
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Zian. Apa kabar?" tanya wanita itu sambi tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya kemudian segera disambut oleh Zian.
"Ya, kamu benar, Vania. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita bertemu. Kabarku baik, bagaimana denganmu?"
"Kabarku juga baik," sahut Vania seraya menarik tangannya kembali.
"Oh ya, sebaiknya kita bicara di dalam saja, biar lebih enak," ajak Zian sembari membuka pintu kemudian mempersilakan Vania untuk masuk ke dalam ruangan itu bersamanya.
"Silakan masuk," lanjut Zian sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih."
Perlahan Vania masuk ke dalam ruangan pribadi Zian sambil memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Zian menuntun Vania ke sofa yang ada di dalam ruangan itu kemudian mempersilakan wanita cantik itu untuk duduk di sana.
"Duduklah, Vania. Mau minum apa? Kopi, teh, atau--"
"Tidak usah repot-repot, lagipula aku tidak lama, kok. Aku tahu saat ini kamu pasti sibuk," sela Vania seraya menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di hadapannya.
"Sebenarnya tidak juga. Jadi ... benar kamu tidak ingin minum apapun?" tanya Zian sekali lagi kemudian ikut duduk di samping Vania.
Vania menggelengkan kepalanya pelan sambil terus tersenyum manis kepada Zian yang kini duduk di sampingnya. Ia memperhatikan Zian dan ingatan masa lalunya bersama lelaki itupun kembali terlintas di pikirannya.
__ADS_1
Ya, dulu Vania mengenal Zian sebagai lelaki culun yang terus mengejar-ngejar cintanya seperti orang bodoh. Lelaki itu bahkan rela melakukan apa saja hanya demi mendapatkan sedikit perhatian darinya.
Lelaki yang selalu ia manfaatkan untuk kepentingannya sendiri. Dan sekarang Vania melihat begitu banyak perubahan dari lelaki itu. Perubahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yang jelas sekarang Zian sudah menjadi lelaki yang jauh lebih keren, bahkan sangat keren. Dan bukan lagi lelaki culun dengan kacamata tebal serta senyum bodoh yang selalu ia tampakkan kepada Vania.
Dan jangan lupakan, harta kekayaan sang Ayah yang sekarang berada di dalam genggaman Zian. Secara Zian adalah satu-satunya pewaris tunggal dari pasangan Tuan Ameer Hanif Abqary dan Nyonya Khalifa Aziz.
Tuan Ameer sendiri adalah owner dari perusahaan Abqary Group, perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan, minyak dan gas bumi.
Setelah Tuan Ameer memutuskan untuk pensiun dini, mau tidak mau, Zian sebagai putra tunggalnya harus menggantikan posisi sang Ayah dan akhirnya terpaksa harus ikut berkecimpung di dalam perusahaan itu.
"Hmm, saat ini kondisi Raja semakin tak terkendali, Zian." Vania menundukkan kepalanya seraya memasang wajah sendu.
"Apa maksudmu, Vania. Aku tidak mengerti?" Zian mengerutkan kedua alisnya sambil terus memperhatikan ekspresi Vania saat itu.
"Zian ...."
Vania mengangkat kepalanya. Terlihat cairan bening mengalir dari kedua pelukan mata wanita itu. Tanpa di duga, Vania menghambur ke tubuh Zian kemudian terisak sambil memeluk tubuh kekar lelaki itu.
Zian sempat terkejut saat Vania tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Dan untuk menghormati wanita itu, Zian pun membalas pelukan Vania dengan membelai lembut rambutnya yang tergerai indah.
__ADS_1
"Kini Raja semakin kacau, Zian. Setelah ia memilih menikah lagi dengan seorang gadis kampung yang tidak jelas asal usulnya. Sekarang hubungan kami sudah di ambang kehancuran. Jujur, aku sangat menyesal, Zian. Seharusnya dulu aku memilih dirimu, tetapi kenapa aku begitu bodoh dan malah memilih dirinya. Padahal saat itu, jauh di lubuk hati kecilku yang paling dalam aku sangat ingin memilih dirimu," tutur Vania sambil terisak di pelukan Zian.
Zian terdiam. Tatapannya kosong menerawang. Masih teringat jelas kejadian menyakitkan itu di kepalanya. Dua tahun yang lalu, di mana ia datang ke kediaman Vania dengan membawa sejuta harapan untuk bisa hidup bersama wanita pujaannya itu.
Dengan bermodalkan sebuah cincin berlian yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri, Zian mencoba melamar Vania. Namun, jawaban dari wanita itu benar-benar membuat Zian jatuh ke dalam jurang kekecewaan yang begitu dalam.
"Melamarku? Yang benar saja, Zian. Apa kamu tidak punya cermin di rumahmu? Kemarilah!"
Saat itu Vania menarik tangan Zian kemudian membawanya ke depan sebuah cermin. Bayangannya bersama Vania nampak jelas di dalam cermin tersebut. Ya, memang begitu kontras.
Si cantik dan si buruk rupa, mungkin itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan keadaan mereka saat itu.
"Coba lihat dirimu, Zian. Lihatlah dengan jelas, apakah kamu pantas bersanding denganku?"
Ucapan yang benar-benar membuat hati Zian hancur berkeping-keping. Dan ternyata saat itu Vania tidak sendiri, seorang laki-laki tampan dan terlihat jauh lebih keren dari dirinya, berdiri di samping Vania sambil memeluk perut seksi wanita itu.
"Raja?!" pekik Zian sambil membalikkan badannya menatap pasangan itu.
Raja tersenyum sinis sembari menatap Zian dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki dan membuat Zian semakin merasa terpojokkan.
...***...
__ADS_1