Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Farra Sadar


__ADS_3

"Bagaimana kondisi Farra saat ini, Tuan?" tanya Ivan yang baru saja tiba di Rumah Sakit tersebut dengan wajah cemas.


"Kondisinya masih sangat lemah, Van. Dan aku tidak menyangka bahwa ternyata saat ini Farra sedang mengandung. Apa kamu sudah tahu tentang itu?" Zian menatap lekat Ivan yang kini duduk di sampingnya.


Sama seperti Zian, Ivan pun begitu terkejut saat setelah tahu bahwa saat itu Farra tengah mengandung. "Astaga, demi Tuhan saya benar-benar tidak tahu, Tuan Zian. Apakah Tuan Raja juga tidak tahu tentang ini?"


Pertanyaan yang sama seperti yang ada di kepala Zian saat ini.


"Jika Raja sudah tahu bagaimana keadaan istrinya tetapi ia tetap tega mengusir Farra dengan kondisinya seperti itu, itu artinya Raja benar-benar sudah keterlaluan dan perbuatannya itu sudah tidak bisa dimaafkan," gerutu Zian dengan wajah kesal.


"Ya, Anda benar, Tuan."


"Oh ya, Ivan. Ingat ... jangan pernah memanggilku Tuan saat Farra berada di dekatku."


Ivan tersenyum kecut. Lagi-lagi ia lupa akan hal itu. "Baik, Tuan. Maafkan saya,"


Sementara itu di kediaman Raja.


"Oh, Tuhan! Perutku sakit sekali," pekik Raja dengan tubuh meringkuk sambil memeluk perutnya yang terasa sakit di dalam kamar sempit Farra.


"Tuan, Anda kenapa?"


Pelayan yang berjaga di depan kamar, segera menghampiri Tuan Raja. Ia terlihat panik dan mencoba membantu lelaki itu. Namun, Raja menolaknya dan memerintahkan pelayan itu untuk segera memanggil Dokter.


"Jangan sentuh aku! Sebaiknya kamu panggil Dokter untuk memeriksa keadaanku sekarang!" titahnya sambil menahan sakit.


"Ehm, baik, Tuan!"


Pelayan itupun bergegas menghubungi Dokter dan memintanya untuk segera datang ke kediaman Tuan Raja. Vania yang sedang duduk bersantai di ruang utama, memperhatikan pelayan itu dengan seksama.

__ADS_1


"Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?Memangnya ada apa," tanya Vania heran.


"Tuan Raja tiba-tiba kesakitan, Nona Vania."


"Sakit? Sakit apa lagi dia?!" ketus Vania.


"Sepertinya Tuan Raja sakit perut tapi bukan sakit perut biasa, Nona Vania. Wajah Tuan Raja bahkan sampai pucat pasi karena menahan rasa sakitnya itu," tutur Pelayan.


"Heh! Mulai lagi dramanya!" gerutu Vania seraya bangkit dari posisinya.


Vania melangkahkan kakinya bersama pelayan itu menuju kamar bekas Farra yang kini di tempati oleh suaminya. Setibanya di sana, Vania pun akhirnya percaya karena apa yang di katakan oleh pelayannya itu adalah benar.


Raja benar-benar kesakitan bahkan tubuh lelaki itu sampai bergetar saat menahan rasa sakitnya. Walaupun Vania masih sangat kesal kepada Raja, tetapi ia tetap tidak tega saat melihatnya kesakitan seperti itu.


Vania mencoba menghampiri Raja. Namun, tiba-tiba ia teringat bahwa lelaki itu masih begitu sensitif dengan kehadirannya. Vania pun mengurungkan niatnya dan memilih berdiri di jarak yang aman.


"Kamu kenapa lagi, Raja? Apa ini salah satu drama kehamilan simpatik itu lagi?!" tanya Vania sambil memutarkan bola matanya.


Vania tahu bahwa saat itu Raja tidak sedang berpura-pura karena dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa lelaki itu benar-benar kesakitan.


Tidak berselang lama, Dokter yang dipanggil oleh pelayan itupun tiba di kediaman Tuan Raja. Pelayan yang menyambut kedatangan Dokter tersebut segera menuntunnya ke kamar sempit dan pengap itu.


"Loh? Sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Dokter kebingungan karena bukannya menuju kamar utama, pelayan itu malah menuntunnya menuju kamar para pelayan.


"Tuan Raja, Dok. Tapi ... sebaiknya Dokter lihat sendiri saja. Soalnya saya tidak berani menjelaskannya, takut salah," jawab pelayan itu.


Setibanya di kamar tersebut, Dokter pun mengerutkan kedua alisnya. Ia tidak habis pikir kenapa Tuan Raja mau-maunya menghabiskan waktu di dalam kamar sempit dan pengap itu.


"Dok, tolong aku! Sakit ini benar-benar menyiksaku!" lirih Raja yang masih dalam posisi meringkuk memeluk perutnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita periksa dulu ya, Tuan."


Dokter pun mulai memeriksa kondisi Tuan Raja saat itu dan masih seperti sebelumnya. Dokter itu tidak menemukan masalah kesehatan yang begitu serius pada tubuh Tuan Raja.


Setelah diberikan obat dan juga penanganan yang tepat, perlahan sakit di perut Raja pun mulai berkurang. Namun, bukan menghilang, hanya berkurang dan rasa sakit itu bisa saja muncul kembali.


. . .


Dua hari kemudian. Di Rumah Sakit, di mana Farra dirawat.


Kondisi Farra berangsur membaik dan ia pun sudah bisa diajak bicara. Zian yang masih setia menemani gadis itu, tersenyum seraya duduk di samping tempat tidur Farra.


"Di mana Aksa? Apa dia baik-baik saja?" Kata-kata pertama yang keluar dari bibir Farra setelah beberapa hari bibirnya hanya diam dan tertutup dengan sempurna.


"Dia sedang duduk di luar bersama Ivan dan dia baik-baik saja, Farra."


Farra menyunggingkan sebuah senyuman tipis sambil membalas tatapan Zian. "Syukurlah," ucapnya.


Tiba-tiba Farra teringat akan kondisi janinnya. Perlahan ia mengelus perutnya dengan lembut dan mata gadis itu terlihat berkaca-kaca serta bibirnya pun ikut bergetar.


"Apa aku kehilangan bayiku, Kak?" tanya Farra.


Zian kembali tersenyum sambil meraih tangan Farra kemudian menggenggamnya dengan erat.


"Bayimu selamat, tapi ... kondisinya sangat lemah, Farra. Dokter menyarankan agar kamu beristirahat total setelah ini," sahut Zian.


"Benarkah?!" Farra


"Ya, Farra."

__ADS_1


...***...


__ADS_2