
Sementara Vania marah-marah tidak jelas di kamar barunya, Raja yang masih lemah tak berdaya tiba-tiba teringat akan Farra.
"Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengannya. Apa yang sedang dia lakukan, ya?" ucap Raja dalam hati dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Pelayan!" panggil Raja kepada pelayan yang berjaga di luar kamarnya.
Mendengar teriakan sang majikan, pelayan itupun segera masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat.
"Ya, Tuan." Pelayan itu berdiri tepat di samping tempat tidur Raja.
"Panggil Farra ke sini," titah Raja, masih dengan mata tertutup.
"Baik, Tuan."
Pelayan itu sempat terdiam sejenak karena terkejut mendengar permintaan aneh Tuan Raja. Dengan langkah cepat, pelayan itu segera melangkah menuju kamar Farra.
Kebetulan saat itu Farra baru saja selesai mandi dan berpakaian. Rambutnya yang terurai panjang itu masih terlihat basah. Gadis itu duduk bersandar di dinding kamarnya sambil menikmati kue bikinannya sendiri.
Sejak beberapa hari yang lalu ia ingin sekali menikmati kue bikinannya sendiri. Kue yang sama seperti yang biasa ia jajakan. Namun, baru hari ini ia bisa membuatnya setelah meminta izin kepada Bu Eni.
Ada beberapa biji kue yang ada di atas piringnya. Dan baru satu biji kue yang masuk ke dalam perut gadis itu. Saat ia menikmati kue itu, tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Siapa?"
Farra agak cemas, ia takut yang datang adalah Tuan Raja. Namun, ia juga ragu kalau orang yang sedang mengetuk pintunya adalah Tuan Raja. Karena saat ini lelaki itu masih sakit dan tergolek lemah di dalam kamar mewahnya.
"Farra, Tuan Raja memintamu untuk menemuinya di kamar utama," sahut pelayan yang di perintah oleh Tuan Raja.
Uhuk uhuk uhuk!
Farra tersedak, kue yang baru saja masuk ke mulutnya seperti terhenti di kerongkongan. Ia menepuk-nepuk dadanya berkali-kali hingga ia merasa nyaman.
__ADS_1
"Farra, kamu tidak apa-apa?" tanya pelayan itu.
"Ya, aku baik-baik saja. Nanti aku akan segera ke sana," sahut Farra seraya meraih air minum kemudian meneguknya.
"Jangan lama-lama ya, Farra. Kamu tau sendiri 'kan bagaimana Tuan Raja," lirih pelayan itu. Terdengar jelas dari nada suaranya, pelayan itu sedang cemas.
"Ya, aku berjanji tidak akan lama," sahut Farra lagi.
Pelayan itupun segera kembali menuju kamar utama. Sedangkan Farra bersiap menuju kamar utama walaupun sebenarnya ia masih ragu. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian menyimpan kue-kue tersebut ke tempat yang lebih aman.
"Huft! Apa Tuan Raja meminta aku melayaninya lagi? Di saat keadaannya sakit pun ia masih ingat akan haknya, dasar!" gerutu Farra dengan wajah kesal sambil memilin-milin ujung bajunya.
Ya, entah sudah berapa kali lelaki itu meminta haknya kepada Farra dengan berbagai macam dalih dan Farra pun dilarang untuk menolak permintaan mesumnya.
Dengan langkah gontai Farra menuju kamar utama. Pelayan yang tadi menjemputnya terlihat semringah ketika ia tiba di sana.
"Ah, syukurlah! Cepat masuk, Tuan Raja sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu," ucapnya seraya membukakan pintu kamar utama.
Ini kedua kalinya ia memasuki ruangan megah itu. Dulu Vania yang memanggilnya dan sekarang Tuan Raja.
"Farra?"
Raja membuka matanya dan melirik gadis itu sambil tersenyum tipis. Ia memperhatikan penampilan Farra yang terlihat begitu cantik dengan wajah polos dan rambut panjang yang tergerai indah.
"Kemarilah," titah Raja seraya menepuk tempat kosong di samping tubuhnya.
"Tapi, Tuan--"
"Jangan membatah!" ucapnya sambil memijit kepalanya yang terasa berputar-putar.
Sebenarnya Farra ragu. Ia takut Nona Vania marah jika melihat dirinya duduk di samping Tuan Raja apalagi dengan posisi sedekat itu. Perlahan Farra menaiki tempat tidur Raja dan duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Apa kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Raja yang masih berbaring dengan wajah memucat menatap gadis itu.
"Tuan ingin aku melayani Tuan lagi?" sahut Farra.
Raja terkekeh pelan sambil memegang kepalanya. Saat ia tertawa, rasa sakitnya semakin terasa.
"Memangnya yang ada di pikiranku hanya itu saja?! Jangankan melakukan itu, mengangkat tubuhku saja, aku tidak mampu!" kesal Raja.
Perlahan Farra mengangkat kepalanya dan menatap Raja yang terlihat menyedihkan. Farra ingin tertawa puas melihat lelaki jahat itu tersiksa. Namun, sayangnya ia tidak berani melakukannya. Ia masih ingat akan nasib adiknya yang tergantung pada lelaki itu.
"Kemarilah, dekatkan wajahmu kepadaku!" titah Raja lagi.
Farra sempat ragu tetapi karena wajah Raja yang sudah terlihat tidak bersahabat, ia pun bergegas mengikuti perintahnya.
Perlahan Farra mendekatkan wajahnya kepada Raja, hingga benar-benar dekat. Lelaki itu mencium aroma bibir Farra dan ia ingin sesuatu yang baru saja dimakan oleh gadis itu.
"Apa yang barusan kamu makan?" tanyanya dengan jarak yang sangat dekat.
Farra mengangkat kepalanya dan kembali ke posisi semula. "Ehm ... kue, Tuan."
"Aku juga mau, berikan padaku!" titahnya.
"Tapi ... itu kue buatanku sendiri, Tuan. Dan kuenya ada di kamarku," sahut Farra ragu-ragu.
"Panggil pelayan dan perintahkan untuk mengambil kue itu karena aku ingin memakannya," titahnya acuh tak acuh.
"Apa Tuan tidak takut keracunan? Bukan kah Tuan tidak pernah ingin menyentuh apalagi mencicipi makanan dan minuman yang aku buat," balas Farra.
Raja memejamkan matanya erat sambil berkata dengan tegas. "Siapa Boss di sini?"
"Tuan," sahut Farra dengan bibir bergetar.
__ADS_1
"Dari itu, turuti saja perintahku!" lanjutnya.
...***...