap Farra dengan napas tersengal-sengal melangkahkan kakinya.
Farra menghentikan langkahnya kemudian duduk di teras rumah sambil mengelus perutnya yang besar dengan lembut. Keringat sudah bercucuran membasahi kedua pelipisnya. Padahal ia baru berjalan dua putaran.
Aksa berlari masuk ke dalam rumah kemudian mengambil sekotak tissue untuk Farra. Ia kembali berlari ke teras dan menyerahkan tissue tersebut kepada Kakak perempuannya itu.
"Kak, ini tissue buat Kakak."
Farra tersenyum seraya meraih tissue tersebut dari tangan Aksa. "Adik Kakak memang sangat pengertian. Kakak makin sayang aja," goda Farra sembari mencubit pelan pipi chubby milik Aksa.
"Aksa juga sayang Kakak."
Bocah kecil itu segera memeluk tubuh Farra. Tidak lupa, ia juga menciumi perut Farra dan mengelusnya dengan lembut.
"Kak Farra akan tetap sayang sama Aksa 'kan, walaupun nanti Dede ini sudah lahir?" tanya Aksa sambil mendongak menatap Farra.
Farra mengelus puncak kepala Aksa dengan lembut sambil tersenyum hangat. "Ya, Aksa. Kak Farra akan tetap menyayangi Aksa walaupun Dede lincah ini sudah lahir. Aksa tahu kenapa?" tanya Farra, masih membelai puncak kepala adik lelakinya itu.
"Apa, Kak?" Aksa tersenyum lebar.
"Karena Aksa adalah adik istimewanya Kakak. Aksa adalah penyemangat hidup Kakak. Dan karena Aksa lah Kakak bisa bertahan hingga saat ini," sahut Farra.
Tanpa Farra dan Aksa sadari, sebuah mobil mewah tiba-tiba saja berhenti di depan pagar rumah mereka. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar keluar dari mobil tersebut.
Perlahan lelaki itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah Farra dan Aksa sambil tersenyum hangat. Akhirnya Farra dan Aksa pun menyadari keberadaan lelaki itu.
"Tuan Raja?" Farra segera bangkit dari posisi duduknya dengan perlahan sambil berpegangan dengan Aksa. Dan kini Farra berdiri di hadapan lelaki yang masih berstatus suaminya itu.
__ADS_1
Aksa yang masih trauma dengan kejadian waktu lalu, di mana Raja membawa paksa Kakak perempuannya itu, bergegas menghampiri Raja kemudian berdiri di tengah-tengah mereka.
"Jangan bawa Kakakku!" teriak Aksa dengan lantang dan dengan wajah marah menatap Raja.
Farra segera memeluk Aksa dan menjauhkannya dari Raja. Ia tahu kalau Raja tidak pernah menyukai Adiknya itu dan ia tidak ingin Raja tiba-tiba menyakiti Adiknya.
Raja berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan bocah itu seraya menatap kedua matanya. Raja tersenyum hangat ketika bertatap mata dengan bocah tampan yang kini berada di dalam pelukan Farra.
"Kamu tenang saja, Aksa. Aku berjanji tidak akan pernah membawa Kakak Farra-mu tanpa seizin darimu." Raja mencoba menyetuh pipi Aksa, tetapi di tepis oleh bocah itu dengan kasar.
"Sebaiknya Aksa masuk, ya. Aksa tenang saja, Tuan Raja sudah berubah, kok. Tuan Raja tidak akan membawa Kakak lagi sama seperti yang diucapkannya," ucap Farra sembari menenangkan Adiknya itu.
Farra memanggil Bi Inem dan meminta wanita paruh baya itu untuk mengajak Aksa masuk ke dalam rumah mereka. Pada awalnya Aksa menolak dengan keras karena ia masih tidak percaya dengan ucapan lelaki itu. Namun, setelah Farra dan Bi Inem membujuknya, akhirnya bocah itupun setuju dan mengikuti Bi Inem.
"Sekarang Anda mau apa lagi, Tuan Raja? Bukankah Anda sudah tidak ingin melihat wajah saya lagi?" tanya Farra, setelah Aksa masuk ke dalam rumah mereka.
Raja tersenyum hangat kemudian menghampiri Farra. "Bisakah kita duduk sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu, Farra. Dan ini sangatlah penting."
"Baiklah." Farra kembali duduk di posisinya semula, tepat di samping Raja.
Raja menghembuskan napas panjang sebelum dia memulai pembicaraannya bersama Farra. Sedangkan Farra mulai memasang telinganya dengan baik.
"Beberapa bulan terakhir, aku terus dihantui oleh rasa bersalahku, Farra. Khususnya kesalahan yang sudah aku lakukan padamu. Aku benar-benar menyesal dan aku ingin minta maaf padamu. Kuharap kamu bersedia memaafkan aku," lirih Raja dengan wajah sendu menatap Farra.
Farra terdiam sejenak sambil terus memperhatikan raut wajah Raja saat itu. Dari mata lelaki itu, Farra tahu bahwa Raja berkata dengan jujur dan ia tulus mengucapkan permintaan maafnya.
Farra pun akhirnya mengangguk dan ia bersedia memaafkan semua kesalahan lelaki itu. "Semua manusia tidak luput dari yang namanya kesalahan, Tuan Raja. Jika Tuhan saja masih bisa mengampuni semua kesalahan umatnya, kenapa aku yang hanya manusia biasa tidak bisa menerima permintaan maafmu," sahut Farra sambil tersenyum hangat.
Raja membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tersenyum lebar menatap Farra karena saking bahagianya. "Serius, kamu bersedia memaafkan semua kesalahanku?"
"Ya, Tuan Raja. Tapi ...." Farra terdiam kemudian menghembuskan napas berat.
__ADS_1
"Tapi apa, Farra?" Raja kembali cemas.
" Maafkan aku, tapi aku tidak bisa kembali padamu, Tuan Raja. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu." Farra menundukkan kepalanya.
Raja tersenyum kecut. "Apa kamu mencintai Zian?"
Farra mengangkat kepalanya kemudian menatap lelaki itu. "Entahlah, tapi yang pasti aku sangat menyayangi Kak Zian dan aku takut kehilangan dirinya."
Raja terkekeh pelan kemudian menepuk pundak Farra dengan lembut. "Itu artinya kamu mencintainya, Farra."
Farra tersipu malu dan wajahnya pun terlihat merah merona.
"Aku rasa Zian juga mencintaimu, Farra." Raja melirik Farra sembari tersenyum hangat.
"Benarkah?"
"Ya! Dan aku merestui hubungan kalian. Kejarlah cintamu, Farra. Kamu pantas mendapatkannya karena aku yakin Zian adalah lelaki yang tepat untukmu. Tapi ... bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
"Apa itu, Tuan?"
"Izinkan aku menemanimu saat melahirkan dan izinkan aku mengunjungi anakku," lirih Raja.
"Ya, Tuan! Tentu saja, aku bahkan sangat senang jika kamu peduli padanya." Farra dengan mata berkaca-kaca menatap Raja.
"Terima kasih, Farra! Terima kasih."
Tanpa sadar, Raja memeluk tubuh Farra. Ia begitu bahagia mendengar jawaban dari wanita itu. Farra pun senang, ia membalas pelukan Zian sambil tersenyum hangat.
Dan tanpa sepengetahuan mereka, Zian menyaksikan itu semua. Harapan lelaki itu pupus akibat kesalahan pahaman yang terjadi padanya.
...***...
__ADS_1
Yang dukung Farra sama Raja 🙏🙏🙏 Maafkan Author ya ... Sesuai judul, Farra hanya selir untuk Raja tetapi bukan sebagai istri dan pasangan hidup untuknya. Tapi ... sedikit bocoran, mereka semua happy ending pokoknya. Baik itu Raja, Zian dan Farra.