Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Kembalikan Farra Padaku!


__ADS_3

"Bagaimana jika Raja terus bersikap seperti itu, Tania? Lama-lama bukan hanya Raja yang seperti orang gila, tetapi aku juga! Raja bahkan masih menolak saat aku mencoba mendekatinya."


Raut wajah Vania mendadak sendu. Matanya terlihat berkaca-kaca dan cairan bening itu hampir saja keluar dari pelupuk mata Vania.


Tania menghembuskan napas berat kemudian menepuk pundak Vania dengan lembut. "Keluarkanlah kekesalanmu, Vania. Jangan ditahan, agar bebanmu bisa sedikit berkurang."


Akhirnya Vania pun terisak di sana. Tania yang merasa iba kepada sahabatnya itu, segera memeluk tubuh Vania dan membiarkan wanita itu mengeluarkan rasa kekecewaannya.


"Vania, bagaimana jika malam ini happy-happy? Lupakan sejenak permasalahanmu bersama Raja dan kita bersenang-senang agar hatimu yang sedang sumpek itu bisa mendapatkan sedikit udara segar, bagaimana, huh?!" tanya Tania yang mencoba menghibur Vania yang masih terisak di pelukannya.


Vania menganggukkan kepala pelan seraya melerai pelukannya bersama Tania, kemudian menatap wanita itu sambil menyeka air matanya.


"Baiklah, aku setuju! Aku memang butuh udara segar agar otakku bisa sedikit lebih rileks."


"Nah, begitu donk! Lagipula kita sudah lama sekali tidak bersenang-senang, semenjak kamu disibukkan dengan kehadiran gadis kampung itu," sahut Tania sambil tersenyum lebar.


Sementara itu di kediaman Raja.


Raja sudah tiba di depan pintu kamar milik Farra. Kamar yang lebih cocok disebut gudang dari pada sebuah kamar. Bahkan pintunya saja rusak dan tidak bisa dikunci.


Perlahan Raja mendorong pintu kamar tersebut dan hal pertama yang raja lihat adalah tempat tidur lusuh yang selama ini menjadi tempat Farra merebahkan tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja.

__ADS_1


Raja tersenyum kecut seraya menghampiri tempat tidur tersebut. Ia duduk di sana dan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar, sama seperti yang biasa Farra lakukan. Bersandar di dinding kamar sambil menangis meratapi nasibnya.


Sekarang tatapan Raja tertuju pada sebuah bantal tipis yang menjadi saksi bisu, di mana Farra sering membenamkan wajahnya di sana sambil terisak. Ia meraih bantal itu kemudian memeluknya sambil menciumi benda tersebut.


Raja masih bisa menciumi aroma rambut Farra di bantal tersebut. Entah mengapa saat ini ia begitu merindukan sosok Farra untuk saat ini. Merindukan tangisannya, ketakutannya, dan semua yang ada di gadis itu, termasuk tubuh moleknya.


"Apa aku sudah gila, Farra?! Aku yakin kamu sudah berhasil menyihirku sama seperti kamu menyihir Ayahku, benar ?kan?!" Raja tertawa di ruangan itu sambil terus memeluk bantal milik Farra.


"Pelayan!" teriak Raja.


Seorang Pelayan yang memang sengaja mengikuti lelaki itu, bergegas menghampirinya.


"Panggil Ivan dan perintahkan dia untuk membawa kembali Farra padaku!" titahnya dengan wajah serius menatap Sang Pelayan.


Pelayan itu kebingungan. Ia tidak tahu kenapa Tuan Raja bisa sampai lupa kalau Ivan sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dan sekarang Ivan sudah tidak bekerjasama lagi dengan Tuan Raja.


"Kenapa kamu masih diam di sana?! Cepat panggil Ivan!" titahnya lagi ketika melihat pelayan itu masih berdiri di ambang pintu dengan wajah bingung.


"Ma-maafkan saya, Tuan Raja. Tapi ... Tuan Ivan sudah mengundurkan diri dan dia tidak bekerja di sini lagi," sahut pelayan itu dengan terbata-bata.


Raja mengusap wajahnya kemudian mengacak rambutnya dengan kasar. Ia mendengus kesal setelah sadar bahwa Ivan pun sudah pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Sialan!" umpatnya kasar.


Pelayan yang mulai ketakutan, segera memohon diri dan keluar dari kamar sempit itu. Kini hanya Raja yang terdiam di ruangan itu dengan sejuta rasa penyesalannya.


Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur lusuh milik Farra dan memejamkan matanya. "Kamu tidak akan pernah bisa membuatku jatuh cinta, Farra! Tidak akan pernah bisa," gumam Raja sembari memeluk bantal Farra dengan lebih erat lagi.


Malampun menjelang.


Vania dan Tania benar-benar pergi ke sebuah club malam yang sudah terkenal di kalangan para pencinta dunia kegemerlapan malam. Kedua sahabat itu ingin menghabiskan malam mereka di tempat itu sambil bermain bersama para gigolo tampan yang sudah siap menemani mereka sampai puas.


"Lupakan sejenak permasalahanmu, Teman! Malam ini adalah milik kita dan kita harus menikmatinya sampai puas!" teriak Tania di tengah-tengah kerasnya suara musik yang sedang di putar oleh seorang Disk Jockey berwajah tampan.


"Ya, kamu benar!" sahut Vania sambil tertawa lepas.


Kedua wanita itu tengah asik menari dengan ditemani para gigolo tampan yang akan menghabiskan malamnya bersama mereka.


Namun, tanpa kedua sahabat itu sadari, seseorang sedang memperhatikan mereka sambil menyeringai. Tak lupa sebuah kamera yang terus menyoroti kegiatan kedua wanita itu sambil merekamnya.


"Bagus, teruslah seperti itu, Baby!" gumamnya sambil tersenyum puas.


...***...

__ADS_1


__ADS_2