Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Peraturan Baru Tuan Raja


__ADS_3

"Astaga, kakiku masih saja bengkak."


Farra duduk bersandar di dinding kamar sambil memijit kakinya yang masih sakit. Ia meringis kesakitan. Sudah dua hari Farra menahan rasa sakit di kakinya tanpa bisa melakukan apa-apa.


Semua orang yang ada di rumah megah itu juga tidak peduli padanya. Padahal mereka tahu dan melihat dengan mata kepala mereka bahwa gadis itu berjalan dengan terpincang-pincang. Jangankan membantu, sekedar bertanya pun tidak.


Perlahan Farra bangkit dari posisi duduknya kemudian melangkah keluar dari kamar tersebut menuju dapur. Para pelayan sudah terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, termasuk Bu Eni, Kepala Pelayan di rumah itu.


Bu Eni menatap Farra yang baru saja tiba di ruangan itu dengan mata membulat sempurna.


"Aku tidak tahu apa istimewanya dirimu dibanding pelayan lain di rumah ini. Coba lihat, semua teman-temanmu sudah bekerja. Kamu malah berlagak seperti boss datang dan pergi sesuka hatimu," gerutu Bu Eni.


"Maaf," sahut Farra.


"Maaf-maaf! Sudah, cepat sana bantu mereka menyiapkan sarapan! Ini sudah terlambat," titah Bu Eni seraya menunjuk ke arah para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Tuan Raja dan Nona Vania.


Farra segera bergabung bersama mereka walaupun reaksi para pelayan itu masih sama seperti kemarin-kemarin. Mereka tetap acuh tak acuh dan tak menganggap keberadaannya. Namun, walaupun begitu, Farra tetap melakukan tugasnya dengan baik hingga selesai.


Tidak berselang lama, Tuan Raja tiba di ruang makan bersama sang istri yang sedang bergelayut manja di lengan kekar lelaki itu. Kondisi wanita itu sudah mulai membaik walaupun saat ini wajahnya masih terlihat memucat.

__ADS_1


Raja menarik sebuah kursi untuk Vania duduki. Setelah wanita itu duduk, ia pun segera menyusul dan duduk di kursinya. Para pelayan mulai melayani pasangan itu dengan pelayan terbaik mereka.


Farra tak ingin menghampiri pasangan itu dan ia pikir, menghindar dari pasangan itu adalah yang jalan yang terbaik untuknya.


Namun, pikirannya tidak sejalan dengan keinginan Bu Eni. Wanita itu menghampiri Farra kemudian memerintahkannya untuk membantu yang lain, melayani Tuan Raja dan Nona Vania di ruang makan.


"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak lihat, semua temanmu sedang melayani Tuan Raja dan Nona Vania disana!" Bu Eni dengan mata membesar menatap Farra sambil menunjuk ke arah pelayan yang sedang sibuk melayani pasangan itu.


"Tapi, Bu ...."


Farra mencoba menolak tetapi Bu Eni tidak peduli dan tidak ingin tahu apapun alasan gadis itu. Bu Eni tetap bersikeras memerintahkan Farra untuk membantu para pelayan itu.


Mau tidak mau, Farra pun terpaksa melangkahkan kakinya yang masih sakit menuju ruangan itu. Tatapan Raja dan Vania kini tertuju pada Farra yang berjalan menghampiri meja makan dengan terpincang-pincang.


Raja mengangkat tangannya ke atas dan membuat semua pelayan menghentikan pekerjaan mereka. Begitupula Farra, gadis itu menghentikan langkahnya kemudian memperhatikan Raja yang saat itu sedang menatapnya dengan sinis.


"Dengarkan ini baik-baik! Ini berlaku untuk kalian semua yang bekerja disini!" ucapnya dan membuat semua pelayan memasang telinga mereka dengan benar.


"Mulai hari ini, jangan biarkan dia membantu kalian mempersiapkan makanan untukku dan juga Vania. Aku tidak ingin menyentuh apalagi memasukkan makanan yang sudah ia sentuh ke dalam tenggorokanku. Kalian mengerti!" tutur Raja sambil menunjuk ke arah Farra.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" sahut mereka serempak.


Semua pelayan begitu terkejut mendengar ucapan dari Tuan Raja. Sontak saja mereka menatap ke arah Farra dengan tatapan bingung. Sedangkan Vania tersenyum puas karena Raja benar-benar membuktikan bahwa dirinya benar-benar tidak menyukai gadis itu.


Tubuh Farra bergetar. Ia tidak menyangka Tuan Raja akan berkata seperti itu. Farra benar-benar merasa terhina. Seolah-olah dirinya memiliki penyakit menular yang akan menulari mereka jika disentuh olehnya.


"Sebaiknya kamu keluar dari sini! Aku tidak ingin selera makanku hilang karena melihat wajahmu itu. Dasar gadis kampung!" ucap Vania sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Perlahan Farra memundurkan langkahnya kemudian berbalik dan kembali menyeret kakinya keluar dari ruangan itu. Hatinya benar-benar sakit. Penghinaan yang Tuan Raja lakukan membuat dadanya terasa sangat sesak. Farra pun terlihat kesusahan saat menarik napasnya.


"Ya, Tuhan! Mengapa lelaki itu menikahiku jika diriku terlihat begitu menjijikan bagi dirinya," batin Farra.


Raja juga memanggil Bu Eni selaku Kepala Pelayan di rumahnya. Ia meminta Bu Eni untuk memberikan gadis itu tugas di luar ruangan dapur.


"Ingat, Bu Eni! Aku tidak ingin gadis itu menyentuh makanan ataupun bahan makanan yang akan kalian sajikan untuk aku dan istriku."


"Baik, Tuan. Saya mengerti," sahut Bu Eni.


Bu Eni menatap Farra dari kejauhan. Entah mengapa terbesit rasa iba di hatinya setelah gadis itu mendapatkan perlakuan seperti itu dari kedua majikannya tersebut.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa gadis itu? Dan kenapa Tuan Raja terlihat begitu membencinya?" batin Bu Eni.


...***...


__ADS_2