Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Perjalanan Panjang 2


__ADS_3

"Mari, Dek."


Farra menuntun Aksa berjalan tanpa tahu arah dan tujuan. Aksa yang sama sekali belum mengerti apa yang sedang terjadi kepada mereka, terlihat begitu bahagia. Bahkan bocah kecil itu terdengar mendendangkan lagu anak-anak yang sering ia nyanyikan bersama teman-temannya di sekolah.


"Kak Farra, hari ini Aksa senang sekali!" seru Aksa seusai menyanyikan lagu kesayangannya itu.


Farra menoleh kepada bocah tampan itu sembari tersenyum kecut. "Benarkah?! Apa yang membuat Aksa senang?"


"Aksa senang karena Kak Farra akhirnya kembali lagi bersama Aksa," sahutnya sambil tersenyum lebar. Manampakkan gigi susunya yang tersusun dengan rapi.


Lagi-lagi Farra hanya bisa tersenyum kecut. "Ya, Kakak juga senang. Akhirnya kita bisa bersama-sama lagi, Dek."


"Ya Tuhan, begitu polos pikiranmu, Dek. Kita bahkan tidak tahu cobaan apalagi yang akan kita hadapi setelah ini," batin Farra.


Cukup lama kedua kakak-beradik itu berjalan tanpa arah dan tujuan. Aksa yang tadinya terlihat riang gembira, kini wajah bocah tampan itu terlihat kusut. Ia kelelahan, apalagi matahari sudah berada di atas kepala mereka.


"Kak, Aksa lelah. Aksa haus," keluhnya dengan langkah gontai.


Farra memperhatikan sekelilingnya dan tatapan gadis itu tertuju pada sebuah pos ronda yang sepertinya sudah tidak di gunakan lagi.


"Sebaiknya kita beristirahat di sana ya, Dek." 


Farra menuntun Aksa ke tempat itu dan merekapun beristirahat di sana untuk melepaskan penat. Aksa merebahkan tubuhnya yang lelah seraya kembali berdendang ria dan sejenak bocah tampan itu melupakan rasa haus dan lapar yang sedang melanda perut dan kerongkongannya.


Farra kebingungan, ia tidak tahu harus bagaimana. Saat ini ia bahkan tidak memiliki uang sepeserpun. Ia membuka tas milik Aksa dan mencari sesuatu yang mungkin bisa dijual kemudian dibelikan makanan dan minuman untuk Aksa.


Namun, sama seperti tas lusuh miliknya, di dalam tas Aksa pun tak ada barang berharga apapun. Hanya berisi pakaian dan beberapa mainan milik Aksa.

__ADS_1


"Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku bisa menahan rasa lapar dan hausku, tetapi tidak untuk Adikku," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Tepat di saat itu sebuah mobil Pick UP berwarna hitam mendadak berhenti di depan pos, di mana Farra dan Aksa beristirahat. Farra memperhatikan mobil itu, ada rasa cemas di hatinya. Ia takut seseorang di dalam mobil tersebut mempunyai niat jahat kepadanya dan juga Aksa.


Seorang laki-laki bertubuh besar keluar dari mobil tersebut dengan wajah masam. Lelaki itu menggerutu karena lagi-lagi mobilnya itu bermasalah.


"Sial!" umpat lelaki itu sembari menendang ban mobilnya.


Farra masih belum berani mendekat, ia hanya berani memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. Lelaki itu meraih ban cadangan dari dalam mobil dan berniat mengganti ban yang bocor tersebut dengan yang baru.


Lelaki itu nampak kesusahan dan Farra pun tidak tega melihatnya. Farra berniat membantu lelaki itu walaupun ia tidak tahu bantuan seperti apa yang bisa ia berikan.


"Aksa, tunggu di sini sebentar, ya," ucap Farra kepada Aksa yang masih asik rebahan di dalam pos tersebut.


"Kakak mau kemana?" tanya Aksa seraya bangkit dari posisi enaknya.


Aksa pun menganggukkan kepala kemudian memeluk kedua tas tersebut. Aksa memperhatikan Farra yang sedang berjalan menghampiri lelaki itu dengan wajah cemas. Ia takut lelaki itu berbuat jahat kepada Kakaknya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Farra dengan ragu-ragu.


Lelaki itu sontak melihat ke arah Farra dan memperhatikan gadis itu dengan seksama dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk gadis cantik yang sedang berdiri di hadapannya.


"Bisa ambilkan kunci-kunciku, ada di dalam mobil," ucap lelaki itu seraya menunjuk ke dalam mobilnya, sedangkan ia masih asik dengan alat dongkraknya.


"Baiklah."


Farra bergegas memeriksa ke dalam mobil dan ia melihat ada sebuah box tempat penyimpanan kunci-kunci yang dibutuhkan oleh lelaki itu. Farra meraih benda tersebut kemudian membawanya kepada lelaki itu.

__ADS_1


"Ini?" tanya Farra.


"Ya, kamu benar sekali."


Farra menyerahkan box tersebut dan segera disambut oleh lelaki itu seraya berterima kasih. Cukup lama lelaki itu mengotak-atik mobilnya dan setelah beberapa saat akhirnya mobil itupun bisa dipacu kembali.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, ya," ucap lelaki itu sekali lagi sambil tersenyum hangat.


"Ya, sama-sama, Tuan."


Baru saja lelaki itu membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja Aksa kembali merengek karena rasa lapar dan haus itu kembali menyerangnya.


"Kakak, Aksa haus dan Aksa juga lapar." Bocah itu bahkan sampai menitikkan air matanya.


Farra segera menghampiri Aksa dan mencoba menenangkan adik lelakinya itu dengan cara memeluknya. "Ya, tahan sebentar lagi ya, Dek," bisik Farra seraya mencium puncak kepala Aksa.


Lelaki itu sempat terdiam sejenak saat mendengar rengekan Aksa yang tengah kelaparan. Ia tersenyum kemudian menghampiri kakak beradik itu.


"Bagaimana kalau kita makan bareng? Kebetulan Om juga sudah lapar dan perut ini sudah mulai bernyanyi. Coba kamu dengarkan," ucap lelaki itu seraya menepuk perutnya.


Aksa tersenyum lebar sambil menyeka air matanya. "Benarkah, Om? Om mau mengajak Aksa makan?" ucap Aksa dengan sangat antusias.


"Ya! Mari, ikutlah bersama Om," ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangannya kepada Aksa.


Farra terdiam sambil terus menatap lelaki itu tanpa berkedip sedikitpun. Lelaki itu membalas tatapan Farra, masih dengan senyuman manisnya.


"Percayalah padaku, Nona. Aku tidak akan berbuat jahat kepada kalian. Aku hanya ingin mengajak Adikmu yang tampan ini makan siang bersamaku. Kamu juga boleh," ucapnya lagi sembari mengangkat tubuh mungil Aksa kemudian menggendongnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2