
Setibanya di Rumah Sakit, Dokter segera memeriksa kesehatan Raja. Lelaki itu menjalani berbagai macam tes kesehatan untuk mengetahui penyebab sakit kepala yang ia rasakan beberapa hari ini.
Setelah melakukan serangkaian tes tersebut, Dokter meminta mereka untuk menunggu hasil pemeriksaannya. Dengan sabar, mereka menunggu disalah satu ruangan yang disediakan khusus untuk Tuan Raja.
Raja masih merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata. Ivan tidak bisa melakukan apa-apa, begitupula Vania.
Ia ingin sekali mencoba meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh Raja dengan cara memijitnya. Namun, bukannya semakin berkurang malah sebaliknya. Raja semakin merasa kesakitan.
Setelah beberapa saat, Dokter masuk ke ruangan itu dengan membawa berkas hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tuan Raja. Dokter itu menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada yang salah pada kesehatan lelaki itu. Bahkan semuanya normal.
Raja sedikit kesal mendengar penuturan dari Dokter. Ia tidak percaya bahwa dirinya baik-baik saja, padahal Raja merasakan bahwa dirinya tidak sedang baik-baik saja.
"Lalu bagaimana cara Anda menjelaskan rasa sakit yang amat sangat di kepalaku ini, Dok? Apakah mungkin rasa sakit ini hanya hanyalanku saja?" ucapnya sambil mendengus kesal.
"Sudahlah, Raja." Vania memeluk lengan kekar Raja sambil mencoba menenangkan lelaki itu.
"Mungkin anda sedang kelelahan, Tuan. Sebaiknya Anda beristirahat untuk beberapa hari ke depan."
Raja menghembuskan napas kasar. "Sudah tiga hari aku beristirahat dan meminum berbagai macam obat. Dari yang biasa sampai yang mahal, tetapi tak satupun bisa meredakan rasa sakit di kepalaku. Jangankan reda, berkurang pun tidak," gerutunya.
Karena merasa tidak enak, Vania bergegas mengajak Raja pulang. Sementara Ivan membayar semua tagihannya, Raja dan Vania memilih menunggu di dalam mobil.
"Dokter itu mengesalkan! Mana mungkin aku baik-baik saja sedangkan kepalaku memang sedang bermasalah. Apa Dokter itu menganggap aku hanya bercanda soal sakit yang aku rasakan ini?!" gerutu Raja.
"Sudahlah, Sayang. Aku yakin Dokter itu benar. Mungkin saja kamu memang sedang kelelahan karena selama ini kamu terus bekerja tanpa memikirkan kesehatanmu. Sebaiknya kamu turuti saja perintah dari Dokter itu," sahut Vania.
Raja melirik Vania sambil tersenyum tipis. "Bukan hanya aku yang bekerja tanpa mempedulikan kesehatan, Vania. Tetapi kamu sama," sahut Raja.
Vania terkekeh pelan seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Raja. "Iya, maafkan aku. Tapi, sekarang aku sudah berubah. Aku lebih mencintai kesehatanku dari pada karirku."
"Benarkah?!" Raja mencebikkan bibirnya tidak percaya.
"Ya, aku serius!" sahut Vania.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Ivan pun datang menghampiri mereka dan segera melajukan mobil tersebut kembali ke kediaman Tuan Raja.
Ketika di perjalanan, Raja terus memperhatikan pinggir jalan yang ia lewati sambil memijit kepalanya yang sakit. Sementara Vania masih menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu.
Di saat Ivan masih fokus pada kemudinya, tiba-tiba saja Raja berteriak kepada Ivan untuk menghentikan mobilnya.
"Berhenti, Ivan! Berhenti!" titahnya.
Ivan pun segera mengurangi kecepatan mobil tersebut dan menepikannya ke pinggir jalan yang aman dari pengendara lainnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Ivan heran.
"Aku melihat para penjual buah di pinggir jalan memamerkan buah kecil berwarna orange dan hijau itu. Aku begitu penasaran, sebenarnya buah apa itu dan bagaimana rasanya," gumam Raja seraya membuka pintu mobilnya.
Vania membulatkan matanya sambil bertatap mata dengan Ivan. Bahkan reaksi Ivan pun hampir sama seperti Vania.
"Raja kenapa?" tanya Vania kepada Ivan.
Ivan menaikkan kedua bahunya, ia sendiri tidak tahu setan apa yang sedang merasuki lelaki itu. Vania bergegas menyusul Raja yang kini berjalan menghampiri lapak pedagang buah di pinggir jalan tersebut.
"Buah ini." Raja meraih buah itu kemudian memperlihatkannya kepada Vania sambil tersenyum hangat.
"Buah apa ini?" tanya Vania seraya meraih buah kecil berwarna orange yang sedang dipegang oleh Raja.
Raja mengambil lagi satu biji kemudian memainkannya. Saking pemasarannya, buah itu di pencet-pencet dan di cium-cium oleh Raja.
Vania semakin bingung melihat prilaku aneh suaminya itu. Bahkan ini pertama kalinya bagi Raja menjejakkan kaki di lapak pedagang, di pinggir jalan.
"Buah apa ini, Pak? Dan bagaimana rasanya?" tanya Raja.
"Itu namanya buah Gandaria, Tuan. Rasanya ya begitu, asam-asam manis," sahut Pedagang tersebut.
"Kalau yang ini?" Raja meraih buah yang sama tetapi warnanya hijau dan buahnya masih keras.
__ADS_1
"Yang itu sama, Tuan. Tapi, bedanya yang ini masih muda. Dan rasanya, hmmm ...." Pedagang itu menggelengkan kepalanya, membayangkan bagaimana rasa buah itu.
"Boleh aku mencobanya?" tanya Raja lagi.
"Tentu saja, Tuan."
Pedagang itu memberikan air kepada Raja untuk mencuci buah tersebut sebelum mencobanya. Setelah merasa cukup bersih, Raja pun mulai mengigitnya.
Kreeeshhh!
Gigitan pertama Raja membuat Vania dan Ivan yang juga berada di samping lelaki itu bergidik ngeri. Terlebih Ivan yang sudah tahu bagaimana rasa buah tersebut.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Vania penasaran karena ia pun tidak pernah mencoba buah itu sebelumnya.
"Ehm, lumayan," sahut Raja sambil merasakan sensasi rasa asem dari buah tersebut.
"Mana sini coba!"
Raja mengulurkan tangannya ke arah Vania dan wanita itupun mencoba menggigitnya sedikit. Baru saja bibir Vania menyentuh buah itu, tubuhnya sudah bergetar hebat dan ekspresi wajahnya hancur tiada rupa.
Ivan terkekeh ketika melihat ekspresi Vania. Wanita cantik itu terlihat sangat jelek ketika buah itu menyentuh lidahnya.
"Ya, Tuhan! Buah apa ini!" pekik Vania seraya memuntahkan buah itu dari mulutnya.
"Kamu mau, Ivan?" tanya Raja.
"Ah, tidak-tidak. Terima kasih banyak, Tuan," tolak Ivan.
"Raja sayang, apa kamu baik-baik saja? Buah itu asemnya ... ya, Tuhan! Berhentilah memakannya, nanti kamu sakit perut," pekik Vania seraya mencoba menghentikan Raja yang terus menggigit buah itu tanpa henti.
"Aku ingin membeli semuanya, Pak. Tolong bungkus," ucap Raja tanpa mempedulikan ucapan Vania. Ia melenggang pergi sambil menikmati buah itu dan kembali ke mobilnya kemudian di susul oleh Vania.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Raja, sih? Apa dia sudah gila?" gumam Vania seraya menyusul masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
...***...