Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Positif Hamil


__ADS_3

"Bagaimana, Dok?" tanya Vania yang sudah tidak sabaran menunggu hasil pemeriksaan tersebut. Padahal saat itu Dokter masih melakukan pemeriksaan USG kepada kandungan Farra.


"Ya, Nona Vania. Nona Farra memang sedang hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke-8," sahut Dokter sambil tersenyum hangat.


"Apa?!" pekik Vania.


Seketika tubuh Vania bergetar. Kakinya bahkan terasa lemas dan tidak sanggup menopang beban tubuhnya. Vania kembali menjatuhkan tubuhnya di kursi dan wajahnya terlihat kusut.


Kecewa, marah, kesal, semuanya menjadi satu di dalam hati Vania. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Raja tega mengkhianati cintanya. Selama ini Vania sangat yakin bahwa Raja tidak akan pernah berkhianat karena cinta Raja hanyalah untuk dirinya.


"Sialan kamu, Raja!" umpat Vania.


Bukan hanya Vania yang shok mendengar pernyataan Dokter tersebut. Farra pun tidak kalah shok mendengarnya. Bagaimana tidak, selama ini ia bahkan tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Tahu-tahu sekarang ia mendapat kabar bahwa dia sedang hamil.


"Dok, apakah Dokter tidak salah? Selama ini aku tidak merasakan ada sesuatu yang aneh pada diriku, Dok. Masa sekarang aku dibilang hamil?"


Vania semakin kesal mendengar penuturan Farra. Belum sempat Dokter menjawab pertanyaannya, Vania sudah menyelanya dengan nada kesal.


"Tentu saja kamu tidak merasakan apa-apa karena yang menanggung akibat dari kehamilanmu adalah Raja, suamimu!" kesal Vania sambil menyilangkan tangannya ke dada.


Dokter menautkan kedua alisnya sambil berpikir. Ia tahu bahwa Raja adalah suami dari Vania dan baru saja Vania bilang bahwa suami Farra juga bernama Raja. Setelah mengerti hubungan kedua wanita itu, Dokter pun kembali tersenyum. Namun, tersenyum kecut pastinya.


"Coba lihat ini, Nona." Dokter menunjuk layar monitor di mana posisi bayi Farra berada. "Ini bayi Anda, lihatlah."


Farra terdiam sambil memperhatikan layar monitor. Perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena ia akan segera menjadi seorang Ibu dan sedih karena ia tidak tahu apakah Tuan Raja sudi menerima bayinya sebagai salah satu generasi penerus lelaki itu.

__ADS_1


Sedangkan selama ini Farra sadar bahwa keberadaannya saja tidak pernah dianggap oleh lelaki itu, apalagi bayi mungilnya.


"Jadi benar Tuan Raja mengalami kehamilan simpatik?" tanya Dokter kepada Vania yang duduk dengan wajah menekuk.


"Ya, Dok. Aku bahkan tidak menyangka bahwa ternyata itu benar adanya. Aku kira itu hanya mitos. Dan sekarang lelaki itu sudah seperti orang gila gara-gara istri mudanya hamil," kesal Vania.


Dokter kembali tersenyum kecut mendengar penuturan Vania. Setelah beberapa menit kemudian, pemeriksaan itu selesai. Dokter memberikan obat serta vitamin untuk Farra dan ia juga meminta Farra untuk terus memeriksakan kehamilannya.


Farra mengangguk pelan walaupun ia tidak yakin bulan depan bisa memeriksakan kembali kandungannya. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana nasibnya dan bayi mungil itu setelah ini.


Akhirnya Vania dan Farra pun bersiap untuk pulang. Namun, sebelum pulang Vania kembali mengajak Dokter itu bicara empat mata dengannya. Sedangkan Farra sudah menunggu di mobil dengan cemas.


"Dok, bisakah kamu membantuku? Kali ini saja, Dok! Please," bujuk Vania sambil menatap wajah Dokter dengan tatapan penuh harap.


"Bisakah Dokter membantuku untuk mengaborsi bayi itu? Aku tidak ingin gadis itu mengandung calon generasi penerus Raja, Dok! Aku tidak mau," ucap Vania.


"Maafkan saya, Nona Vania. Saya tidak mengambil job yang seperti itu."


"Dok, aku mohon! Aku akan membayarmu berapapun kamu mau. Sebutkan saja nominalnya, aku pasti akan membayarnya," lanjut Vania, mencoba meyakinkan Dokter.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bisa."


Seketika raut wajah Vania kembali berubah. Ia kembali menekuk wajahnya karena kesal Dokter itu sudah menolak keinginannya.


"Ya, sudah kalau begitu!"

__ADS_1


Vania bangkit dari tempat duduknya, kemudian melangkah keluar dari tempat praktek tersebut tanpa permisi kepada Dokter cantik itu.


Dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir kenapa Vania begitu kekeh ingin melenyapkan bayi yang tidak berdosa itu.


Setibanya di mobil, Vania masuk sambil menggerutu. Ia benar-benar kesal karena Dokter itu tidak mau di ajak kerjasama dengannya.


"Ini semua gara-gara kamu!" kesalnya, meneriaki Farra.


Bukan hanya Farra yang terkejut, bahkan tubuh Pak Sopir pun sempat bergetar karena terkejut mendengar teriakkan Vania yang memekakkan telinganya.


"Kenapa Nona menyalahkan aku? Seharusnya Nona tanyakan hal itu kepada Tuan Raja, kenapa ia melakukan perbuatan yang tidak senonoh kepadaku? Karena ini semua bukanlah keinginanku, Nona," tegas Farra.


"Diam kamu! Kalian berdua sama saja. Sama-sama busuk!" kesalnya.


Untuk beberapa saat mobil itu hening.


"Sejak kapan Raja mulai menyentuhmu?" tanya Vania dengan bibir bergetar.


Farra menghembuskan napas panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Vania. "Sebelum Nona masuk Rumah Sakit," jawab Farra


Vania mencoba mengingat-ingat dan setelah sadar, ia pun menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian terisak di sana. Sekarang ia tahu bahwa Raja sudah menyentuh gadis itu bahkan sejak ia masih sakit.


"Raja, kamu memang benar-benar menyebalkan!" hardik Vania di sela isak tangisnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2