Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Awal Kehancuran Raja


__ADS_3

"Apa aku tidak salah lihat?! Bagaimana bisa kita mengalami kerugian sebanyak ini?!" pekik Raja setelah melihat laporan keuangan perusahaannya.


Leo hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak berani bicara sedikitpun karena saat ini ekspresi wajah Raja terlihat sangat mengerikan.


Di saat Raja masih panik soal keuangan perusahaannya yang mengalami kerugian besar, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan chat masuk.


Raja mencoba menahan amarahnya kemudian meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Raja membuka pesan tersebut dan ternyata nomor pengirimnya sama sekali tidak ia kenali dan tidak tersimpan di daftar kontaknya.


"Sekarang apa lagi ini!" gerutu Raja.


Bukan sebuah pesan chat, melainkan sebuah video yang berdurasi cukup pendek, hanya 2 menit 45 detik. Namun, walaupun durasi video tersebut cukup pendek, siapa sangka isi video tersebut membuat Raja begitu shok dan hampir saja lelaki itu melemparkan ponselnya karena kesal.


"Sialan! Siapa yang sudah mengirimkan video ini kepadaku!" pekiknya dengan wajah memerah.


Raja melupakan soal laporan keuangan perusahaannya dan malah pergi begitu saja dari ruangan itu menuju kamar Vania.


Dengan langkah cepat, lelaki itu berjalan menuju kamar Vania dan setibanya di kamar tersebut, ia segera mengetuknya dengan kasar.


"Vania! Buka pintunya," titah Raja.


"Sebentar, Raja!" teriak Vania dari dalam kamar.

__ADS_1


Wanita itu baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Dengan tergesa-gesa, Vania mengenakan kimono mandi karena Raja sudah tidak sabar menunggu pintu kamar itu terbuka.


"Dasar! Tidak sabaran sekali, sih!" gerutu Vania seraya melangkahkan kakinya menuju pintu kamar sambil mengikat tali kimono tersebut.


Baru saja Vania membuka pintu kamarnya dan berniat menyunggingkan sebuah senyuman untuk suaminya itu, tiba-tiba saja Raja memukul pipinya dengan keras hingga ia merasakan sakit yang amat sangat.


Plakkk!


"Aakh!" pekik Vania seraya memegang pipinya yang sakit sambil mengelusnya.


Air mata Vania meleleh karena ia tidak menyangka bahwa Raja sudah berani melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahannya hingga Raja melakukan itu.


"Kamu tanya kenapa, Vania? Sekarang, apa kamu bisa jelaskan ini padaku?!"


Raja memperlihatkan ponselnya kepada Vania dan sebelum Vania meraih ponsel itu, Raja sudah menghempaskan benda pipih tersebut ke atas tempat tidur.


Dengan gemetar, Vania mengambil ponsel itu dan mencoba mencari tahu apa yang membuat Raja begitu marah padanya. Tiba-tiba saja mata Vania terbelalak setelah melihat video dirinya di club malam bersama Tania waktu itu.


"E-ehm ... Ra-Raja sayang, aku bisa menjelaskannya," ucap Vania dengan terbata-bata.


"Apa yang ingin kamu jelaskan, Vania?! Apakah di video tersebut tidak cukup jelas untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya?!" teriak Raja di samping telinga Vania yang sedang terisak.

__ADS_1


"Kamu menjijikkan!" ketus Raja sambil menatap hina kepada istrinya itu.


Vania menyeka air matanya kemudian menatap tajam ke arah Raja. "Ya, aku memang menjijikkan, Raja. Lalu, apa hal itu tidak berlaku padamu? Kamu juga melakukan hal yang sama kepada gadis kampung itu di belakangku! Bahkan sampai gadis itu hamil, apa itu tidak menjijikkan bagimu?!"


Raja tersenyum sinis kemudian mencengkeram kedua pipi Vania dengan erat. "Apa kamu sudah lupa, Vania. Statusku dengan gadis kampung itu adalah suami istri. Aku bisa melakukan hal itu kapan saja aku mau karena hubungan kami sah dan tidak ada yang bisa melarang kami melakukannya! Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu, aku melakukan hal itu karena selama ini kamu tidak bisa memberikan aku kepuasan sama seperti yang Farra berikan kepadaku," kesal Raja.


Raja melepaskan cengkeramannya dengan kasar kemudian melenggang pergi dari kamar itu tanpa mempedulikan Vania yang masih terisak di kamar itu sendirian.


"Kamu kurang ajar, Raja! Aku benci kamu!" teriak Vania sambil melemparkan bantal dan gulingnya yang sudah tersusun rapi, ke arah pintu kamar.


"Apa setelah ini Raja akan menceraikan aku? Dan jika itu benar-benar terjadi, apa yang harus aku lakukan setelahnya? Ah, sebentar-sebentar!" Vania menyeka air matanya kemudian tersenyum sinis.


"Baiklah, Raja! Jika memang rumah tangga kita sudah tidak bisa dipertahankan lagi, ya sudahlah! Setidaknya aku masih punya seseorang yang begitu mencintaiku, yang rela melakukan apa saja untukku dan sekarang aku bisa kembali padanya," gumam Vania sambil menyeringai licik.


Sementara itu, Raja yang saat ini begitu frustrasi, segera kembali ke kamar sempit Farra. Ia mengacak rambutnya kasar sambil berteriak-teriak.


"Bagus! Sekarang Tuhan benar-benar sudah memberikan karma kepadaku! Setelah kondisi perusahaanku yang mulai kacau, sekarang rumah tangga impianku pun di ambang kehancuran!"


Para pelayan yang berjaga di depan pintu kamar tidak ada yang berani mendekat. Malah sebaliknya, mereka menjauh dan tidak ingin menjadi pelampiasan lelaki arogan itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2