Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Raja Mabuk


__ADS_3

"Maafkan aku."


Hanya itu yang mampu Vania katakan. Ia bahkan tidak sanggup untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Raja.


"Tapi kenapa, Vania? Apa kamu sudah bosan padaku? Atau jangan-jangan kamu punya laki-laki lain di belakangku, iya?!" kesal Raja.


Vania menggelengkan kepala pelan, tetapi bibirnya tetap terkunci rapat. Raja yang kesal, marah dan kecewa kepada wanita itu, segera pergi setelah meraih kimono tidurnya.


Raja berjalan cepat menuju ruang kerjanya sambil mengerutu dalam hatinya. Seribu pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul di kepalanya. Sepeninggal Raja, Vania hanya bisa terisak di atas tempat tidurnya sambil memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


Setibanya di ruang kerjanya, Raja segera menjatuhkan dirinya di atas sofa sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Bagaimana tidak, di saat ia hampir saja mencapai puncak kenikmatan, tiba-tiba saja Vania menghentikan aksinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa setiap kali aku mengajaknya bercinta, ia selalu menolakku dengan berbagai macam alasan. Padahal sebelumnya Vania tidak pernah seperti itu. Bahkan dia selalu memintaku untuk melakukannya terlebih dulu," gumam Raja.


Kini tatapan Raja tertuju pada sebuah lemari kecil, tempat ia menyimpan minuman-minuman beralkohol yang sebenarnya hanya untuk bahan koleksinya saja. Biasanya Raja akan mengeluarkan minuman itu hanya untuk menyambut teman bisnis ataupun sahabat-sahabatnya.


Perlahan Raja bangkit kemudian meraih minuman itu hingga beberapa botol. Ia berharap dengan meminum minuman itu rasa sakit di kepalanya bisa sedikit berkurang dan ia bisa melupakan kekecewaannya malam ini terhadap Vania, istri tercintanya.


Raja membawa beberapa botol minuman tersebut ke tempat duduknya kemudian meletakkannya ke atas meja. Ia memilih salah satu botol minumannya dan menenggak minuman tersebut hingga habis satu botol penuh.

__ADS_1


Tidak cukup sampai disitu, Raja bahkan terus meminum minuman itu hingga akhirnya ia mulai meracau dan pikirannya semakin bertambah kacau daripada sebelumnya.


"Lihatlah aku! Apakah aku harus kembali ke kamar mandi malam ini, sama seperti malam kemarin, ha?! Lalu apa gunanya aku punya dua istri tetapi keduanya tidak bisa menuntaskan hasratku?" Raja mulai meracau dan terus menenggak minuman beralkohol tersebut.


"Dua istri?! Sebentar, sebentar! Kenapa tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku sekarang punya dua istri. Dan salah satunya sama sekali tidak pernah aku sentuh. Kenapa aku bodoh sekali! Aku tidak perlu ke kamar mandi lagi, aku punya gadis itu dan aku bisa menuntaskan hasratku bersamanya," racau Raja.


Raja bangkit dari tempat duduk, masih dengan minuman itu di tangannya. Ia melangkahkan kakinya dengan tergopoh-gopoh menuju kamar Farra. Akhirnya, dengan penuh perjuangan, Raja pun tiba di depan pintu kamar gadis itu.


Ia tahu bahwa kunci pintu kamar Farra memang sudah tidak berfungsi lagi karena kamar itu sudah lama tidak digunakan. Sebab itulah dengan mudahnya Raja bisa keluar masuk ke kamar tersebut.


Saat itu Farra baru saja terlelap dari tidurnya, ia bahkan tidak pernah menduga bahwa malam ini akan menjadi malam terburuknya. Lagi-lagi Raja mendobrak pintu kamar itu dengan keras dan membuat Farra tersentak kaget dan terbangun dari tidurnya.


"Hai, Farra!" Raja menyeringai dan kembali menenggak minuman itu masuk kerongkongannya.


"Ma-mau apa lagi Anda kesini?" tanya Farra dengan bibir bergetar.


"Mau apa?"


Raja melangkah masuk ke dalam kamar tersebut kemudian menutup pintunya. Melihat gelagat aneh dari lelaki itu, Farra semakin menjaga jarak. Namun, ruangan itu terlalu kecil dan sempit hingga dengan begitu mudah, Raja menghampirinya.

__ADS_1


Raja berdiri tepat di hadapan Farra yang kini tersandar di dinding kamarnya yang sempit itu. Ia mengungkung tubuh Farra hingga gadis itu tidak bisa bergerak kemana-mana.


"Puaskan aku malam ini dan aku berjanji tidak akan menyakitimu," ucap Raja sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Farra.


Farra menahan napasnya karena saat itu aroma mulut Tuan Raja sangat bau, bau minum-minuman memabukkan itu.


"Tuan, kumohon lepaskan aku," lirih Farra sambil memalingkan wajahnya karena Raja mulai mengincar bibir gadis itu.


"Kenapa aku harus melepaskanmu, Farra? Bukankah sekarang aku adalah suamimu dan aku berhak atas dirimu."


Raja meraih wajah Farra kemudian melumatt bibir gadis itu dengan beringas. Ini adalah ciuman pertama untuk Farra dan sebagai seorang gadis, ia pernah bermimpi bahwa ia akan mendapatkan ciuman terindah dari seseorang yang ia cintai.


Namun, sepertinya harapan tidak seindah kenyataan. Pada kenyataannya, Farra mendapatkan ciuman pertama dari lelaki yang menikahinya hanya semata karena dendam.Ciuman kasar dan beringas, itulah yang dirasakan oleh Farra.


"Hentikan, Tuan! Kumohon," ucap Farra sembari mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaganya.


Usaha Farra sia-sia saja, kekuatan gadis itu tidak ada apa-apanya dibanding lelaki yang kini mengukung tubuhnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2