Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Melepaskanmu


__ADS_3

Akhirnya Dokter memperbolehkan Zian, Raja, dan Aksa untuk menjenguk Farra. Farra nampak sehat dan bahkan senyuman wanita itu terus mengambang di wajah cantiknya.


"Bagaimana kabarmu, Farra? Kamu baik-baik saja, 'kan?" Zian menghampiri Farra kemudian duduk di samping tempat tidurnya.


"Baik, Kak. Terima kasih karena Kakak sudah membantuku. Seandainya Kakak tidak datang tepat waktu, mungkin aku akan melahirkan di rumah," jawab Farra.


Raja datang menghampiri mereka dengan senyuman yang merekah sempurna. "Lihatlah dia, Zian. Bayiku tampan, ya? Persis seperti diriku," sela Raja sembari memperlihatkan bayi mungil yang ada di pelukannya kepada Zian.


"Boleh aku menggendongnya?" pinta Zian.


"Tentu saja, kenapa tidak." Perlahan Raja menyerahkan bayi mungil yang sedang tertidur pulas tersebut kepada Zian.


Zian pun menyunggingkan sebuah senyuman hangat saat menatap bayi mungil itu. Ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan olehnya. Rasa bahagia yang amat sangat, sama seperti yang dirasakan oleh Raja saat ini.


"Kamu tampan sekali, Nak. Tapi ... Om tidak terima jika kamu dibilang mirip sama lelaki yang sedang berdiri di samping Om. Om rasa kamu malah lebih mirip Om, ya?!" gumam Zian.


Mata Raja membesar kemudian menatap wajah Zian dengan seksama. Ia kesal mendengar penuturan Zian barusan, yang mengatakan bahwa bayinya mirip dengan lelaki itu.


"Apa, Zian? Apa aku tidak salah dengar, mirip kamu?!"

__ADS_1


"Ya, dia mirip denganku. Lihatlah dengan seksama. Matanya, hidungnya, bibirnya yang seksi, dan--"


"Sudah-sudah, hentikan! Jangan dilanjutkan, aku tidak ingin mendengarnya lagi!" sela Raja dengan wajah menekuk sempurna.


Farra dan Aksa hanya bisa tersenyum melihat perdebatan kecil yang terjadi di antara kedua lelaki itu. "Ternyata kalian bisa akur juga, ya," ucap Farra.


"Siapa bilang kami akur? Bahkan ketika kami masih bocah pun, kami tidak pernah akur barang sekalipun." Raja mencebikkan bibirnya.


"Memangnya kalian ada hubungan apa?" tanya Farra heran karena sampai saat ini ia tidak tahu apa permasalahan Raja dan Zian yang sebenarnya.


"Dia sepupuku, Farra. Ayahku dan Tante Jayda, mendiang Ibunya Raja adalah Kakak beradik. Namun, sayangnya aku dan Raja tidak pernah akur, bahkan hingga saat ini," tutur Zian sembari melirik Raja yang masih berdiri di sampingnya.


Zian melirik lengan Raja yang terulur di hadapannya kemudian kembali menatap wajah lelaki itu sambil tersenyum. "Tentu saja, Raja. Aku pun ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Baik itu disengaja maupun tidak disengaja," sahut Zian sembari menyambut uluran tangan Raja.


"Nah, begitu donk. Kan enak dilihatnya." Farra tersenyum lebar menatap kedua lelaki yang akhirnya memutuskan untuk berdamai tersebut.


"Oh ya, hampir saja aku lupa." Raja menghampiri tempat tidur Farra kemudian berdiri di antara Zian dan wanita itu. Zian mencoba bangkit dari tempat duduknya dan ingin mempersilakan Raja untuk menggantikan posisinya. Namun, Raja menolak dan ia meminta agar Zian tetap pada posisinya, duduk di samping tempat tidur Farra.


"Zian, hari ini aku ingin kamu menjadi saksi." Raja tersenyum sembari meraih tangan Farra kemudian menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Zian sempat melirik tangan Raja dan Farra yang saling bertaut untuk beberapa detik. Namun, setelah itu tatapannya pun kembali kepada Raja. Lelaki itu membuang napas panjang sembari menyunggingkan sebuah senyuman.


Zian berpikir bahwa Raja ingin dirinya menjadi saksi bersatunya mereka kembali. Apalagi saat ini Raja juga sudah berubah dan kelahiran bayi mungil yang masih terlelap di pelukan Zian, semakin menyempurnakan kebahagiaan mereka berdua.


"Lanjutkan," sahut Zian.


"Hari ini aku melepaskan Farra. Sekarang, antara aku dan Farra sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi."


Raja meraih sebelah tangan Zian kemudian meletakkan tangan lelaki itu di atas tangan Farra. "Hari ini aku serahkan Farra padamu, Zian. Hanya kamu yang bisa mencintai dan menyayangi Farra tanpa mempedulikan bagaimanapun keadaannya. Dan aku juga yakin bahwa tidak ada yang dapat menandingi besarnya kasih sayangmu terhadapnya, termasuk aku sendiri."


"A-apa maksudmu, Raja? Aku tidak mengerti," tanya Zian dengan wajah kebingungan menatap Raja.


"Menikahlah dengan Farra, Zian. Karena Farra adalah wanita yang baik begitupula dirimu dan kalian pantas mendapatkan kebahagiaan itu," tutur Raja.


Zian masih bingung. Ia menoleh kepada Farra dan bertatap mata dengan wanita itu untuk beberapa saat. "Aku kira kalian--"


"Tidak, Zian." Raja terkekeh pelan kemudian berbisik di samping telinga Zian. "Apa kamu tidak tahu bahwa wanita yang sedang duduk di depanmu ternyata jatuh cinta padamu."


"Benarkah?" tanya Zian dan Raja pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hangat. "Ya, Zian. Itu benar."

__ADS_1


...***...


__ADS_2