Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Kekecewaan Vania


__ADS_3

Vania senang bukan kepalang mendengar jawaban yang keluar dari bibir Zian. Apa yang ia pikirkan selama ini ternyata benar, lelaki itu masih belum bisa move on dari dirinya.


Vania tersenyum nakal, ia menghampiri Zian dan duduk dengan jarak yang sangat dekat. Mata Vania kini saling bertaut dengan lelaki itu.


Vania meletakkan tangan kirinya di pundak Zian kemudian menjalar hingga ke tengkuknya. Sedangkan tangan kanan Vania kini bermain liar di dada bidang lelaki itu.


"Masih adakah kesempatan untuk kita kembali lagi seperti dulu, Zian?" tanya Vania dengan kerlingan nakalnya menatap Zian.


Zian tersenyum sembari meraih kedua tangan Vania yang mulai menjalar ke daerah terlarang milik Zian. Ia menggenggam erat kedua tangan wanita itu sambil menatapnya lekat.


"Kesempatan seperti apa yang kamu inginkan, Vania? Memulai hubungan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu?"


Vania menganggukkan kepalanya dengan cepat dan senyum semringah itu masih saja menghiasi wajah cantiknya. "Ya, Zian. Aku ingin kita kembali seperti dulu," jawab Vania mantap.


Zian melepaskan tangan Vania yang tadi ia genggam kemudian bangkit dari tempat duduknya sambil tertawa lepas di ruangan itu. Suara tawa Zian bahkan terdengar hingga menggema di langit-langit ruangan.


Vania terdiam ketika melihat ekspresi Zian. Ia tidak tahu apa yang lucu sehingga membuat Zian tertawa lepas seperti itu.


"Kamu benar-benar lucu, Vania!" seru Zian di sela gelak tawanya. "Apa kamu sudah lupa? Atau ... kamu berpura-pura lupa? Di antara kita tidak pernah ada hubungan apapun. Kamu hanya memanfaatkan aku sebagai lelaki bodoh yang benar-benar mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Dan sekarang kamu ingin kita mengulangi kisah itu lagi?!" Zian pun kembali tergelak.

__ADS_1


"Tidak, tidak! Cukup satu kali aku dipermainkan olehmu dan aku tidak akan pernah mengulangi hal bodoh itu lagi," lanjut Zian.


"Ke-kenapa kamu bicara seperti itu, Zian? Aku akui, aku memang salah. Hal itu terjadi karena kebodohanku. Aku yang tidak bisa membedakan mana yang benar-benar tulus mencintaiku, Zian. Kumohon, maafkanlah aku," lirih Vania dengan mata berkaca-kaca menatap Zian.


"Sudahlah, Vania. Sebaiknya simpan saja air mata buayamu itu untuk merayu mangsamu yang lain. Karena aku tidak akan pernah tertipu lagi oleh air matamu itu."


Zian melangkah menuju pintu kemudian membukanya dengan lebar. Ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman seraya memerintahkan wanita itu agar segera keluar dari ruangan tersebut.


Terlihat jelas kekecewaan dari raut wajah Vania saat itu. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah menghampiri Zian yang kini berdiri tepat di depan pintu.


"Pikirkan sekali lagi, Zian. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali, begitupula kesempatan yang aku tawarkan kepadamu hari ini," ucap Vania dengan tatapan serius menatap Zian.


"Sepertinya aku tidak perlu memikirkannya lagi, Vania. Lagipula aku sangat yakin, aku tidak butuh kesempatan kedua dari wanita seperti dirimu," sahut Zian sambil tersenyum tipis.


Vania terus melangkah sambil menekuk wajahnya. Walaupun ia sangat kesal, tetapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia masih berharap Zian mengejarnya kemudian meminta maaf.


Setelah cukup jauh, Vania menghentikan langkahnya sejenak dan berharap sekarang ini Zian sedang berada di belakangnya. Perlahan Vania berbalik seraya memasang senyuman terbaiknya.


Namun, sayang seribu sayang, harapan Vania hanyalah tinggal sebuah harapan. Zian sama sekali tidak mengikutinya. Dan sekali lagi, Vania harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata lelaki itu benar-benar sudah move on darinya.

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Raja.


"Bagaimana, Leo? Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Farra sekarang ini?!" tanya Raja yang sudah mulai frustrasi.


"Maafkan saya, Tuan Raja. Saya masih belum mendapatkan informasi tentangnya," sahut Leo dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


Raja benar-benar kesal mendengar jawaban asistennya itu. Sekarang ia sadar, Leo tidak sebaik Ivan. Mungkin jika Ivan yang melakukan tugas itu, Farra pasti sudah ditemukan.


"Kamu memang tidak becus! Mencari informasi tentang Farra saja kamu tidak mampu, lalu untuk apa aku menggajimu mahal-mahal?!" hardik Raja sambil mendengus kesal.


Tanpa Raja sadari, Leo malah tersenyum tipis saat Raja mengucapkan hal itu kepadanya.


"Baiklah, aku kasih kamu kesempatan dua hari lagi! Jika dalam waktu dua hari ini kamu masih belum bisa menemukan Farra-ku, maka aku tidak akan segan-segan memecatmu, Leo!"


"Baik, Tuan Raja. Terima kasih atas kepercayaan Anda," sahut Leo sambil membungkuk hormat.


Raja mengibas-ngibaskan tangannya dan meminta Leo agar segera pergi dari tempat itu. Raja sudah sangat kesal dan ia tidak ingin melihat wajah asistennya itu lebih lama lagi.


"Pergilah dan jangan pernah kembali sebelum kamu menemukan Farra dan calon buah hati kami," titahnya.

__ADS_1


🙏🙏🙏 Maaf late UP, soalnya si kecil masih rewel.


...***...


__ADS_2