
Pelayan yang diperintahkan oleh Tuan Raja untuk mengambil kue buatan Farra akhirnya tiba dan menyerahkannya kepada Farra yang masih duduk di samping tubuh Tuan Raja.
"Ini kuenya, Farra."
"Terima kasih," sahut Farra seraya menyambut nampan berisi kue-kue miliknya dan secangkir teh hangat untuk Tuan Raja.
Raja tersenyum puas kemudian mencoba bangkit dari posisinya. Namun, karena kepalanya masih berat, Raja kesusahan membangunkan tubuhnya. Farra yang tidak tega melihatnya, segera membantu lelaki itu setelah ia meletakkan nampan tersebut ke atas nakas.
"Terima kasih," ucap Raja setelah ia berhasil duduk dengan bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Ini kuenya, Tuan."
Farra menyerahkan kue tersebut kepada Raja dan Raja pun segera menikmatinya dengan lahap. Farra memperhatikan lelaki itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia mempersiapkan hati serta telinganya jika setelah ini Raja mengeluarkan kata-kata super pedas dan menyakitkan, sama seperti biasanya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak pernah melihat orang tampan sedang makan kue?!" ucap Raja.
Farra menggelengkan kepala dengan cepat dan segera menundukkan pandangannya. Sebenarnya ia merasa sangat risih saat berada di samping Raja. Bagaimana tidak, lelaki itu tetap asing baginya.
Raja memperhatikan Farra yang sedang duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk. Gadis itu terlihat asik memilin-milin ujung pakaiannya. Dan tatapan Raja kini berfokus pada cincin kawin yang melekat erat di jari manis Farra.
Raja tersenyum simpul ketika melihat cincin itu. Ia teringat akan alasannya menikahi Farra. Bahkan hingga sekarang pun jika ia teringat akan kematian kedua orang tuanya, rasa benci itu kembali bergejolak di hatinya.
__ADS_1
Setelah dua biji kue buatan Farra masuk ke dalam perutnya, Raja mengakhiri makan kuenya dengan menyeruput teh hangat yang sudah tersedia di atas nampan.
"Farra," ucap Raja seraya meletakkan kembali cangkir teh tersebut.
Farra mengangkat kepala kemudian menatap lelaki itu. Raja kembali tersenyum tipis ketika Farra membalas tatapannya. Raja meraih tangan gadis itu kemudian memperhatikan jari manisnya.
"Kamu lihat cincin ini? Kenapa warna cincin ini semakin hari semakin memudar?" Raja menatap Farra dengan mengangkat sebelah alisnya.
Farra menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak tahu soal perhiasan. Walaupun ia sadar bahwa cincin pernikahannya bersama lelaki itu warnanya memang semakin memudar.
"Karena cincin ini palsu, Farra. Cincin ini melambangkan rasa cintaku padamu. Sama seperti cincin ini, cintaku padamu pun palsu," ucapnya sambil tersenyum sinis.
Seketika ekspresi wajah Farra berubah. Ia menatap sedih pada cincin yang melekat di jari manisnya. Warnanya memang semakin memudar, tetapi ia tidak pernah tahu bahwa cincin itu adalah cincin imitasi atau palsu.
Kini kepala Farra kembali tertunduk. Dadanya terasa sesak setelah mendengar pengakuan lelaki itu. Saking jahatnya, lelaki itu bahkan sudah menipunya. Perlahan air mata Farra jatuh tetapi dengan cepat ia seka.
"Karena aku membencimu, Farra. Karena dirimu, aku harus kehilangan kedua orang tuaku dalam waktu yang bersamaan," ucap Raja dengan wajah kesal.
"Aku tidak mengerti mengapa Tuan menyalahkan aku atas kematian kedua orang tua Anda," sahut Farra.
"Karena memang kamu yang menjadi penyebabnya, Farra. Kamu hadir di tengah-tengah kehidupan mereka dan menjadi orang ketiga. Kabar pernikahanmu dengan Ayahku menjadi penyebab kematian Ibuku. Dan karena kamu pulalah Ayahku akhirnya meregang nyawa ketika di perjalanan menuju Rumah Sakit. Naas, bukan?"
__ADS_1
Farra menggelengkan kepalanya. "Anda salah, Tuan Raja. Aku bahkan menolak keras pernikahan itu. Saat Tuan Hendrik datang melamarku, aku sudah menolaknya tetapi Tante Nurmala lah yang bersikeras menikahkan aku dengan Ayah Anda," tutur Farra.
Raja kembali menyunggingkan sebuah senyuman sinisnya. "Alasan yang tidak masuk akal," sahut Raja.
"Hatimu sudah dikuasai oleh kebencian, Tuan Raja. Aku rasa percuma menjelaskannya padamu. Karena apapun yang aku katakan, aku yakin kamu tidak akan pernah mempercayainya meskipun itu benar."
Farra yang kesal, segera bangkit dari tempat tidur lelaki itu. Ia berdiri tepat di hadapan Raja seraya melepaskan cincin imitasi yang melekat erat di jari manisnya. Setelah cincin itu lepas, perlahan Farra meletakkannya di atas nakas.
"Terima kasih atas cincin dan cinta imitasinya, Tuan Raja. Aku benar-benar merasa tersanjung karena Anda sudah memberikannya kepadaku," ucap Farra sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Raja terpaku. Bibirnya bahkan tidak dapat digerakkan lagi setelah mendengar jawaban dari gadis itu. Setelah Farra menghilang dari pandangannya, kini tatapan Raja beralih pada cincin imitasi yang sudah memutih itu. Cincin yang di letakkan Farra di atas nakas.
Perlahan Raja meraih cincin tersebut. Ia memperhatikan cincin imitasi yang kini berada di telapak tangannya dengan seksama.
"Bagaimana jika yang dikatakan oleh Farra itu benar? Itu artinya aku--" Raja menarik napas panjang kemudian menghembuskannya.
Sementara itu.
Farra berjalan dengan cepat menuju kamar. Setibanya disana, ia segera menutup pintu dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil terisak.
"Kenapa Tuan Raja begitu tega menipuku. Mentang-mentang aku gadis kampung dan tidak mengerti soal perhiasana, dia bahkan tega memberikan aku cincin pernikahan imitasi," lirih Farra di sela isak tangisnya.
__ADS_1
...***...