
Raja masih asik menggendong si kecil Raffa di dalam pelukannya. Usia bayi mungil itu baru genap 5 bulan, ia sudah pandai berceloteh dan merespon orang-orang di sekitarnya dengan senyuman dan tawanya yang terlihat menggemaskan.
"Dia tampan sekali, Raja. Persis seperti dirimu," ucap Sameera sembari mencubit pelan pipi chubby Raffa yang terlihat menggemaskan.
"Benar 'kan, dia memang mirip dengaku. Zian saja yang matanya teleng, bilang Baby Raffa mirip dengannya." Raja terkekeh pelan.
"Tuan Raja, apa kabar?"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang begitu ia kenali dari belakang tubuhnya. Raja berbalik kemudian menatap seseorang itu sembari melemparkan senyumannya.
"Ivan?"
Ivan mengulurkan tangannya ke hadapan Raja dan segera disambut oleh lelaki itu.
"Sini, Raja. Biar Raffa ikut denganku. Kalian bicara saja," ucap Sameera sembari meraih tubuh mungil itu dari pelukan Raja kemudian membawanya menjauh dari kedua lelaki itu.
Setelah Sameera pergi, Raja mengajak Ivan untuk duduk disalah satu kursi tamu. "Bagaimana kabarmu, Ivan? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kudengar sekarang kamu berkerja bersama Zian. Ngomong-ngomong bagaimana Boss barumu itu? Aku yakin sekali, dia pasti tidak seheboh aku, 'kan?" celetuk Raja sambil tertawa pelan.
"Kabarku baik, Tuan. Dan ya, sekarang saya bekerja bersama Tuan Zian. Menurut saya Tuan Zian adalah Boss yang baik, beliau bahkan tidak pernah marah kepada anak buahnya."
Raja kembali tertawa setelah mendengar jawaban dari Ivan. "Benar 'kan apa kataku, dia pasti tidak seheboh aku."
Tiba-tiba terjadi keheningan di antara mantan Boss dan mantan anak buah itu. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Namun, tidak beberapa lama, Ivan pun kembali bersuara.
"Apa Tuan sudah mendapatkan pengganti saya? Saya yakin sekali pasti Tuan sudah mendapatkan pengganti yang lebih dari saya. Benar 'kan?" Ivan menatap lekat wajah mantan Bossnya itu.
Raja menghembuskan napas berat. "Sebenarnya aku belum menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan posisimu, Ivan. Sekarang aku sadar, tidaklah mudah mencari seseorang yang dapat kita percaya sepenuhnya. Sama seperti aku mempercayaimu," tutur Raja dengan wajah kusut.
Ivan tersenyum lebar mendengar ucapan lelaki itu. "Kalau begitu, masih adakah kesempatan untuk saya kembali ke posisi saya sebelumnya, Tuan Raja?"
Raja menoleh kepada lelaki itu dan menatap ekspresi wajahnya dengan sangat serius. "Apa kamu serius, Ivan?"
"Ya, Tuan. Saya serius bahkan sangat-sangat serius. Kalau Tuan berkenan, saya akan segera mengajukan berkas lamaran saya kepada Tuan," lanjut Ivan.
__ADS_1
Raja tersenyum puas mendengar jawaban Ivan saat itu. "Benarkah itu? Tapi ... bukannya kamu masih bekerja bersama Zian?"
"Ya, tetapi saya hanya membantu saja. Asisten Tuan Zian yang sebenarnya adalah Leo." Ivan terkekeh pelan. Bagaimana tidak, mereka bertiga pernah bersekongkol untuk memberikan pelajaran kepada lelaki yang sedang duduk di sampingnya itu.
Raja menekuk kesal wajahnya ketika mendengar jawaban Ivan barusan. "Kalian memang benar-benar menyebalkan. Kalau begitu kamu harus bekerja kembali bersamaku dan bereskan sisa kekacauan yang sudah dilakukan oleh Leo di perusahaanku," kesal Raja.
"Benarkah? Tentu saja, Tuan. Saya berjanji akan membereskan semua kekacauan yang sudah kami lakukan."
Tak terasa acara pernikahan megah itu pun berakhir. Semua tamu undangan sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, termasuk Raja dan Sameera.
Jikalau pengantin baru lainnya akan memilih menghabiskan malam pertama mereka di hotel dan sebagainya. Berbeda dengan pasangan pengantin baru yang satu ini. Mereka memilih menghabiskan malam pertama mereka di kediaman mereka sendiri.
"Ingat ya, Nak. Jangan pake kontrasepsi! Ayah dan Ibu sudah tidak sabar pengen menimang cucu," bisik Nyonya Khalifa kepada Zian sebelum pasangan pengantin baru tersebut kembali ke kediaman mereka.
"Ya, Ibu tenang saja." Zian terkekeh pelan mendengar permintaan Sang Ibu.
"Ehm, ya sudah. Kami pamit duluan ya, Bu."
"Maafkan aku ya, Sayang. Kita terpaksa menghabiskan malam pertama kita di sini."
Farra memasang wajah memelas menatap Sang Suami yang sedang melepaskan penat di sebuah sofa yang ada di dalam kamar mereka. Zian membalas tatapan Farra kemudian merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Tidak apa, Sayang. Lagi pula keputusanmu sudah benar. Kita tidak mungkin meninggalkan Baby Raffa dan Aksa bersama Babysitter, sedangkan kita bersenang-senang di tempat lain."
"Ehm, terima kasih atas pengertiannya." Farra mempererat pelukannya di tubuh Zian.
"Sama-sama, tapi ini tidak gratis. Kamu harus membayarnya malam ini," sahut Zian yang kini menatap Farra dengan tatapan nakalnya.
Farra terkekeh pelan. "Sayang ...."
"Ya?"
"Apa kamu sudah pernah melakukan itu?" tanya Farra ragu-ragu.
__ADS_1
Zian tersenyum sembari menatap lekat kedua bola mata Farra. "Tidak pernah dan jika malam ini kita melakukannya, itu artinya aku melepaskan keperjakanku padamu," tutur Zian.
Farra tersenyum puas. Ia memberanikan diri untuk mencicipi bibir seksi yang kini sudah halal untuk dinikmati tersebut. Zian senang bukan kepalang, ciuman yang dilakukan oleh Farra membuat Juniornya bangkit.
Ia mengambil alih posisi Farra kemudian menguasai bibir mungil yang sudah sejak lama menggoda dirinya. Dengan penuh semangat lelaki itu melumatt dan menyesapp bibir serta lidah yang nakal itu.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Zian.
Farra menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya."
Zian begitu senang mendengar jawaban dari wanita itu. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh mungil Farra kemudian membawanya ke atas tempat tidur.
Satu persatu kancing piyama tidur yang sedang dikenakan oleh Farra dilepaskan oleh Zian hingga akhirnya terlihat dua buah gundukan besar yang masih tertutup dengan kain berlapis busa tipis, berwarna merah muda.
Setelah melepaskan piyama tidur yang dikenakan oleh Farra, tangan Zian mulai merambah ke pengait braa yang berada di punggung istri kecilnya itu. Satu-persatu pengait braa tersebut lepas dan Zian pun tersenyum senang.
Dua gundukan besar terpampang jelas di hadapannya dan begitu menantang untuk disentuh dan dimainkan. Benar saja, tangan lelaki itu mulai menjamah bulatan tersebut dengan sangat lembut. Meremass serta memainkan puncaknya hingga membuat Farra tak kuasa menahan dessahannya.
Desahann demi desahann terus meluncur dari bibir mungil itu karena puncak bulatan besarnya sedang dimainkan oleh Sang Suami dengan bibir serta lidahnya. Bahkan sesekali lelaki itu mengigitnya dengan lembut.
Namun, tiba-tiba lelaki itu menghentikan aksinya kemudian menatap Farra sambil tersenyum. Farra menautkan alisnya, heran.
"Kenapa, Sayang? Kok, berhenti?"
"Asimu keluar, Sayang. Dan aku sempat mencicipinya," sahut Zian. Ya, karena Baby Raffa asi eksklusif, otomatis asi Farra pun melimpah.
"Ehm, maaf!"
"Tidak masalah."
Kini Zian mulai bermain di area lain yang lebih menantang, di antara pusar dan area sensitif istrinya. Melabuhkan ciuman serta meninggalkan jejak kemerahan di titik-titik tertentu dan membuat Farra semakin tidak sabar menunggu kehadiran sang Junior yang masih bersegel tersebut.
...***...
__ADS_1