Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Sikap Aneh Raja


__ADS_3

Raja benar-benar memborong buah itu dan membawanya pulang untuk dibagi-bagikan kepada seluruh pekerjanya.


"Apa kamu ingin seluruh pekerjamu sakit perut kemudian kena diare, Raja?" kesal Vania.


Raja malah terkekeh pelan. "Aku hanya ingin mereka mencicipinya. Kalau mereka suka ya, syukur. Kalau tidak, ya tidak apa-apa."


Setibanya di kediamannya, buah itu segera dibagi-bagikan kepada seluruh penghuni rumah mewah itu. Bu Eni yang bertugas membagikan buah itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ia tidak habis pikir kenapa Tuan Raja malah membagikan buah gandaria dan bukan buah lengkeng, rambutan atau apapun yang manis-manis.


Bu Eni menghampiri Farra yang baru saja selesai menikmati makan siangnya yang sudah terlambat. Karena keasyikan bekerja, gadis itu lupa bahwa istirahat siangnya sudah terlewatkan.


"Farra, coba lihat. Ibu bawa apa?"


Bu Eni duduk di samping Farra kemudian memperlihatkan buah gandaria yang berwarna orange dan ada beberapa yang masih berwarna hijau.


Farra mengerucutkan wajahnya setelah melihat buah itu. Membayangkan rasanya saja, ia sudah membuat Farra bergidik ngeri.


"Siapa yang kasih ini, Bu?" tanya Farra sambil menautkan kedua alisnya.


"Tuan Raja," sahut Bu Eni.


Farra mengulum senyumnya. "Buat apa Tuan Raja membeli buah ini? Di samping rumah Tante Mala yang dulu banyak sekali. Gak perlu beli, tinggal colok aja."


"Mungkin Tuan Raja sudah bingung bagaimana cara menghabiskan uangnya yang banyak itu. Jadi salah satunya, ya dengan memborong buah ini trus dibagikan ke kita-kita. Biar kita semua kena diare," sahut Bu Eni sambil tertawa lepas.

__ADS_1


Bu Eni menghentikan tawanya. Ia meraih wajah Farra kemudian memperhatikannya dengan seksama.


"Wajahmu pucat sekali, Nak. Apa kamu sedang sakit?" tanya Bu Eni.


"Tidak, Bu. Aku baik-baik saja. Tapi, beberapa hari ini aku memang gampang capek. Bergerak sebentar saja, aku sudah kelelahan, Bu."


"Kalau kamu lelah, istirahat saja. Jangan pedulikan yang lain karena kesehatanmu lebih penting, Farra," sahut Bu Eni.


Sementara itu di kamar utama.


"Raja, berhentilah memakan buah itu. Apa kamu tidak takut sakit parut?"


Vania terlihat panik karena Raja tidak juga berhenti memakan buah itu. Vania bahkan sudah lupa berapa banyak buah itu masuk ke dalam perut Raja. Yang membuat Vania bingung, ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Raja. Seolah-olah buah itu tidak memiliki rasa asem sedikitpun.


"Apa lidahmu juga sedang bermasalah, Raja? Kamu bahkan tidak tahu bahwa buah ini rasanya asem, sangat asem!" gumam Vania sambil menggaruk pelipisnya.


"Lalu, bagaimana dengan sakit di kepalamu? Apa rasa sakitnya sudah berkurang?"


"Masih sakit, tapi tidak separah tadi, saat di Rumah Sakit."


Vania duduk di samping Raja kemudian bersandar di pundak lelaki itu sama seperti biasanya. Raja yang tadinya nampak tenang menikmati buah itu, tiba-tiba saja menutup hidungnya dengan kedua tangan dan menatap Vania dengan tatapan masam.


"Vania sayang! Parfum apa yang sedang kamu gunakan? Aromanya sangat tidak enak, apa kamu bisa menjauh sedikit dariku?" ucap Raja tiba-tiba.


Mata Vania membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa Raja akan berkata seperti itu padanya. Vania segera bangkit dan menjauhi lelaki itu dengan wajah kesal.

__ADS_1


Ia mencoba mencium aroma tubuhnya dan sepertinya tidak ada yang aneh. Bahkan wangi parfum mahalnya saja masih tercium dengan jelas.


"Kemarin kepala, pagi ini lidahmu dan sekarang hidungmu pun ikut bermasalah, Raja! Sebaiknya kamu cari Dokter yang bisa memecahkan masalahmu ini, aku sudah pusing!" kesalnya sembari keluar dari ruangan itu.


Vania yang sangat kesal, melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruang utama. Mulutnya terus menggerutu dan mengumpat kasar. Ia begitu kesal karena Raja sudah mengatakan bahwa dirinya bau.


Ketika Vania berpapasan dengan salah satu pelayan, ia sempat meminta pelayan tersebut menciumi aroma tubuhnya. Dan ternyata benar, tidak ada yang salah pada dirinya. Karena kesalahan itu terletak pada Raja dan indera penciuman lelaki itu.


Sepeninggal Vania, Raja tetap asik dengan dirinya sendiri. Ia terus memasukkan buah asem-asem manis tersebut ke dalam perutnya. Namun, beberapa menit kemudian raut wajah lelaki itu mendadak berubah.


"Astaga, perutku!" pekik lelaki itu sambil memegang dengan erat perutnya.


Dengan tergesa-gesa, Raja memasuki kamar mandi dan bertapa di dalam sana untuk beberapa saat.


"Ya ampun! Apa yang dikatakan oleh Vania jadi kenyataan," gumam Raja sambil menahan rasa sakit di perutnya.


Tidak cukup sampai di situ, kini perut Raja makin bergejolak dan membuat lelaki itu harus menguras isi perutnya keluar dari mulut.


Tak ada yang tahu bahwa Raja sedang dalam masalah besar di dalam ruangan itu. Bahkan Vania pun masih enggan kembali ke kamar mewahnya.


"Vania, tolong aku! Siapa saja, kumohon bantu aku," lirih Raja yang sudah tidak berdaya di dalam ruangan itu.


Hueekkk!


Lagi-lagi Raja mengeluarkan isi perutnya dan membuat tenaganya benar-benar habis.

__ADS_1


"Farra ... astaga, kenapa aku memanggil nama gadis itu?" gumamnya, antara sadar dan tidak.


...***...


__ADS_2