
"Tuan Raja, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ucap salah seorang Pelayan yang kini berdiri di depan pintu kamar bekas milik Farra.
Ya, sejak hari itu Tuan Raja memutuskan untuk tidur di kamar Farra. Ia merasa menjadi lebih baik saat berada di kamar itu. Sakit kepala yang ia rasakan mulai sedikit berkurang dan nafsu makannya pun sudah ada sedikit kemajuan.
Menu apapun bisa masuk ke dalam perutnya walaupun masih dalam porsi sedikit-sedikit. Ya, paling tidak Raja tidak perlu merasakan kelaparan lagi sama seperti sebelumnya.
Perlahan Raja membuka mata kemudian menatap pelayan itu dengan seksama.
"Siapa dan mau apa?" tanya Raja seraya bangkit dari posisinya kemudian duduk bersandar di dinding kamar milik Farra.
"Dia bilang namanya Leo, dan dia ingin melamar menjadi asisten pribadi Anda, Tuan," sahut Pelayan itu dengan kepala tertunduk karena Tuan Raja terus memperhatikannya tanpa berkedip sedikitpun.
Raja terdiam sejenak, sebelum ia memutuskan untuk segera menemui lelaki yang bernama Leo tersebut. Raja melangkahkan kakinya menuju ruang utama, dimana lelaki itu sudah menunggunya.
Lelaki yang bernama Leo tersebut tersenyum hangat menyambut kedatangan Tuan Raja. Ia segera mengulurkan tangannya kepada Raja kemudian memperkenalkan dirinya dengan baik dan sopan.
"Nama saya, Leo Akhtar Pramudja. Anda bisa memanggil saya, Leo. Saya ke sini setelah di perintahkan oleh Sekretaris Anda untuk menemui Anda langsung ke tempat ini," ucapnya dengan senyum semringah.
Raja menganggukkan kepalanya pelan seraya menyambut uluran tangan lelaki itu. Setelah itu, ia pun duduk di sofa sambil bersandar dan menatap lelaki yang bernama Leo tersebut dengan seksama.
Ya, dia memang sangat membutuhkan seseorang untuk menggantikan posisi Ivan yang sudah mengundurkan diri. Apalagi Raja masih belum bisa kembali ke kantor sama seperti biasanya akibat penyakit tidak jelas, yang sedang ia alami saat ini.
"Duduklah," titah Raja seraya memerintahkan lelaki itu untuk duduk di sofa yang terletak berseberangan dengannya.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Leo menjatuhkan dirinya di tempat yang ditujukan oleh Raja untuknya.
"Boleh aku lihat berkas-berkas lamaranmu?" ucap Raja seraya mengulurkan tangannya meminta berkas yang ia inginkan kepada lelaki itu.
"Baik. ini, Tuan."
Leo menyerahkan berkas itu kepada Raja dan Raja pun mulai memeriksanya dengan seksama. Ia tersenyum tipis setelah mengetahui bahwa pendidikan terakhir dan pengalaman kerja lelaki itu jauh lebih baik dari pada Ivan.
"Hmm, akhirnya. Kamu lihat, Ivan! Tidak sulit mencari seseorang seperti dirimu bahkan lebih baik dari dirimu," batin Raja.
"Baiklah, mulai hari ini kamu bisa memulai pekerjaanmu, Leo." Raja menyerahkan kembali berkas-berkas milik lelaki itu.
Mendengar ucapan Raja, Leo benar-benar merasa sangat senang karena ia bisa mendapatkan pekerjaannya dengan sangat mudah.
"Tapi ingat satu hal, Leo. Sekali saja kamu melakukan kesalahan, aku tidak akan memberikan kesempatan yang ke dua untuk memperbaiki kesalahanmu," sambung Raja sambil menyeringai licik menatap lelaki yang usianya kurang lebih dengan usianya.
"Baik, Tuan Raja. Saya akan selalu mengingatnya dan melakukan yang terbaik untuk Anda."
Raja memberikan tugas pertama kepada lelaki itu untuk segera terjun ke perusahaan miliknya. Setelah mendapatkan tugas itu, Leo pun pamit dan pergi dari kediaman Tuan Raja menuju perusahaannya.
Setelah kepergian Leo, Vania yang baru saja keluar dari kamarnya, segera menghampiri Raja yang masih duduk di ruangan itu.
"Siapa lelaki itu? Orang barumu?" tanya Vania sambil menyilangkan tangannya ke dada dan menatap Raja dengan tatapan malas.
__ADS_1
"Ya, dia menggantikan posisi Ivan yang mengundurkan diri," sahut Raja.
"Baguslah kalau begitu. Paling tidak ada tangan kananmu yang mengurus semua tugas-tugasmu. Jadi, kamu bisa fokus pada penyakit anehmu itu, Raja. Dan aku harap penyakit itu segera menghilang dari tubuhmu. Karena semakin hari sikapmu itu semakin membuatku muak," ucap Vania yang kini melanjutkan langkahnya menuju halaman depan dan bersiap pergi meninggalkan kediaman mewahnya itu.
"Vania!" panggil Raja.
Namun, wanita itu tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya kemudian masuk ke dalam mobil. Sementara Raja hanya bisa menatap Vania dari kejauhan bahkan hingga mobil yang ditumpangi oleh wanita itu menghilang dari pandangannya.
"Huft, maafkan aku, Vania. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Kamu pasti sangat kesal padaku, tapi ... aku tidak berdaya. Semua ini bukanlah keinginanku," gumam Raja.
Setelah Vania menghilang dari pandangannya, Raja kembali ke kamar barunya, kamar bekas milik Farra.
Sementara itu di kediaman Zian.
"Semoga hari ini kueku laku keras lagi ya, Kak!" ucap Farra sambil tersenyum hangat. Seperti kemarin, hari inipun Farra mengantarkan kepergian Zian yang ingin berangkat ke perkebunan.
"Ya. Ehm ... Farra, jika Pak Anton tiba-tiba datang berkunjung di saat aku tidak berada di sini, sebaiknya kamu diam saja di rumah dan tidak usah di persilakan masuk. Aku takut ia melakukan sesuatu yang tidak diinginkan," tutur Zian dengan wajah serius menatap Farra.
"Baik, Kak," sahut Farra.
"Baguslah." Zian mengusap lembut tangan Farra yang sedang memegang pintu mobilnya yang masih terbuka dengan lembut sambil tersenyum hangat. Setelah itu iapun segera pergi meninggalkan kediamannya.
...***...
__ADS_1