
Akhirnya mobil yang membawa Raja dan Farra tiba di kediaman lelaki itu. Raja kembali menarik paksa Farra yang masih menolak mengikutinya.
"Aku tidak ingin terjadi kekerasan, Farra. Jadi, turuti lah semua perkataanku," ucap Raja seraya menarik tangan Farra menuju kamar utama.
"Aku tidak mau, Tuan Raja. Lepaskan tanganku!"
Raja tidak peduli dengan teriakan Farra. Lelaki itu terus saja menuntun Farra dengan paksa hingga akhirnya mereka berada di depan kamar utama.
"Masuklah," titah Raja setelah membuka pintu kamar tersebut.
Farra menolak masuk ke dalam ruangan megah itu. Ia menggigit tangan Raja yang masih menggenggam tanganya dengan keras, hingga meninggalkan bekas gigitan Farra yang memerah di tangan lelaki itu.
Raja memekik kesakitan dan akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Kesempatan baik itu tidak disia-siakan oleh Farra. Setelah Raja melepaskan tangannya, Farra bergegas pergi dengan berlari keci menuruni anak tangga.
Raja berteriak memanggil nama Farra dengan wajah panik. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Farra saat itu.
"Farra, berhentilah! Nanti kamu jatuh," pekik Raja.
Namun, Farra tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya menuruni anak tangga karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanya satu, menyelamatkan diri dari lelaki itu.
Akhirnya Raja berteriak memanggil anak buahnya untuk menghentikan aksi Farra. Anak buahnya pun berdatangan dan berdiri di dasar tangga untuk menghadang Farra yang ingin melarikan diri dari Boss mereka.
Farra membulatkan matanya ketika ia sudah tiba di dasar tangga. Ia menyaksikan para lelaki sangar itu sudah berjejer menghadangnya.
"Ah, sial!" umpat Farra.
__ADS_1
Farra kebingungan, kembali ke atas sama artinya dengan menyerahkan diri kepada Raja. Dan mencoba menerobos para lelaki bertubuh besar itupun rasanya sangat tidak mungkin.
Namun, Farra tidak ingin berputus asa. Ia memilih menerobos para lelaki sangar tersebut. Benar saja, tidak semudah itu melewati mereka dan akhirnya Farra pun kembali di amankan oleh lelaki sangar tersebut.
"Bawa dia ke kamar utama! Tapi hati-hati, jangan sampai kandungannya kenapa-napa," titah Raja sambil tersenyum puas.
"Dasar Raja sialan!" umpat Farra yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Raja malah tergelak setelah mendengar umpatan dari gadis itu. Ia tidak menyangka gadis lemah itu akhirnya sudah mulai berani kepadanya.
"Ya, aku memang sialan dan sayangnya kamu baru tahu sekarang, Farra."
Akhirnya Farra tiba di kamar utama. Raja segera mengunci pintu ruangan itu setelah Farra masuk, kemudian menyimpan kuncinya. Ia menyeringai menghampiri Farra yang kini berdiri di depan tempat tidur miliknya.
"Sekarang kamu tidak bisa kemana-mana lagi, Farra. Kamu akan tetap di sini bersamaku dan akan menjadi Ratu untukku," ucapnya.
Raja tertawa pelan dan kini ia berdiri tepat di hadapan Farra. Raja membelai pipi Farra yang memerah sambil tersenyum manis.
"Oh ayolah, Farra, jangan berkata seperti itu. Dan asal kamu tahu, aku dan Vania sudah resmi bercerai. Dan sekarang hanya kamu lah istriku satu-satunya."
Farra menepis tangan Raja dari wajahnya kemudian ia pun menjauh dari lelaki itu. "Benarkah? Kenapa?"
Raja tidak menyerah, ia kembali menghampiri Farra yang terus mencoba menjauhinya. "Kemarilah." Raja menarik tangan Farra dengan lembut kemudian mendudukkan gadis itu di tepian tempat tidurnya.
Kini Raja dan Farra duduk di tepi tempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Raja terus menatap wajah Farra sambil menyunggingkan senyuman terbaiknya. Berharap Farra bisa sedikit lebih tenang karena sejak tadi gadis itu nampak gelisah dan terus mencoba kabur darinya.
__ADS_1
"Vania sudah mengkhianati aku selama ini, Farra. Dia bermain bersama lelaki lain di belakangku dan aku tidak bisa memaafkan kesalahannya itu. Belum lagi soal kebohongannya, di mana dia-- ah, sudahlah. Aku tidak ingin membahas soal Vania lebih jauh lagi."
Farra tersenyum tipis sambil membuang pandangannya ke arah lain. "Karena Nona Vania sudah berkhianat, lalu Anda ingin kembali denganku, begitu?"
"Farra, kumohon! Aku akui aku memang salah karena sudah memperlakukanmu dengan semena-mena. Tapi, sekarang aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku akan memperlakukan dirimu dengan baik sebagaimana seorang suami memperlakukan istrinya."
Tiba-tiba dari luar terdengar suara keributan dan seorang pelayan yangsedang ketakutan, berlari kemudian mengetuk pintu kamar utama, di mana Raja dan Farra berada.
"Tuan Raja, di luar tengah terjadi keributan," ucap Pelayan sambil mengetuk pintu kamar utama.
Raja menghembuskan napas kesal kemudian segera bangkit dari posisi duduknya. Ia melangkah menuju pintu kamar sambil menggerutu. "Huh, mengganggu saja!"
"Ada apa, apa kamu tidak tahu bahwa aku sedang--" Belum selesai Raja berucap, pelayan itu sudah menyela ucapannya dengan cepat.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi di luar sedang terjadi keributan," sela pelayan dengan wajah memucat.
"Apa?! sialan!" hardik Raja.
Farra yakin bahwa yang sedang membuat keributan di luar adalah Zian dan ia ingin segera menemui lelaki itu. Raja yang sedang kesal segera menghampiri Farra.
"Diam di sini dan jangan berbuat macam-macam! Paham?!"
"Saya tidak mau, saya harus pergi di sini!"
Farra mencoba menerobos pintu kamar, tetapi Raja menahannya. Raja mendorong tubuh Farra agar ia kembali masuk ke dalam ruangan megah itu kemudian mengunci pintunya dari luar.
__ADS_1
"Tuan Raja, lepaskan saya!" teriak Farra sambil menggedor-gedor pintu kamar utama.
...***...