
Beberapa hari kemudian.
"Raja, apa kamu akan terus seperti ini? Kalau seperti ini terus mending kita pisah aja sekalian!" kesal Vania karena Raja masih saja menolak wanita itu mendekatinya.
Raja menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sendiri bingung kenapa indera penciumannya masih saja bermasalah. Padahal ia sudah memeriksakannya ke Dokter dan hasilnya baik-baik saja.
"Vania sayang, ini bukanlah kehendakku! Aku pun tidak ingin seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak sanggup jika kamu mendekat, aroma tubuhmu membuat kepalaku semakin sakit."
"Kamu benar-benar sudah gila!"
"Vania!" panggil Raja.
Vania yang merasa sangat kesal segera meninggalkan ruangan itu sambil terus menggerutu. Kini tujuan utama Vania adalah Farra. Ia ingin membicarakan sesuatu yang serius bersama gadis itu.
"Dimana Farra!" tanya Vania pada salah satu pelayan yang sedang bersih-bersih di bawah tangga.
"Sepertinya Farra masih berada di kamarnya, Nona Vania."
Vania terus melangkahkan kakinya menuju kamar gadis itu. Kamar yang letaknya jauh di ujung ruangan. Kamar paling kecil dan sempit dari kamar-kamar pelayan lainnya.
"Jangan sampai itu benar dan jika itu benar, aku harus mengambil sikap secepatnya sebelumnya sesuatu yang aku takutkan terjadi!" gumam Vania sambil terus melangkahkan kakinya menuju kamar Farra.
Setibanya di depan kamar gadis itu, Vania segera menggedor pintu tersebut dengan sangat keras. Farra yang baru saja selesai berpakaian, terperanjat mendengarnya.
"Farra, buka pintunya!" ucap Vania sambil terus menggedor pintu kamar Farra.
Dengan langkah cepat, Farra menghampiri pintu kemudian membukanya. "Ada apa, Nona?" tanya Farra dengan wajah bingung menatap Vania.
Vania mendorong pintu kamar Farra dengan kasar kemudian masuk ke dalam kamar gadis itu. Farra memundurkan langkahnya ketika Vania menerobos masuk.
Setelah menutup pintu kamar itu kembali, Vania menghampiri Farra dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, Farra. Dan aku harap kamu berkata jujur!" ucapnya.
"A-apa itu, Nona?" tanya Farra dengan terbata-bata.
"Apa kamu dan Raja pernah berhubungan layaknya suami dan istri?" tanya Vania dengan wajah serius menatap Farra.
Deg!
Farra bingung bagaimana menjawabnya. Apakah dia harus berkata jujur atau berkata bohong. Jika ia berkata jujur, ia yakin sekali pasti akan ada masalah baru yang akan menghampirinya. Farra tidak ingin mengambil resiko maka dengan terpaksa ia pun memilih untuk berkata bohong.
"Tidak pernah, Nona," sahut Farra dengan gemetar.
Raut wajah Vania masih tidak berubah. Tetap sinis dan sepertinya ia tidak mempercayai kata-kata Farra saat itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis.
"Aku tahu kamu sedang bohong, Farra! Sekarang ikutlah denganku!"
Vania menarik tangan Farra dengan kasar keluar dari ruangan sempit tersebut. Farra mencoba melepaskan tangan wanita itu tetapi tidak berhasil.
"Aku ingin membuktikan ucapanmu, Farra. Dan semoga kamu berkata jujur!"
Vania terus menarik tangan Farra hingga ke halaman depan. Semua pelayan yang melihat kejadian itu nampak kebingungan, begitupula Bu Eni. Sebenarnya ia ingin sekali menolong gadis itu, tetapi Bu Eni tidak berani berurusan dengan istri dari majikannya itu.
"Masuk!" titah Vania sembari membuka pintu mobilnya dan mendorong tubuh Farra dengan kasar agar memasuki mobil tersebut.
Farra nampak kesakitan tetapi ia tidak berdaya melawan karena beberapa hari ini tubuhnya semakin melemah, entah apa sebabnya Farra pun tidak mengerti.
Setelah berhasil memasukkan tubuh Farra ke dalam mobil, Vania pun segera menyusul dan meminta sopir pribadinya untuk mengantarkan mereka ke Dokter kandungan. Dokter yang memeriksa kondisi rahimnya dulu.
"Kita mau kemana, Nona?"
"Ke suatu tempat yang akan membuktikan kebenaran dari ucapanmu," sahut Vania.
__ADS_1
Di perjalanan, Vania tidak bicara sepatah katapun lagi. Begitupula Farra, ia hanya diam dan sesekali melirik Vania yang duduk di sampingnya dengan pandangannya tetap fokus ke arah depan.
"Sebenarnya kemana Nona Vania akan membawaku? Semoga dia tidak mempunyai niat jahat padaku. Ya Tuhan, aku takut sekali!" batin Farra.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba di depan tempat praktek Dokter Kandungan tersebut. Vania kembali memaksa Farra untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu dengan cara menariknya seperti tadi.
"Masuk!" titah Vania.
"Nona Vania?"
Tepat di saat itu, Dokter pemilik tempat praktek tersebut menyambut kedatangan mereka. Dokter itu bingung ketika menyaksikan Vania menarik paksa Farra untuk mengikutinya.
"Eh, Dokter." Vania melepaskan dengan kasar tangan Farra.
"Silakan masuk," ucap Dokter.
Vania menarik sebuah kursi dan mengisyaratkan kepada Farra agar ia duduk di sana. Farra pun duduk di kursi tersebut kemudian disusul oleh Vania yang kini duduk di sampingnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Dokter tersenyum hangat menatap Vania dan Farra secara bergantian.
"Dok, tolong periksa gadis ini. Aku ingin tahu apa benar dia sedang hamil," sahut Vania.
Farra sontak menoleh kepada Vania dengan tatapan heran. "Hamil?"
"Sebenarnya aku bisa saja memeriksa kehamilanmu dengan menggunakan test pack. Tapi tidak, aku terlalu jijik!" ketus Vania sambil menatap Farra dengan tatapan kesal.
Dokter tersenyum mendengar ucapan Vania. Ia bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Farra. "Baiklah. Mari, Nona."
Farra pun menurut saja dan membiarkan Dokter itu mulai memeriksanya.
"Ya Tuhan, kenapa Nona Vania sampai berpikiran bahwa aku hamil? Dan bagaimana jika itu benar? Apa yang akan dilakukan oleh Nona Vania kepadaku?" batin Farra.
__ADS_1
...***...