
"Aku hamil, Tuan. Dan orang pertama yang menyadari kehamilanku adalah Nona Vania. Dia yang mengajakku ke tempat Dokter Kandungan untuk memastikan kehamilanku dan ternyata firasatnya benar, aku sedang hamil," tutur Farra.
"Apa, kamu hamil?!" pekik Raja dengan mata membulat menatap Farra seolah-olah tidak percaya.
"Ya, Tuan. Aku pun baru tahu sekarang," sahut Farra.
Raja mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak menyangka bahwa Farra akan mengandung benih hasil perbuatannya.
"Aku memang bodoh, selama ini aku tidak berpikir untuk menggunakan pengaman ketika melakukannya bersama gadis ini. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur terjadi," gumam Raja.
Farra mundur beberapa langkah ke belakang. Sebelum Raja menyadarinya, Farra sudah keluar dari kamar utama. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya yang sempit dan pengap itu.
Farra menutup pintu kamarnya dan bersandar di daun pintu sambil terisak. Ia mendengar dengan jelas ucapan Raja dan apa yang ia khawatirkan ternyata benar. Lelaki itu sama sekali tidak menginginkan bayi yang ada di kandungannya.
"Benar 'kan kataku, Tuan Raja sama sekali tidak menginginkan bayi ini. Jangankan bayi ini, keberadaanku saja tidak pernah dianggap olehnya," gumam Farra di sela isak tangisnya.
Farra duduk di lantai sambil bersandar di daun pintu. Ia menekuk kedua lututnya kemudian memeluknya dengan erat.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Sementara itu di kamar Vania.
Vania meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas kemudian mencoba menghubungi sahabatnya, Tania. Ia butuh teman curhat untuk membagi kesedihannya.
"Ya, Van."
__ADS_1
"Ternyata firasatmu benar, Tan. Raja mengalami kehamilan simpatik dari istri mudanya. Farra, gadis kampung itu ternyata sedang hamil dan bodohnya aku baru menyadarinya sekarang," kesal Vania di sela isak tangisnya.
Tania membulatkan matanya setelah mendengar penuturan Vania saat itu. Sebagai seorang sahabat, ia turut sedih mendengar berita buruk itu. Namun, ia juga ingin tertawa karena firasatnya tentang Raja itu benar.
"Benar 'kan, Vania. Ucapan laki-laki itu jangan dipercaya seratus persen. Kemarin saja kamu marah-marah setelah aku beritahu, sekarang kamu sadar 'kan bahwa apa yang aku katakan itu benar," sahut Tania.
"Kamu ini benar-benar menyebalkan, Tania! Iya, iya, kamu benar dan aku salah, puas?! Sekarang aku tidak butuh ceramah darimu. Yang aku butuhkan saat ini adalah sebuah rencana agar aku tidak tersingkir dari tempat ini dan yang pastinya tidak tersingkir dari samping Raja!" kesalnya.
"Mudah saja, tinggal suruh suamimu ceraikan gadis itu. Mudah 'kan?" jawab Tania.
Vania terdiam dan nampak memikirkan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Menceraikan gadis itu? Apa kamu yakin Raja bersedia menceraikannya?"
"Ya Tuhan, Vania! Tinggal dikasih drama sedikit. Ancam Raja dan suruh dia memilih dirimu atau gadis itu. Kalau dia memang mencintaimu, dia pasti akan memilihmu," sahutnya.
"Itu artinya kamu END, udah gitu aja kok susah. Lagipula kamu itu masih cantik, Vania. Kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari seorang Raja."
"Jangan lupakan bahwa saat ini aku sudah tidak memiliki rahim, Tania! Memangnya ada laki-laki bodoh yang sudi menerima diriku dengan semua kekuranganku itu?" kesal Vania.
"Ya, sudah. Semuanya terserah kamu lah. Aku sudah tidak ingin ikut campur. Takutnya aku salah kasih saran lagi," sambung Tania.
Vania menghela napas berat kemudian mengakhiri panggilannya bersama Tania.
"Apa aku coba saran Tania saja, ya? Tapi ... bagaimana jika Raja benar-benar memilih mempertahankan gadis itu. Oh Tuhan, aku pusing."
__ADS_1
Setelah memikirkannya secara matang, akhirnya Vania memutuskan untuk menemui Raja dan membicarakan masalah itu. Vania bergegas keluar dari kamarnya kemudian menuju kamar utama yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.
Ketika Vania membuka pintu kamar utama, nampak Raja sedang duduk di lantai kamar sambil bersandar di tepian tempat tidur.
Saat itu Raja sedang memijit kepalanya yang sakit. Bukan hanya sakit karena kehamilan simpatik yang ia rasakan, tetapi juga sakit karena permasalahan rumah tangganya yang semakin rumit.
"Raja, aku ingin bicara," ucap Vania seraya menutup pintu kamar.
Raja berhenti memijit kepalanya dan sekarang tatapan lelaki itu fokus pada Vania yang sedang berjalan menghampirinya.
Kepala Raja semakin pusing setelah Vania menghampirinya. Namun, ia tidak bicara sepatah katapun dan hanya bisa menahan rasa sakitnya.
"Raja ... sebenarnya aku sudah lelah dan aku juga butuh kepastian. Sekarang begini saja, sebaiknya kamu tentukan pilihanmu. Kamu pilih aku atau Farra?"
"A-apa maksudmu, Vania?" tanya Raja terbata-bata.
"Tidak perlu aku jelaskan pun, aku yakin kamu sudah tahu apa maksudku, Raja. Saat ini aku butuh kepastian, kamu pilih mempertahankan pernikahan kita atau kamu memang lebih memilih mempertahankan gadis itu. Jika kamu memilih gadis itu, maka hari ini juga aku akan mengemasi barang-barangku dan pergi dari rumah ini. Biar Ivan yang mengurus surat-surat perceraian kita. Namun, jika kamu memang memilih mempertahankan pernikahan kita, maka hari ini juga ceraikan gadis itu dan kembalikan dia ke tempat asalnya!" sambung Vania.
Raja terdiam sejenak sambil memegang kepalanya yang sakit.
"Kenapa, Raja? Apa pilihan ini begitu sulit untukmu? Kalau begitu lebih baik aku saja yang mengalah. Kamu tetaplah bersama Farra dan semoga kalian selalu bahagia," ucap Vania seraya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
🙏🙏🙏 Ceritanya menyebalkan 'kan teman-taman? Author tau, kok 😆😆😆 memang alurnya seperti itu dan yang pastinya ini adalah ******* dari permasalahan mereka. Dimana Raja akan menyesal, sangat-sangat menyesal karena sudah berbuat jahat terhadap Farra.
Lelaki sejenis Raja harus di kasih pelajaran dulu. Tidak sepadan jika ia langsung di bikin bucin kemudian dimaafkan begitu saja. Dia harus berjuang, benar-benar berjuang untuk meluluhkan kembali hati Farra yang sudah terlanjur kecewa. 🙏🙏🙏
__ADS_1
...***...