Selir Tuan Raja

Selir Tuan Raja
Ancaman Tuan Raja


__ADS_3

Disela istirahat siangnya, Ivan masih menyempatkan diri untuk menemui Dokter langganannya. Ia menceritakan bagaimana kondisi kaki Farra kepada Dokter tersebut.


Beruntung Dokter mengerti dan ia pun segera memberikan resep obatnya kepada Ivan. Setelah menebus obat tersebut, Ivan kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya.


Sore menjelang.


Setelah mengantarkan Tuan Raja ke kediaman mewahnya, Ivan bergegas menemui Farra yang masih bergelut dengan pekerjaannya secara diam-diam.


Ancaman Tuan Raja tadi pagi membuat nyali Ivan sedikit menciut. Bukan karena ia takut dipecat, tetapi ia takut Farra akan menjadi bulan-bulanan lelaki itu.


"Farra, maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku. Tuan Raja sama sekali tidak mengizinkan aku memanggilkan Dokter itu untukmu. Jadi, dengan sangat terpaksa aku hanya bisa menebus obat ini. Tapi kamu tenang saja, kata Dokter ini adalah obat terbaik dan paling 2-3 hari ke depan, kakimu akan kembali seperti semula," kata Ivan.


Mata Farra berkaca-kaca menatap Ivan yang sedang berdiri di hadapannya. Ia tidak tahu bagaimana cara membalas jasa-jasa lelaki itu.


"Ya, Tuhan ... aku tidak tahu harus berkata apa, Tuan Ivan. Aku juga tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu padaku."


"Cukup minum obat itu dengan teratur, itu sudah cukup bagiku. Karena dengan begitu, artinya kamu sudah menghargai bantuanku yang tidak seberapa ini," ucap Ivan sambil menepuk pelan pundak Farra.


"Tentu saja, Tuan. Aku pasti akan meminum obat ini dengan teratur. Dan terima kasih banyak aku ucapkan atas semua bantuanmu."


"Sama-sama."


Ivan menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan Tuan Raja tidak ada di sekitar tempat itu. "Baiklah, sebaiknya aku pulang. Jaga dirimu baik-baik, Farra."

__ADS_1


"Ya, Tuan. Terima kasih," ucap Farra sembari memasukkan obat pemberian Ivan ke dalam saku pakaiannya.


Sepeninggal Ivan, Farra kembali ke kamarnya kemudian menyimpan obat tersebut ke bawah bantalnya. Setelah melakukan ritual mandi dan berpakaian, Farra mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


Ia bersandar di dinding kamar dengan meluruskan kedua kakinya yang masih sakit. Farra teringat akan obat yang diberikan oleh Ivan yang ia simpan di bawah bantalnya.


"Ah iya, obat itu. Hampir saja aku lupa," gumam Farra seraya mengambil obat tersebut dari bawah bantalnya. Setelah membaca petunjuk yang tertera di kemasan obat tersebut, Farra pun segera meneguk obatnya.


Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mencoba memejamkan matanya yang sudah mulai terasa berat.


Sementara itu di kamar utama, dimana Raja masih duduk termenung di tepian tempat tidur sambil memikirkan kebersamaan Ivan dan Farra tadi pagi. Wajahnya terlihat sangat kesal dan ia berpikir ingin segera menemui gadis itu di kamarnya.


"Aku harus menemui Farra dan gadis itu harus diperingati, kalau tidak ia pasti akan mengulangi perbuatannya itu!" gumam Raja.


Tanpa pikir panjang, Raja pun segera bangkit dan keluar dari kamarnya. Vania yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, menatap heran kepada suaminya yang pergi dari kamar mereka dengan tergesa-gesa.


Baru saja Farra terlelap ke alam mimpi, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara pintu yang sengaja di dorong dengan sangat keras.


Brakkk!


Sontak gadis itu bangkit dari tempat tidur kemudian bersandar di dinding kamar sambil memegangi dadanya. Jantung Farra berdetak dengan sangat kencang dan seluruh tubuhnya terasa lemah.


Farra menatap Raja yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan wajah kesal. Ia tidak tahu kesalahan apalagi yang ia perbuat hingga lelaki itu terlihat sangat marah kepadanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan bersama Ivan tadi pagi, ha? Katakan dengan jujur karena jika kamu berani berbohong padaku maka aku tidak akan segan-segan menghukummu, Farra," bentaknya seraya menghampiri gadis itu.


Tubuh Farra bergetar hebat, apalagi lelaki dengan wajah beringas itu begitu dekat dengannya. "Ka-kami tidak melakukan apapun, Tu-tuan," sahut Farra dengan bibir bergetar.


"Bohong!" teriak Raja di samping telinga Farra sambil memukul dinding dimana gadis itu sedang bersandar.


Farra menggelengkan kepala dengan mata terpejam. Saat ini ia sudah pasrah apapun yang akan Raja lakukan kepadanya.


"Saya tidak bohong, Tuan. Saya dan Tuan Ivan hanya bicara saja."


Raja tertawa sinis sambil terus menatap wajah Farra yang kini hanya berjarak beberapa centi dari tubuhnya.


"Apa kamu kira aku bodoh hingga tidak tahu bahwa lelaki itu sudah berani menyentuh kakimu, huh? Beruntung malam ini aku masih berbaik hari padamu, Farra. Jika tidak, aku bisa saja mematahkan kakimu itu!" ancam Raja penuh tekanan.


Farra sudah berusaha semampunya untuk tidak menangis di hadapan lelaki itu. Namun, rasa sakit yang ia rasakan saat ini, membuat gadis itu tidak bisa membendung cairan bening tersebut untuk tidak jatuh dari sudah matanya yang masih terpejam.


"Ingat, Farra! Kali ini aku mengampuni kesalahanmu, tapi jika lain kali kamu biarkan dirimu di sentuh oleh laki-laki lain, terutama Ivan! Maka aku berjanji tidak akan segan-segan menghukummu! Kamu dengar itu?!" lanjut Ivan sambil meraih wajah Farra yang tertunduk.


Farra mengangguk dengan cepat dan berharap lelaki itu cepat pergi dari kamarnya.


"Bagus! Jadilah istri yang baik, Farra. Dan turuti apa kataku."


Raja melepaskan wajah Farra dengan kasar kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Tubuh Farra jatuh, ia menangis sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

__ADS_1


Malam itu Farra terus berjaga-jaga. Ia bahkan sampai menahan rasa kantuknya karena takut Tuan Raja kembali lagi dan melakukan hal yang tidak ia inginkan.


...***...


__ADS_2