Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Ulang Tahun Zian


__ADS_3

"Hai, Aksa!"


Zian yang baru saja keluar dari mobil, melangkah menghampiri Aksa yang sudah menunggu kedatangannya. Bocah tampan itu berdiri di depan pintu rumah sambil tersenyum lebar menatap Zian.


"Kak Farra, Om Zian sudah datang!" teriak Aksa.


Aksa meraih tangan Zian yang kini sudah berada di hadapannya kemudian menuntun lelaki itu masuk ke dalam rumah. Bagi Aksa, Zian sudah seperti Kakak sekaligus Ayah. Kasih sayang dan perhatian tulus yang di berikan oleh Zian, membuat Aksa merasa sangat nyaman jika berada di samping lelaki itu.


"Di mana Kak Farra?" tanya Zian.


"Sedang memasak sesuatu untuk Om Zian."


"Benarkah? Masak apa, nasi goreng?" Membayangkan nasi goreng buatan Farra saja, Zian sudah ngiler dan hampir saja air liurnya keluar. Aksa bahkan sampai terkekeh melihat ekspresi Zian saat itu.


"Ih, Om ngiler, ya!" seru Aksa.


Setibanya di dapur, Zian membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tersenyum lebar ketika melihat sebuah tumpeng berukuran kecil berdiri kokoh di atas meja makan.


"Wah, ada pesta rupanya!" seru Zian.


Farra menghampiri Zian sambil tersenyum hangat. Ia membawa sebuah kue ulang tahun berukuran kecil dengan sebuah lilin yang sedang menyala di atasnya.


"Selamat ulang tahun, Kak Zian," ucap Farra.


Farra meletakkan kue tersebut tepat di hadapan Zian agar lelaki itu segera meniup lilinnya. Tepuk tangan dan sorak-sorai dari Aksa terdengar memenuhi ruangan setelah Zian berhasil meniup lilin tersebut.

__ADS_1


Zian nampak terharu. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Farra tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sedangkan Zian sendiri lupa bahwa hari ini adalah hari kelahirannya.


"Dari mana kamu tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?" tanya Zian sambil tersenyum menatap Farra yang masih berdiri di hadapannya.


"Dulu, aku tidak sengaja melihat KTP-mu, Kak. Dan ternyata hari ini adalah hari ulang tahunmu. Selamat ya, Kak."


"Terima kasih, Farra."


"Ayo, Om! Potong kuenya," seru Aksa yang sudah tidak sabar ingin mencicipi kue tersebut.


"Ok, baiklah."


Zian meraih pisau kue yang diberikan oleh Farra kemudian memotong kue tersebut. Potongan pertama, Zian berikan untuk Aksa karena ia tahu bocah itu sudah tidak sabar ingin mencicipinya. Sedangkan potongan kedua, ia serahkan untuk Farra.


"Buka mulutmu, Farra."


Zian terus memperhatikan Farra yang sedang mengisi piring kosong dengan tumpeng tersebut. Ia bahkan tidak berkedip sedikitpun saat menatap gadis itu. Gadis sederhana dengan sejuta pesona yang mampu meluluhkan hatinya.


Acara ulang tahun sederhana itupun selesai. Perut mereka sudah kenyang, apalagi Aksa. Bocah tampan itu bahkan tidak bisa berlari-larian lagi karena perutnya yang terasa sangat penuh. Sekarang mereka bertiga duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton TV.


"Farra ...."


"Ya?" Farra menoleh kemudian tersenyum kepada lelaki itu.


"Kemarin aku berkunjung ke kediaman orang tuaku. Mereka bilang ada sesuatu yang penting, yang ingin mereka bicarakan. Kamu tau apa yang mereka bicarakan?" ucap Zian.

__ADS_1


Farra menggelengkan kepalanya pelan. "Apa?"


"Mereka membicarakan soal pernikahanku, Farra. Ternyata aku dijodohkan dan mereka ingin aku menikahi seorang gadis yang bernama Sameera. Anak perempuan dari Tuan Khalid, salah satu kerabat Ayah yang tinggal di Dubai."


Seketika raut wajah Farra berubah. Senyuman manis yang tadinya terus mengambang, mendadak sirna. "Menikah? Jadi ... Kak Zian akan segera menikah?"


Perlahan Zian menganggukkan kepalanya sambil terus memperhatikan ekspresi Farra saat itu. Farra tersenyum kecut kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Untuk beberapa saat ruangan itu menjadi hening.


Baik Zian maupun Farra masih sama-sama diam. Hanya suara televisi yang terdengar menggema di dalam ruangan itu. Hingga akhirnya,


"Sebaiknya aku istirahat dulu, Kak. Aku lelah," ucap Farra tiba-tiba.


Farra bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkah menuju kamar. Ia bahkan tidak mempedulikan Zian dan Aksa yang masih berada di ruangan itu.


"Kak Farra kenapa?" tanya Aksa ketika melihat Farra melenggang begitu saja, meninggalkan dirinya tanpa permisi.


"Entahlah," sahut Zian sambil mengangkat kedua pundaknya. "Apa mungkin Kak Farra marah sama Om?" lanjut Zian sambil menautkan kedua alisnya menatap Aksa.


"Memangnya Om bilang apa sama Kak Farra?" tanya si kecil itu penasaran.


"Bukan apa-apa," sahut Zian seraya mengacak pelan puncak kepala Aksa.


Zian tersenyum tipis sambil memperhatikan pintu kamar Farra yang kini tertutup rapat. Ada rasa bahagia di hatinya saat melihat Farra bersikap seperti itu.


"Apa Farra menyukaiku? Jika itu benar, maka aku akan bahagia sekali," batin Zian.

__ADS_1


...***...


__ADS_2