
"Mari."
Lelaki itu membuka pintu mobil Pick Up tersebut kemudian mempersilakan Farra dan Aksa untuk masuk. Setelah kakak beradik itu masuk, ia pun segera menyusulnya.
Ia kembali tersenyum sambil memperhatikan Farra yang hanya diam seribu bahasa sejak ia mengajak mereka makan siang bersama.
"Jangan khawatir, Nona. Aku berjanji tidak akan menyakiti kalian. Ehm, kenalkan namaku Zian. Dan kamu?"
"Namaku Aksa, Om, dan ini Kak Farra, Kakaknya Aksa," sahut Aksa sambil tersenyum lebar.
"Wah, nama kalian bagus-bagus! Aksa dan Kak Farra," sahut lelaki itu, masih melirik Farra yang masih diam.
"Maafkan kami karena sudah merepotkan Anda, Tuan Zian," ucap Farra yang tiba-tiba membuka suaranya.
Farra diam karena sebenarnya ia merasa malu dan merasa tidak enak karena sudah menyusahkan lelaki itu.
"Kenapa harus meminta maaf, Farra. Bukankah tadi kamu sudah membantuku dan anggap saja aku sedang membalas jasa-jasamu."
Farra menoleh ke arah lelaki itu sambil tersenyum kecut. "Terima kasih, Tuan Zian."
"Berhentilah menyebutku dengan sebutan Tuan, Farra. Panggil saja aku Zian dan kalau kamu merasa aku terlalu tua, kamu bisa panggil aku dengan sebutan Kak Zian," sahut lelaki itu sambil tertawa lepas.
Ya, lelaki itu mungkin lebih dewasa jika di bandingkan dengan Tuan Raja. Namun, wajah lelaki itu tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan lelaki berkuasa itu.
"Baik, Kak Zian."
__ADS_1
"Ehm, sebenarnya kalian ini dari mana, mau kemana?" tanya Zian sambil memperhatikan barang bawaan Farra yang lumayan banyak.
Farra terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya. Ia sendiri tidak tahu tujuannya setelah ini. Karena Farra tidak juga menjawab pertanyaan Zian, si kecil Aksa malah dengan lancar menjawab dari pertanyaan lelaki itu.
"Kata Kak Farra kami akan pergi ke suatu tempat, di mana kami lebih dihargai. Benar 'kan, Kak?" Aksa menatap wajah sendu Farra yang masih tertunduk.
Zian mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban dari Aksa. Sekarang ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, yang terjadi kepada kakak beradik itu.
"Apa Om tau di mana tempat itu? Apa tempatnya masih jauh, Om? Aksa sudah lelah diajak Kak Farra berjalan kaki, bolehkah Aksa dan Kak Farra ikut numpang mobilnya Om untuk menuju tempat itu. Tempat yang--"
Celetukan Aksa tertahan saat Farra menutup mulut bocah tampan itu dengan tangannya. "Maafkan adikku, Kak. Dia kalau sudah bicara, sulit untuk berhenti," ucap Farra.
Aksa menepis tangan Farra. "Tapi Aksa benar 'kan, Kak?" protes Aksa sambil menekuk wajahnya.
Zian tersenyum kemudian mengacak pelan puncak kepala bocah tampan itu. "Ya, kamu boleh ikut numpang mobilnya Om. Tapi, tidak apa-apa 'kan kalau mobilnya jelek."
"Aksa," tegur Farra karena Aksa sudah mulai berceloteh tanpa henti.
Zian terdiam sejenak setelah mendengar Aksa menyebut nama Tuan Raja. Namun, hanya sebentar dan ia pun kembali tersenyum sambil menatap wajah bocah itu.
Tidak berselang lama mobil yang dikemudikan oleh Zian pun berhenti tepat di depan sebuah warung makan sederhana yang letaknya pinggir jalan.
"Tidak apa 'kan makannya di pinggir jalan? Soalnya di sekitar sini tidak ada rumah makan apalagi restoran," ucap Zian sambil terkekeh pelan.
"Ya ampun, Kak Zian. Bisa makan di tempat ini saja, kami sudah sangat berterima kasih," sahut Farra yang nampak sungkan.
__ADS_1
Zian meraih tubuh mungil Aksa kemudian membawa bocah itu bersamanya memasuki warung makan tersebut. Sedangkan Farra mengikutinya dari belakang.
"Nah Aksa, sekarang kamu mau makan apa? Pilih saja apapun yang Aksa suka," ucap Zian kepada Aksa yang kini sedang berada di pangkuannya.
"Benarkah, Om?" tanya Aksa sambil tersenyum lebar.
"Ya," jawab Zian.
"Jangan, Aksa. Biarkan Om Zian yang memilihnya," sela Farra yang benar-benar
merasa tidak nyaman.
"Tidak apa, Farra. Biarkan Aksa memilih makanannya dan kamu juga, pilihlah apapun yang kamu suka." Zian tersenyum hangat menatap Farra sembari menepuk pundak gadis itu dengan lembut.
Farra tidak berani memilih walaupun Zian sudah menyuruhnya. Sedangkan Aksa sudah memilih makanan favoritnya yaitu ayam goreng.
"Sudah, ada yang lain lagi?" tanya Zian kepada Aksa yang masih berada di pengakuannya.
"Sudah, Om. Itu sudah cukup. Terima kasih ya, Om," sahut Aksa.
"Ya, sama-sama."
Zian kembali menanyakan menu apa yang ingin dipesan oleh Farra. Namun, lagi-lagi Farra menolak memilihnya dan dengan terpaksa Zian pun memesan menu yang sama untuk mereka bertiga.
Ketika Aksa dan Zian sedang asik menikmati makanan mereka, Farra hanya memandangi piringnya dengan tatapan sedih. Ia memutuskan untuk tidak memakannya. Farra ingin membungkus makanan itu untuk bekal Aksa nanti malam.
__ADS_1
Farra kembali bersedih. Ia bahkan tidak tahu akan tidur di mana malam ini. Sedangkan waktu terus berjalan bahkan tanpa disadari matahari pun sudah mulai menuju ke arah barat.
...***...